Kematian adalah Kemenangan

Seperti halnya kehidupan, kematian adalah misteri. Namun dengan banyaknya ketidakpastian dalam kehidupan ini, maka kematian menjadi suatu hal yang pasti. Bahkan Santo Agustinus sendiri berujar, segala sesuatu dalam hidup kita, baik dan buruk adalah tidak pasti, kecuali kematian. Hanya maut yang pasti. Ada kelahiran, maka akan ada kematian. “Siapakah yang hidup dan tidak mengalami kematian?” (Mzm 89:49)

Kematian juga dikatakan sebagai ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Setelah kematian tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan. Akhir dari segalanya, yang berarti juga akhir dari eksistensi seseorang.

Namun banyak pula yang percaya bahwa setelah kematian masih ada kehidupan baru. Kematian adalah awal suatu kehidupan baru. Bahkan suatu siklus untuk menuju kehidupan lainnya. Bagi mereka, kematian adalah suatu peristirahatan, sehingga seringkali dalam batu nisan di tuliskan RIP (Rest In Peace), beristirahat dalam damai. Bukankah damai yang dicari oleh manusia di muka bumi ini? Benarkah itu? Ternyata kematian itu tetap menjadi suatu misteri, when life ends, the mistery of life begins.

Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi kematian? Dalam kitab suci dikatakan “Allah sudah menetapkan bahwa manusia mati satu kali saja dan setelah itu diadili oleh Allah (Ibr 9:27). Ada suatu kisah tentang orang suci yang berada di tepi ajal tapi memandang kematian itu dengan wajah ceria, mengatakan, “Saya selalu memikirkan kematian dan bahwa ia telah tiba, saya tidak terkejut.” (hlm 3).

Mengapa kita harus takut menghadapi maut? Mereka yang dalam hidupnya selalu melakukan kehendak Allah tidak akan takut jika maut datang menjemputnya. Jika kita berada di tangan Allah, siapakah yang bisa merenggutnya? Orang baik akan dilindungi Allah dan tidak akan mendapat siksa (bdk Keb 3:1-3). Allah lebih memperhatikan keselamatan kita daripada setan yang berusaha membinasakan kita. Cinta Allah kepada kita lebih besar daripada kebencian setan terhadap kita. Jadi mengapa kita harus takut?

Lalu apa yang harus kita lakukan agar kita siap menghadapi kematian dan menganggap kematian sebagai suatu karunia yang indah? Salah seorang santo yang mengatakan. “ Saya tidak pernah membayangkan bahwa kematian itu sebenarnya begitu manis (hlm 11). Santo Fransiskus Asisi mengatakan, “Saya tidak bisa berhenti bernyanyi karena sebentar lagi saya sudah masuk ke dalam kebahagiaan Allahku.”

Kita pasti akan berkilah, tentu saja mereka bisa mengatakan demikian karena mereka orang suci, sudah pasti masuk surga. Ternyata seperti halnya kita, tidak semua orang suci, begitu ceria dalam menghadapi kematian. Mereka pun takut menghadapinya. Dalam buku ini dikisahkan pengalaman beberapa santo menjelang ajal. Merekapun dihinggapi rasa takut seperti halnya kita.

Hidup adalah suatu persinggahan, bukan tempat tinggal kita yang benar dan terakhir. Hidup seperti mampir untuk minum lalu kita malanjutkan perjalanan kembali. Kita adalah kaum peziarah. Kitab Suci mengatakan, Manusia berjalan menuju tempat tinggal yang sebenarnya. Suatu keabadian. Namun kita pun harus menyadari bahwa keabadian itu memiliki resiko yang tinggi. Siapkah kita menanggung segala konsekwensinya.

St Thomas More, sebelum dihukum mati mengatakan bahwa ia menolak untuk memohon ampun kepada raja untuk membatalkan hukuman matinya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk suatu keabadian penuh kebahagiaan dibandingkan hidup di dunia ini yang hanya sementara.

Jika kita percaya akan keabadian, kehidupan kekal, hendaknya kita menggunakan segala sarana yang ada untuk mempertebal dan memperkuat iman kita. Tidak ada yang terlalu berat yang bisa kita lakukan. Memperbaiki kehidupan rohani yang sembrono tidak bisa kita lakukan menjelang ajal, tapi dilakukan selama hidup kita selama kita masih sehat dan kuat untuk menjalaninya.

Kematian adalah sebuah kenyataan. Seseorang yang meninggal harus segera dilepaskan dan dikuburkan ke dalam tanah. “Sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil “ (Kej 3:19). Semua harta benda kita tinggalkan, lalu apa yang bisa kita bawa? Hasil apakah yang akan kita bawa kepada Allah. Sudah seharusnya itu kita siapkan sejak dini. Orang-orang yang baik akan meninggal dalam damai dan kebahagiaan. Bagi mereka, kematian adalah kemenangan. Menuju suatu kehidupan baru.

Buku ini ditulis oleh Alfonsus Maria de Liguori pada tahun 1758 saat ia berusia 62 tahun dengan judul persiapan kematian. Buku yang diberi judul ‘Kematian Itu Indah’ ini, bertujuan untuk mengemukakan kebenaran yang mendasar dan kuat bagi para pembacanya, yang ingin merenungkan tentang kematian sehingga mau menjalani kehidupan yang lebih baik. Buku ini juga ditujukan bagi para pengkotbah. Karena menurut sang penulis, mereka memiliki sedikit literatur dan kurang waktu untuk membacanya. Menurutnya, uraian dalam buku ini cukup singkat, padat namun berdaya animasi dalam menghidupi pewartaan. (hlm xii)

Terdiri dari 13 bab, buku ini memang layak dicerna jika kita ingin mengingkatkan kualitas hidup kita, berisi antara lain : Bagaimana mempersiapkan kematian?; Menemukan nilai sejati; Nilai dan Waktu; dan hal-hal lain yang harus selalu kita sadari, yaitu : Allah mencintai kita; Bapa kita yang Maharahim; Menerima Kehendak Allah. dilengkapi pula dengan beberapa doa dari St. Alfonsus, Deklarasi kematian yang membahagiakan, Doa untuk memperoleh kematian yang bahagia, dan lain sebagainya. (PX/KUASA DOA)

Buku ini dapat diperoleh melalui:
http://obormedia.com/?q=content/kematian-itu-indah