Pater Beek, SJ – Larut Tetapi Tidak Hanyut

Pengarang: 
J.B. Soedarmanto

SKU: 40008004
Rp. 71.100

17.5 x 25 cm; 288 hlm

Harga Normal Rp 79.000,-
Diskon 10%

Pater Beek, SJ adalah sosok yang memiliki kepribadian unik, menarik : tegas, disiplin, logis, realistik, sportif, konsekuen dan saleh. Menurutnya, setiap orang mempunyai kebebasan menentukan pilihan politiknya. Dia tidak suka terhadap seseorang yang mengatasnamakan atau menyatakan diri mewakili sesuatu komunitas, terutama komunitas agama Katolik. Ia membatasi kegiatannya hanya pada wilayah filosofi dan spiritual, bukan politik praktis.
Pembekalan wawasan ideologi berdasar pada semangat cinta kasih. Banyak buah pikirannya, misalnya tentang keadilan, kesejahteraan rakyat, demokrasi, hubungan agama dan negara, juga kritiknya terhadap Nasakom, barangkali memberi inspirasi pada penulis-penulis/scholar anak didiknya pada masa itu dan generasi selanjutnya

Terhadap anak binaannya, Ia bertindak sebagai penasihat. Pembekalan wawasan atau nasihat seputar semangat cinta kasih, dan menanamkan kesadaran mengenai tugas awam Katolik. Menurut Pater Beek, awam Katolik tidak hanya melakukan tugas “manus longga” saja, namun yang perlu dilakukan adalah tugas “kerasulan awam”. Ia juga menyelengarakan khalwat atau “retreat” secara khusus bagi para sarjana dan mahasiswa selama sebulan. Kegiatan ini kemudian dikenal dengan “khasebul”, singkatan dari “khalwat sebulan”. Bagaimana kelanjutan khasebul itu sepeninggal Pater Beek?

Buku ini memaparkan perjalanan hidup, Pater Joseph G. Beek, SJ selama hidupnya serta ide dan gagasannya yang sangat berharga bagi Gereja dan Bangsa. Dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi kegiatannya.

Belajar Menjadi Lebih Baik

Kesan "manusia misterius" menjadi hilang ketika kita mendalami halaman per halaman buku ini.

Beek yang dianggap manusia misterius berubah menjadi Beek sosok pendidik kaum muda. Dengan keseriusannya mendampingi begitu banyak kaum muda, Beek ingin membentuk karakter pemuda yang tidak cengeng, karakter pemuda yang tahan banting, dan karakter pemuda yang berani meraih cita-citanya untuk "menjadi yang terbaik".

"Semangat Lebih" yang ditawarkannya dalam pendampingan kaum muda sebenarnya bukanlah hal baru dalam Gereja Katolik. Semangat Ignatian yang dihayati dalam hidupnya sebagau seorang Yesuit menjadi sumber inspirasinya dalam membina manusia-manusia muda Indonesia.

Apa yang ditekankan dalam Semangat Ignatian sebenarnya bersumber dari Semangat Rasul Paulus, yang ingin agar setiap orang kristiani menjadi pemenang dalam perlombaan hidup ini....yang berhulu pada amanat Yesus Sang Guru Sejati, "...jadilah sempurna, seperti Bapamu sempurna adanya.."

Jadi, Beek ingin membuka kembali mata kita (khususnya kaum muda yang didampinginya) agar kembali pada pesan Yesus yang diaktualisasikan dalam hidup sehari-hari.