Meneliti Pengalaman Mistis
SUSTER Yohanes dari Salib menghadapi situasi sulit. Visiun atau penglihatan yang ia alami selama ini mengakibatkan sakit kepala yang cukup parah. Awalnya, ia menganggap rasa sakit itu sebagai suatu penderitaan yang harus ia terima karena kasih Allah. Namun, pada akhimya, penyakit yang kerap membuatnya kejang-kejang itu ia konsultasikan pada seorang ahli saraf. Maka, terungkaplah sebuah kebenaran. Ia menderita epilepsi lobus temporal (temporal-lobe epilepsy/TLE) akibat tumor kecil di bagian atas telinga kanannya.
Ia pun diberitahu bahwa Rasul Paulus dan pendiri Ordo Karmelit St Theresia dan Avila, kemungkinan besar penderita TLE. Setelah dilakukan operasi pengangkatan tumor, Suster Yohanes tidak pernah mendapatkan penampakan-penampakan lagi.
Apakah epilepsi merupakan penjelasan yang tepat bagi pengalaman spiritual seperti kasus di atas? Penelitian baru yang kontroversial menyatakan, percaya tidaknya kita kepada Tuhan, tidak semata terkait dengan kehendak bebas. Para peneliti percaya bahwa individu yang sangat mengasihi Tuhan memiliki perbedaan fisik dalam otaknya (Lis Tucker, BBC News).
Benarkah tokoh religius selalu menderita TLE sehingga dapat mengalami penglihatan-penglihatan? Penelitian yang dilakukan Saver dan Rabin mengungkapkan bahwa beberapa tokoh religius, seperti Rasul Paulus, St. Jean d’Arc, St. Theresia dan Avila, dan St. Theresia Lisieux menderita TLE.
Menanggapi penelitian itu, beberapa argumentasi diajukan untuk menyangkalnya. Penelitian itu dianggap tuduhan yang tak memiliki dasar. Di antara mereka yang dituduh menderita TLE, justru tidak menunjukkan adanya gejala-gejala yang umum ada pada penderita epilesi.
Pengalarnan mistis
Pengalaman religius bukan hanya monopoli kaum religius yang hidupnya sungguh-sungguh diarahkan kepada Tuhan. Kita pun dapat mengalaminya. Mungkin itulah salah satu alasan diciptakannya helm lobus temporal yang dibuat di laboratorium neurosains di Kanada. Dengan alat tersebut, konon kita dapat dibawa lebih dekat dengan Tuhan.
Benarkah kehadiran Tuhan dapat dirasakan melalui alat itu? Dapatkah pengalaman mistis diperoleh dengan alat itu? Karena pengalaman mistis dapat dirasakan jika seséorang berusaha memahami realitas utama dalam kehidupannya. Pengalaman mistis itu unik dan tak bisa diilustrasikan dengan kata ataupun gambar. Pengalaman mistis tidak terukur dan tak bisa diukur.
Hubungan antara otak dan kegiatan religius memang tidak mudah dijelaskan. Maka, penulis buku ini mencoba melakukan penelitian melalui teknologi yang canggih mengenai pencitraan otak pada Sekelompok biarawati Karmelit. Penelitian ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana otak merespon dan memproses pengalaman religius, mistikal, dan spiritual?
Penulis menjabarkan penelitiannya dengan cukup gamblang, Sehingga pembaca mudah memahaminya. Meski menimbulkan pro dan kontra, hasil penelitian itu menghadirkan dokumentasi ilmiah bagi keabsahan pengalaman-pengalaman mistikal. Bukti-bukti itu, konon sangat menantang pemikiran konvensional.
Iman yang aktif
Sejak zaman dulu, manusia berusaha memahami Tuhan dengan jalan pikirannya. Berusaha menghubungkan satu sama lain untuk menciptakan sosok Tuhan, sehingga Tuhan menjadi semacam konsep dan pemikiran manusia. Menurut pandangan non-materialis, kematian otak tidak mengakibatkan lenyapnya pikiran, kesadaran, dan diri. Karena ketiganya sebenarnya dihubungkan oleh suatu Dasar Keberadaan yang Ilahi. Suatu Roh yang tidak kenal waktu dan ruang dan tidak terbatas.
Pengalaman religius memiliki sumber yang non-matenalis. Tuhanlah yang menciptakan pengalaman religius, bukan otak.
Dengan penjelasan sederhana dan bahasa yang mudah dipaharni, The Spiritual Brain disuguhkan dalam 10 bab, yang tersusun sistematis dan mudah dipaharni pembaca. Bab pertama, berisi pengantar singkat menuju neurosains spiritual. Bab kedua hingga keempat, membahas dan mengkritik teori-teori popular tentang pengalaman spiritual yang mendukung pandangan ateistik. Dalarn bab kelima dan keenam, penulis menyuguhkan pembahasan perihal otak dan hubungannya dengan pikiran, bahasa dan pikiran, kesadaran dan diri, kehendak bebas, kasus pengalaman dekat ajal, efek plasebo, dan masa depan pengobatan. Lalu, pada bab ketujuh sampai kesembilan, dipaparkan berbagai pengalaman spiritual dan mistik. Penulis menunjukkan pemicu dan pengaruh pengalaman-pengalaman itu. Bab ini juga juga menyodorkan hasil penelitian penulis pada para responden, yakni, para biarawati Karmelit. Pada bab akhir, dipaparkan perihal pertanyaan inti, apakah Tuhan yang menciptakan otak atau sebaliknya?
Buku mi mengajak pembaca untuk kembali mengulik imannya. Iman yang terus berkembang, bukanlah iman yang pasif. Tetapi, iman yang aktif, yang terus bertanya. Buku ini hadir dalam kerangka pengembangan iman. Buku ini tidak hendak meragukan keimanan seseorang, tetapi justru memberi wawasan baru dan pencerahan bagi kaum beriman. Buku ini mengajak pembaca memikirkan kembali imannya, demi perkembangan iman itu sendiri.(px/ Hidup)
Buku ini dapat diperoleh melalui: http://www.obormedia.com/?q=content/spiritual-brain-soft-cover