OBOR Hadir di Paroki St. Aloysius Gonzaga - Cijantung
PAROKI KE-32 ITU ADALAH CIJANTUNG
UMAT PERDANA - Cikal bakal itu tumbuh dari komunitas tentara
Berdirinya paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung tidak terlepas dari peranan Pusat Rawatan Rohani Katolik TNI AD beserta keluarga Katolik baik sipil maupun militer yang berada di wilayah Cijantung. Selama belasan tahun mereka menghidupi kebutuhan rohaninya dengan berbagai kegiatan-kegiatan sekitar altar. Sejarah mencatat bahwa merekalah sesungguhnya penabur benih-benih sebagai cikal bakal umat di paroki ini. Bagaimana kisah ini berawal, berikut ini adalah penuturan beberapa saksi hidup yang mencoba meniti kembali perjalanan mereka.
MENYANDANG STATUS STASI – Setelah 12 tahun perkembangannya
Sejak misa perdana diselenggarakan pada tahun 1962 yang dilaksanakan oleh Pusrohkat TNI AD kehidupan menggereja umat semakin lama semakin meningkat malah cenderung berkembang. Beberapa pelayanan pastoral selain misa juga diadakan seperti permandian bayi, pemberkatan perkawinan dan sebagainya. Namun karena Pusrohkat itu tidak memiliki kewenangan territorial di Keuskupan Agung Jakarta maka segala tanggung jawab administrasi umat menjadi kewenangan keuskupan. Untuk itu segala pelayanan pastoral yang terkait dengan administrasi diserahkan sepenuhnya kepada paroki terdekat yang waktu itu berada di paroki Santo Antonius Padua, Bidaracina. Maka sejak itulah Cijantung menjadi bagian dari wilayah Paroki Bidaracina
MENJADI PAROKI - Setelah kurang lebih lima tahun berstatus stasi,
tanggal 21 Juni 1979 Uskup Agung Mgr. Leo Soekoto, SJ akhirnya meresmikan stasi Cijantung menjadi paroki baru ke-32 di KAJ dengan nama Paroki St. Aloysius Gonzaga. Pastor Kepala Parokinya adalah Romo JB Martosudjito SJ. Jumlah umat saat Cijantung menjadi paroki mencapai 2,008 jiwa (385 KK) terbagi dalam 13 lingkungan.
Dengan menyandang predikat paroki ini, rencana baru muncul yaitu bagaimana membangun gedung gereja. Semangat yang menggebu-gebu ini ditandai dengan dibentuknya panitia persiapan pembangunan dengan dengan tugas menggalakkan usaha-usaha pencarian dana. Umat ikut berprihatin dalam keikutsertaannya membangun. Suasana pembangunan rumah ibadat benar-benar menjiwai setiap pertemuan dan pembicaraan umat di lingkungan-lingkungan.
Pada tanggal 17 Februari 1980 dimulai pembangunan gedung gereja yang ditandai peletakan batu pertama oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ Uskup Agung Jakarta. Dalam rencana itu, sebuah komplek akan dibangun, di mana berdiri sebuah rumah ibadat, sebuah aula serbaguna dan gedung pastoran yang permanen. Pada tahap pertama dibangun gedung gereja dengan target waktu 8 bulan selesai. Dalam kotbahnya Mgr. Leo Soekoto menegaskan, “…kalau nanti gereja ini selesai dibangun, jangan sampai ada warga yang menyesal, karena untuk pembangunan gereja itu ia hanya menyumbang jauh di bawah kemampuannya; atau tidak menyumbang apa-apa, sebatang pakupun tidak; sebutir pasirpun tidak!...”
Kotbah ini cukup mengena. Semua warga bahu membahu sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan berdirinya gedung gereja sesuai dengan targetnya. Mengenai target waktu pembangunan gereja ini, Romo Marto sempat mengingat kata-kata Uskup yang mengatakan demikian : “…dalam satu tahun lagi, saya akan tertawa. Tertawa senang kalau gereja Cijantung sungguh-sungguh selesai dibangun, atau tertawa mengejek kalau pembangunan belum selesai seperti janjinya…“
Delapan bulan setelah peletakan batu pertama atau tepatnya 23 November 1980, gedung gereja akhirnya diber-kati oleh Mgr. Leo Soekoto. Pada hari yang sama pula gedung gereja ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Tjokropranolo. Di tengah semangat membangun yang terus menyala, 2,500 jiwa umat menyambut pemberkatan gedung gereja dengan penuh rasa syukur. Mereka kini telah memiliki gedung gereja yang cukup besar dan megah.
Alamat Paroki :
Jl. Pendidikan III/2, Cijantung II, Jakarta Timur 13770
Batas wilayah :
a. Utara: berbatasan dengan Condet Batuampar, wilayah Paroki Cililitan
b. Barat: berbatasan dengan sungai Ciliwung yang memisahkan paroki Cijantung - Jagakarsa.
c. Timur: Tol Jagorawi yang memisahkan paroki Cijantung - Kalvari (timur laut), Cilangkap (timur)
d. Selatan: Propinsi Jawa Barat. Paroki terdekat, Paroki St. Thomas, Kelapa Dua
http://parokicijantung.blogspot.com/
Jadual Misa Minggu:
Sabtu: 18.00 WIB
Minggu : 06.00 ; 08.00 ; 18.00 WIB
Info PAMERAN:
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk pembelian buku-buku rohani OBOR, usai misa Minggu ini. Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas dalam pameran ini.
Tuhan memperkati