Devosi kepada Keluarga Kudus
"Dengan belajar dari keluarga Kudus Nazareth kita mensyukuri kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia yang membawa kasih dan keselamatan," Demikian pesan Mgr. Ignatius Suharyo dalam misa pontifikal yang dipimpinnya di Katedral Jakarta.
Keluarga Kudus adalah Yesus, Maria, dan Yusuf. Relasi keluarga ini sangat harmonis. Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Kita dapat bercermin pada teladan kesetiaan keluarga tersebut. Yusuf seorang yang tulus hati, jujur, dan taat kepada Allah. Ia dengan setia mengasuh Yesus dan mencari nafkah untuk kehidupan keluarganya. Maria adalah wanita bersahaja yang setia. Kesetiaan Maria kepada Allah jelas tidak diragukan lagi. Ia juga isteri yang setia kepada suaminya dan ibu yang setia mendidik serta mendampingi Yesus anaknya. Bahkan ia tetap setia mendampingi Yesus hingga di kayu salib. Sedangkan Yesus sendiri pada masa kanak-kanak berada dalam asuhan Yusuf dan Maria (bdk Luk. 2:51). Walaupun Dia adalah Putera Allah, Ia rela merendahkan diri dan taat dalam asuhan orang tuanya. Keluarga Kudus Nazareth adalah model Keluarga Kristiani.
Keluarga Kudus Nasaret adalah teladan bagi tiap keluarga Kristiani. Cinta dalam keluarga satu sama lain, antara suami-istri dan anak-anaknya didasarkan atas kasih Tuhan pada umat-Nya. Kita bisa belajar dari Keluarga Nazareth dalam upaya menumbuhkembangkan kasih dalam keluarga. Rahasia Perkawinan Kristiani diadakan dalam cinta kepada Kristus. Pria dan wanita yang menikah secara kristiani bertujuan untuk saling mengasihi dalam nama Kristus. Walaupun di dalam berkeluarga selalu ada duka dan sengsara namun ikatan perkawinan itu tak akan putus karena bersumber pada Kristus.
Dalam upaya meneladan Keluarga Kudus itulah maka kemudian timbul Devosi kepada Keluarga Kudus. Devosi ini mulai dikenal sejak tahun 1665, yang kemudian diteguhkan oleh Paus Leo XIII dalam surat apostolik Neminem Fugit (1892) yang menegaskan bahwa keluarga-keluarga Kristiani perlu meneladani dan menimba kebijaksanaan hidup serta nilai-nilai keutamaan dari Keluarga Kudus Nasaret, dan Paus Benedictus XV dalam Motu Proprio Bonum Sane (1920). Keluarga-keluarga Katolik yang melakukan devosi ini dapat memperbaharui dan mengembangkan nilai-nilai keutamaan hidup Kristiani.
Devosi dalam buku ini bisa didoakan bersama, baik dalam keluarga, sebuah paguyuban, dalam doa lingkungan maupun paroki. Kita dapat bersama-sama mendalami Sabda Tuhan, serta merenungkan nasihat-nasihat rohani didalamnya sepert perihal keteladanan Keluarga Kudus, menimba nilai-nilai hidup Kristiani, bekarja sebagai suatu pernyataan kasih dan doa-doa kepada Keluarga Kudus. Dengan devosi ini kita bisa saling berbagi pengalaman hidup iman sehingga saling memperkaya dan meneguhkan iman satu sama lain.
Buku ini dipersembahkan bagi keluarga-keluarga Katolik yang ingin senantiasa menimba berkat, teladan dan keutamaan hidup Kristiani dari Keluarga Kudus Nasareth (px/KD)
Bukunya dapat diperoleh melalui:
http://www.obormedia.com/?q=content/devosi-kepada-keluarga-kudus