OBOR Hadir di paroki Kristus Raja - Karawang
Paroki Kristus Raja
Jl. Parahyangan 45 - Karawang
GEREJA ini dibangun dengan gaya tradisional Jawa Barat. Inspirasi awal bangunan ini berasal dari Pastor Made Sudjata OSC. Saat pergi ke Blitar, ia melihat suatu bangunan joglo yang luar biasa bagus. Tenyata, bangunan itu merupakan makam Bung Karno. Pastor Made berkeinginan membangun gereja seperti itu. Tetapi, dalam proses perencanaan, ia menghadapi kendala. Karena atap yang berbentuk runcing pada makam Bung Karno sama dengan rumah bupati Karawang waktu itu. Maka, akhirnya bentuk atap bangunan gereja diubah.
Ada tiga bagian yang dominan pada bangunan. Pertama, bangunan utama. Kedua, atap. Ketiga, menara. Keterpaduan tiga hal ini mengandung konsep Tri Tunggal Mahakudus.
Bentuk bangunan utama mengadung arti membumi seperti Kristus, yang mempersatukan orang dari berbagai bangsa. Kedua, bagian atap mengibaratkan Roh Kudus yang melayang-layang. Mengingatkan bahwa kita dipersatukan Roh Kudus. Bagian atas melambangkan Allah yang bertakhta. Selain itu, ketinggian bangunan ini berukuran 20 meter. Maksudnya, gereja ini dibangun pada abad ke-20.
Bagian atas menara tidak diberi atap, sesungguhnya bukan karena perizinannya yang menjadi titik pokok. Tetapi, dapat mengandung makna pengembangan jemaat Allah yang terus-menerus tanpa pernah berkesudahan. Maka, orang sering berkomentar, Gereja Kristus Raja Karawang merupakan gereja yang tidak pernah kelar.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembangunan gereja ini sebenarnya tidak terlalu khusus. Hanya kayunya saja kayu nyato, jenis kayu yang cukup kuat yang tidak mudah dimakan rayap. Tetapi, secara keseluruhan bangunan ini tetap berprinsip pada kesederhanaan. Demikian penjelasan Ir J.A. Hartanto Wijaya, anggota dewan paroki.
Prosesi jalan salib terletak di sepanjang tembok pagar gereja yang terbuat dari semen. Bila Masa Prapaskah tiba, umat Karawang melakukan prosesi jalan salib di sini. Demikian juga di bagian dinding gereja terdapat hiasan kaca patri yang didesain khusus dengan motif daun palma. Mengambarkan Yesus yang disambut dengan daun palma ketika datang ke Yerusalem.
Terbuka
Luas bangunan gereja ± 930 meter persegi yang menandakan tahun 1993 cikal-bakal dibangunnya gereja. Kapasitas gereja bisa menampung 900 orang dari 6.000 umat di Karawang. Ventilasi bangunan dapat dimaksimalkan karena di sebelah kanan-kiri gereja terdapat ruang kosong. Maka, sebelah kanan dan kiri dibuat banyak pintu dengan atap yang tinggi agar udara sejuk tetap terjaga. Saat Misa angin yang masuk cukup besar karena semua pintu dibuka. Gereja ini tetap mempertahankan pengudaraan alami.
Gereja ini sengaja dibuat terbuka, bukan hanya karena ingin menyiasati pengudaraan saja. Tetapi, juga agar tidak menimbulkan kesan eksklusif. Selain itu, sengaja dibuat terbuka agar umat lebih terpanggil untuk masuk dari berbagai arah. Cat yang digunakan berwarna hijau agar mempunyai kesan menyatu dengan lingkungan persawahan. Bangunan memang direncanakan sebagai sentral dari fasilitas-fasilitas bangunan penunjang yang berada di sekeliling gereja.
Pola bangunan berbentuk segi empat mengandung filosofi keempat pengarang Injil. Hal ini tercermin dari adanya lambang-lambang keempat pengarang Injil yang berada di sebelah kiri dan kanan bangunan yang terbuat dari kaca patri. Di setiap sisi bangunan terdapat teras yang mengandung arti ‘selamat datang’ bagi setiap orang yang akan masuk gereja. Dalam dunia arsitektur, bangunan berbentuk segi empat akan memudahkan pengembangan bangunan di setiap sisinya.
Sampai saat ini umat Karawang mengakui adanya rencana Ilahi yang luar biasa. Di mana gereja yang sebelumnya kecil sekarang menjadi lebih besar. Parkir yang tadinya tidak dimiliki, sekarang menjadi parkir yang luas. Hingga saat ini luas tanah yang dimiliki Gereja kurang lebih satu hektar. Selain itu, aktivitas peribadatan dapat berlangsung tanpa ada gangguan suara bising karena berada di tengah-tengah sawah.
Jalan panjang
Gereja yang diresmikan Mgr Alexander Djajasiswaja Pr, Uskup Bandung saat itu, 23 November 1996 ini mempunyai sejarah panjang. Sebelumnya, gereja berada di Jalan Babakan Cianjur. Setelah cukup lama, awal 1990 hierarki mulai terusik oleh reaksi masyarakat di sekitar gereja. Masyarakat sekitar tidak menghendaki adanya tempat ibadat orang Katolik di daerah itu.
Mereka melayangkan surat protes atas keberadaan gereja. Hingga Adven 1993 terjadi gangguan yang sangat serius. Karena situasi yang tidak memungkinkan, setelah Pekan Suci 1994 kegiatan Ekaristi dipindahkan ke kompleks Sekolah Yos Sudarso. Kemudian Panitia Pembangunan Gereja (PPG) yang sudah terbentuk memulai langkah-langkah konkret.
Bersama Pastor Ag. Made Sudjata OSC, panitia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan aparat Pemerintah Daerah. Banyak kendala yang mereka hadapi sehubungan dengan permohonan izin mendirikan gereja. Setelah melalui perjuangan yang sangat berat, akhirnya terlaksanalah peletakan batu pertama pembangunan Oktober 1994.
Dari situ, ada dua titik pokok yang dapat dipetik umat Karawang. Pertama, gereja ini menjadi anugerah di mana sebelumnya gereja hanya berupa gudang kecil, sekarang malah menjadi gedung. Kedua, gereja ini menjadi rencana Ilahi karena diberikan kemudahan untuk pindah dan diberi izin.
Setelah memperoleh izin, ada tiga proses lagi yang perlu dijalani panitia. Pertama, mencari tanah yang cocok, kedua, membangun gereja, dan ketiga, membangun pastoran dan gedung serba guna.
Syukurlah, ternyata rencana Ilahi itu benar-benar terjadi. Akhirnya, panitia mendapat sumber dana dari banyak pihak hingga berdirilah Gereja Kristus Raja Karawang. Oleh masyarakat Karawang, gereja ini disebut sebagai Gereja Sawah.
Sumber: (Majalah Hidup-A. Sudarmanto)
http://majalahhidup-jelajaharsitektura.blogspot.com/2009/12/gereja-krist...
Jadual Misa:
Sabtu: 18.00 WIB
Minggu: 07.00 WIB
Info Pameran:
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk pembelian buku-buku Rohani OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi Berkualitas dalam pemeran tersebut.
Tuhan memberkati!