Malaikatku, Guruku!
Menjadi guru adalah suatu panggilan. Benarkah? Padahal Yesus tidak pernah memanggil kita menjadi seorang guru, melainkan menjadi murid-Nya. Demikian salah satu permenungan yang diangkat Pastor A. Mintara Sufiyanta SJ dalam buku pertama seri Spiritualitas Guru Kristiani berjudul Roh Sang Guru (OBOR, 2009). Satu tahun kemudian terbit buku keduanya yang merupakan kolaborasi bersama Yulia Sri Prihartini, mengali lebih dalam spriritualitas tersebut dengan berbagai sharing di dalamnya dan berjudul, Sang Guru Sang Peziarah (OBOR, 2010). Dan diawal bulan Mei ini, buku ketiganya terbit dengan judul Guruku Malaikat Jiwaku (OBOR, Mei 2011). Apakah sang penulis ingin mengangkat martabat para guru setingkat dengan malaikat?
Suatu Karya Bersama
Kau ajarku merangkai kata-kata/ Kau ajarku memahami makna/ Kau ajakku bermain dengan angka/ Dan mengenal nada-nada... demikian petikan lagu Guruku Malaikat Jiwaku yang ada dalam buku ini. Sungguh benar adanya bahwa apa yang diajarkan seorang guru akan selalu terkenang dalam benak sang murid, bahkan termasuk hal-hal terkecil sekalipun.
Tutur kata, sikap dan tindakan orangtua atau guru akan memiliki pengaruh, baik dalam waktu 10 menit (saat ini), 10 bulan (jangka menengah), maupun 10 tahun (jangka panjang) – halaman 56 - merupakan pemikiran Suzy Welch, penulis buku bestseller “10-10-10: Transformative life.” Pernyataan tersebut menjadi pas sekali untuk mengurai 20 kisah para murid tentang gurunya pada bagian kedua, Guru di Hati Murid.
Kisah-kisah tersebut oleh penulis kemudian dikembangkan (mekrok) serta diambil nilai-nilai ajarannya untuk diterapkan saat ini. Disini kita melihat bahwa kebanggaan menjadi seorang guru jangan sampai mengorbankan keinginan para murid untuk menuntut ilmu. Para guru tidak bisa mengabaikan begitu saja penilaian para murid terhadapnya. Tidak semua murid memahami pola pengajaran para guru. Itulah yang tergambarkan dalam bab ini. Dalam duapuluh kisah yang disajikan, kita membaca bahwa tidak semua murid sungguh memahami pola pengajaran gurunya pada saat itu. Kesadaran ini baru muncul belakangan. Dan kebanyakan setelah mereka beranjak dewasa.
Kisah-kisah itu antara lain, Ibu Guruku: Pernah Jengkel Hatiku; Pak Dar: Bersenjata Gada, Berhati Sutra; Bu Harti: Pecinta Seni Sejati; Guru Legendaris: Menempa Mental; Bu Kristin: Motto “Pasti Bisa!” dan lain sebagainya. Melalui kisah-kisah tersebut, kiranya bisa menjadi salah satu bentuk introspeksi para guru.
Tulisan-tulisan menarik lainnya dapat dijumpai pada bagian ketiga, Mutiara-mutiara Pemberi Makna yang menyajikan tulisan seperti Guru Ideal di Mata Murid, Tindakan Guru yang Berani, Tindakan Murid yang Berani dan dua kisah lainnya. Lalu pada bagian keempat, Remah-Remah Pem beri Berkah yang menurunkan lima buah tulisan inspiratif yang menarik.
Karya ini memang spektakuler karena sebenarnya ditulis tidak hanya oleh seorang penulis, tetapi banyak penulis (rekan pastor, guru dan kenalan) yang turut memberikan kontribusinya untuk buku ini. Bahkan ada yang sudah dipublikasikan di jejaring sosial, facebook. Inilah salah satu bentuk kekayaan buku ini. Tanpa keterlibatan banyak orang, buku ini tidak akan pernah ada
Spiritualitas Kristiani
Sama seperti buku pertama dan keduanya, salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah buku ini bisa dijadikan sebagai bahan retret, rekoleksi dan permenungan Guru Kristiani. Karena buku ini tidak hanya menyajikan kisah atau pun sharing, tapi juga doa, lagu dan permenungan mengenai peran dan jati diri guru kristiani. Dan dengan demikian diharapkan mampu menyentuh dan membangkitkan semangat para guru agar tetap setia pada panggilannya. Sebagai guru kristiani dalam upaya meneladan Sang Guru sejati, Yesus Kristus.
Menjadi Malaikat
Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh penulis sehubungan dengan judul diatas. Mampukah para guru menjadi malaikat? Disini penulis mengajak para pembaca untuk memahaminya secara alkitabiah. Dalam Malaikat di Hidup Manusia, kita diajak untuk mempertajam cita rasa rohani sehingga lebih peka merasakan kehadiran Allah, sebagai penguat iman akan Allah yang senantiasa hadir membimbing dan melindungi manusia melalui para malaikatnya.
Melihat kenyataan itu, kita diajak untuk mengasosiasikan peran guru sama halnya dengan apa yang telah dilakukan para malaikat bagi kita. Para guru pun bisa melakukan hal tersebut terhadap para muridnya. Mereka bisa menjadi pelindung, pembinbing, pengasuh yang sungguh-sungguh mencintai anak didiknya. Kiranya fungsi dan peranan para malaikat itu mampu menginspirasi, memberi semangat dan memotivasi para pendidik. Sehingga kelak para anak didik yang merasakan kehangatan dan ketulusan dan kasih dalam pengajarannya akan mengatakan dengan lantang, Guruku... kau laksana malaikat jiwaku. (PX/Majalah Educare edisi Juni 2011)
Buku ini dapat diperoleh melalui:
http://www.obormedia.com/?q=content/guruku-malaikat-jiwaku