Mencari Wajah Allah
Hati manusia rindu untuk berjumpa dengan Allah, namun dimanakah wajah Allah dapat dijumpai? Di lain pihak, ternyata Allah pun rindu untuk bahwa kehadiran-Nya dalam kehidupan manusia disadari oleh manusia. Ia hadir dalam diri Yesus Kristus, Putra Terkasih-Nya. (bdk. Kol 1:15). Namun Allah juga dapat dijumpai dalam diri saudara-saudara yang kecil, lemah dan hina-dina (bdk. Mat 25:40).
Namun sebenarnya siapakah yang lebih dulu mencari? Allah atau manusia? Mampukah manusia mencari wajah Allah?
Dari berbagai kisah dan pengalaman orang, sering kita mendengar keluh kesah, “Untuk apa mencari wajah Allah, ia akan tetap tersembunyi. Mengapa manusia sulit mencari wajah Allah? Mungkin hal ini karena kita berpikir bahwa wajah Allah sangat jauh, diluar jangkauan kita. Mungkin karena kita berusaha mencari-Nya seorang diri, tanpa iman dan cinta. Hati yang penuh cinta. Bahkan seringkali manusia cenderung mudah jatuh dalam godaan, dalam dosa. Ketika manusia berdosa ia berpaling dan bersembunyi dari Allah seperti yang pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Eden. Membiarkan dirinya tersesat.
Lain halnya dengan manusia, ketika Allah mencari manusia, ia tergerak oleh karena belas kasih-Nya, karena manusia berharga di mata-Nya. Dan Ia mau mengangkat manusia sesuai dengan harkatnya, yaitu menjadi anak-anak Allah.
Wajah Allah dalam Wajah Yesus
Dalam diri Yesus, Allah memusatkan kehadiran-Nya di dunia. Dialah gambar Allah yang sejati. “Gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” (Ko; 1:15). Wajah Yesus adalah wajah yang mengampuni, wajah yang menderita, dan wajah-wajah orang yang tertindas. Pernahkah kita mengusap wajah Yesus Yesus dalam wajah sesama yang menderita?
Wajah Yesus adalah wajah yang bercahaya. Cahaya wajah-Nya terang sejati, cahaya cinta dimana kita mendapatkan rasa aman dan damai bila bersama-Nya. Cahaya-Nya adalah cahaya kemuliaan ketika ia berada di gunung Tabor. Ada saatnya ketika kita mendaki ke bukit/ gunung, kita bisa memandang wajah-Nya yang penuh kasih dalam kemuliaan, namun saat kita turun gunung hendaknya kita juga harus mampu menjadi pancaran cahaya-Nya kepada sesama.
Panggilan manusia adalah memancarkan Sinar kasih wajah Yesus ke dataran sekitar, kepada sesamanya. Kemuliaan-Nya di Gunung Tabor dan penderitaan-Nya sungguh menjadi bagian utuh dalam kehidupan para pengikut-Nya. Kuncinya hanya satu, “Dengarkanlah Dia!”
Menjadi Serupa dengan Wajah Yesus
Salah satu cara untuk menjadi serupa dengan-Nya adalah melalui puasa. Masa puasa adalah saatnya untuk bersatu dengan penderitaan Kristus dalam doa dan keheningan. Berdoa dengan penuh kerendahan hati, merebahkan jiwa dan menyatakan sikap penyerahan diri, ketergantungan serta pengharapan kepada Allah (jalan mistis).
Ketika berpuasa, tidak berarti kita hanya mengurangi makan dan minum, itulah saatnya kita menyangkal diri dengan menanggalkan kesenangan dan keakuan kita. Dan mengosongkan diri, agar kita bisa dipenuhi oleh Roh Kudus (jalan kenosis). Dengan demikian, itulah saatnya kita melakukan tapa dalam upaya pertobatan. Saatnya untuk bertobat (jalan metanoia). Masa puasa kita membiarkan diri kita di ubah oleh Roh Kudus menjadi manusia baru, karena pertobatan sejati menuntut perubahan hati. Dan hal yang paling membahagiakan kita adalah, inilah saatnya kita berdamai dengan Allah (jalan rekonsiliasi). Saati inilah masa rahmat, perdamaian dan rekonsiliasi.
Dengan berpuasa, berarti kita juga menempuh jalan keadilan (waktunya untuk menegakkan keadilan), jalan solidaritas (waktunya untuk berdamai), jalan pembebasan. Alhasil kita pun mampu membawa damai bagi sesama kita. “Berbahagialah orang yang membawa damai. Karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9).
Wajah Yesus, Bagaimana menghadirkannya?
Siapakah Yesus? Siapakah Yesus menurut pengalaman iman kita? Wajah Yesus seperti apakah yang ingin kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.?
Hidup dalam Yesus membuat seseorang peka akan kehendak Yesus yang selalu mengikuti kehendak Bapa-Nya. Kehadiran Yesus dapat dilihat dalam pribadi seseorang yang rendah hati, orang kecil yang bersahaja, atau mereka yang beriman kepada Allah. Seseorang yang mengampuni, yang tidak membeda-bedakan satu sama lain, memiliki karisma untuk memulihkan kebenaran, sosok pembebas yang mampu berjuang dan dengan lantang meneriakan kebenaran.
Dapatkah kita melihat sosok itu? Dan sejauh manakah peran serta kita untuk menghadirkan wajah Yesus di dunia?
(Kuasa Doa, Mei 2010/Panjikristo)
***
Pemesanan melalui :
http://www.obormedia.com/content/carilah-wajah-ku