OBOR Hadir di Paroki Trinitas - Cengkareng

10/16/2010 - 17:00
10/17/2010 - 20:00
Etc/GMT+7
paroki trinitas2.jpg

Perjalanan Sejarah Paroki Trinitas, Cengkareng

I. PEZIARAHAN UMAT KATOLIK CENGKARENG

1. Umat dalam Diaspora (Pengasingan)
...Di awal tahun 1971, Mgr. Leo Soekoto, SJ, Uskup Agung Jakarta, menyerahkan Stasi Cengkareng dan Stasi Kapuk kepada Paroki Tangerang. Saat itu, Paroki Tangerang memang mempunyai banyak Stasi mengingat rentang wilayah pelayanannya yang meliputi Ciledug - Tigaraksa, Serpong - Tanjung Pasir/ Tanjung Kait. Sebelum Romo Anton Mulder, SJ yang mengepalai Paroki Tangerang diserahi tugas tersebut, kegiatan penggembalaan umat di areal kedua Stasi itu masih dilaksanakan oleh Romo H. Kemper, MSC, dari Paroki Grogol untuk Stasi Cengkareng dan Romo S. Sutopanitro, PR untuk Stasi Kapuk.

Dengan surat No. 352/B.Tjk/1972 dan No. 353/ B.Tjk/1972 bertanggal 10 Juli 1972, Mgr. Leo Soekoto, SJ menugasi Bapak R.Y. Prabowo (yang saat itu masih bertugas sebagai seorang perwira TNI-AD dan membantu di Sekretariat Paroki Tangerang) dan Bapak V.A. Adiwahyanto (yang saat itu menjadi guru di SD Aloysius, Tangerang) untuk mengunjungi dan mendata umat di Stasi Cengkareng dan Kapuk guna mendapatkan data yang lebih rinci akan keberadaan mereka disamping juga untuk mengetahui jumlah umat di daerah ini serta kebutuhan akan sarana tempat beribadat.

Hampir setiap petang/malam hari atau hari Minggu, kedua utusan ini dengan antusias menjelajahi wilayah Cengkareng. Saat itu, jalan-jalan di Cengkareng masih belum beraspal kecuali Jalan Utama Raya yang penuh lubang. Jalan Sumur Bor dan Jalan Kamal beraspal hanya hingga depan Puskesmas. Jalan Cendrawasih belum berbentuk, masih merupakan tanah berumput. Cengkareng masih dibelah rawa dari barat ke timur. Tanah gereja yang sekarang ini termasuk pinggiran rawa bagian selatan.

Kedua sukarelawan mengunjungi alamat demi alamat ‘always by feet’ (selalu dengan berjalan kaki) dan mereka sering singgah di rumah Bapak Robertus A. Tjuk, yang dikenal baik oleh Romo Anton Mulder, SJ, untuk menanyakan daerah atau wilayah tertentu. Maka, jadilah rumah Pak Tjuk itu sebagai pusat semua kegiatan pendataan umat. Romo Anton sendiri yang menjelaskan kepada Bapak Tjuk tugas yang diemban oleh kedua utusan Gereja ini dan meminta kesediaan keluarga Bapak Tjuk untuk membantu karya pastoral ini.

Dalam pencarian umat per umat, kedua relawan ini sering menjumpai pengalaman unik, misalnya pada suatu sore dalam kelelahan mengayuh kaki, kedua utusan Gereja ini duduk di pembatas serambi rumah di Jalan Kincir Raya. Mereka menanti kedua pemilik rumah yang dipastikan sebagai Katolik. Tiba-tiba mereka didatangi Ketua RW dan beberapa orang lainnya. Mereka dituduh hendak berbuat jahat, diusir, bahkan diancam. Seorang dari mereka langsung pergi dengan perasaan tersinggung, sedang yang lainnya masih duduk dan berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Mendengar bentakan-bentakan be- Romo H. Kemper, MSC 14 Buku Kenangan 25 th Gereja Katolik Trinitas Perjalanan Sejarah ngis dan kasar, akhirnya keduanya pergi. Kelak diketahui, kedua pemilik rumah itu memang umat Katolik, yang seorang kini telah tiada, sedangkan yang seorang lagi sampai sekarang masih aktif berkarya di Cengkareng.

Begitulah, pendataan terus dijalani oleh kedua sukarelawan ini hingga akhir Oktober 1972, saat pendataan umat dianggap selesai dan hasilnya dilaporkan ke Keuskupan Agung Jakarta lewat Romo Anton Mulder, SJ.

Masa-masa itu memang umat Cengkareng benar- benar hidup dalam diaspora (terasingkan), bahkan mungkin sendirian. Umat bujangan tinggal di tengah anggota keluarga, kontrakan, pemondokan, atau asrama non-Katolik. Keluarga keluarga Katolik memang belum membentuk komunitas basis di tengah masyarakat yang seluruhnya non-Katolik. Memang, dalam suasana diaspora seolah tidak ada komunitas. Pertemuan 2-3 umat dalam jarak yang berjauhan akan dialami, dirasakan, dinikmati sebagai kesempatan, karunia, dan rahmat yang tak ternilai. Relasi iman akan erat terjalin, pertemuan sering diadakan sebagai salah satu wujud saling merindukan, saling menguatkan, saling peduli, saling mengasihi.

info lebih lengkap, klik: http://www.trinitas.or.id/informasi/sejarah-paroki-cengkareng

INFO PAMERAN
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas dalam pameran kali ini di depan gereja usai misa