Jalan Salib ala St. Josemaria Escriva
Dalam upaya mengenangkan sengsara Kristus untuk lebih menghayati sengsara yang diderita-Nya, banyak umat Katolik melakukan ibadat Jalan Salib. Melalui ulah kesalehan ini mereka bergerak mengikuti saat-saat akhir perjalanan hidup Kristus di dunia dari Getsemani hingga Kalvari dan berakhir pada pemakaman-Nya. Begitu besar devosi mereka akan Sengsara Kristus, sehingga setiap gereja dan tempat-tempat ziarah selalu dibuat stasi-stasi perhentian untuk Jalan Salib. Jalan Salib yang terdiri dari 14 stasi seperti kita kenal sekarang disebarluaskan oleh St. Leonardo dari Mauritio dan disahkan oleh Tahta Apostolik dan beroleh indulgensi, sejak Abad ke-17.
Dengan Jalan Salib kita membangkitkan kenangan yang hidup akan kisah sengsara Kristus di saat-saat terakhir hidupnya. Namun dengan ulah kesalehan ini umat beriman berada dalam harapan akan kebangkian dalam iman, harapan dan kasih.
Ada begitu banyak teks untuk perayaan Jalan Salib yang dapat kita temui saat ini. Semuanya merupakan metode-metode yang bisa saling melengkapi. Dari doa Jalan Salib Singkat hingga yang cukup panjang. Termasuk diantaranya adalah yang ditulis oleh Santo Josemaria Escriva ini.
Inti hidup seorang Kristiani adalah mengikuti Kristus, demikian nasihat yang disampaikan oleh penulis buku ini. Kita harus mendampingi-Nya sebegitu dekat, sehingga kita seperti tinggal bersama-Nya. Perihal Jalan Salib, ia mengatakan, “Masuklah ke dalam luka-luka Kristus yang tersalib.” St. Josemaria Escriva, sang pendiri Opus Dei ini juga kerapkali menyarankan orang untuk membaca buku tentang Sengsara Tuhan Yesus.
Penulis menyiapkan buku ini sebagai hasil dari renungannya sendiri atas peristiwa-peristiwa di Kalvari dengan tujuan untuk membantu kita untuk merenungkan Sengsara Tuhan Yesus. Namun ia tidak mengharuskan pengikutnya untuk menggunakan catatannya sebagai satu-satunya renungan tentang Jalan Salib, karena ia menghormati kehidupan batian setiap orang dan mencintai kebebasan hati nurani yang dimiliki mereka.
Jalan Salib, menurutnya bukanlah devosi yang sedih karena sukacita Kristiani berakar dalam bentuk salib. Jalan Sengsara Kristus bukan melulu jalan penderitaan tapi juga merupakan jalan pengharapan menuju kemenangan yang pasti.
Buku Jalan Salib ini dari sisi renungannya lebih panjang dan dalam maknanya. Dalam setiap perhentian, penulis menuliskan latar belakang peristiwa yang terjadi sehingga kita lebih mudah memahami situasi kala itu. Kita juga diberikan pertanyaa-pertanyaan refleksi, dan pokok-pokok renungan dalam upaya kita lebih memahami dan menghayati setiap perhentian yang kita jalani. Dalam suatu permenungannya, ia menuliskan, Pandanglah Yesus, karena setiap luka-lukanya adalah teguran, setiap cambukan adalah motif penyesalan atas dosa-dosaku dan dosa-dosamu. (px/Kuasa Doa, Februari 2012)
Bukunya bisa diperoleh melalui:
http://www.obormedia.com/content/jalan-salib-st-josemaria-escriva