Events
06 / 4
| ||
06 / 5
Start: 17:00
Start: 06/05/2010 - 17:00
End: 06/06/2010 - 20:00
Paroki Bunda Maria diberkati oleh Uskup Bandung dan diresmikan oleh Walikotamadya Cirebon pada tahun 1994. Paroki yang berjumlah umat sekitar 1.693 dan terletak di Jl. Dukuh Semar 34 ini merupakan pecahan dari Paroki http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/04/03/0007.html Alamat Paroki: Jadwal Misa: Dapatkan diskon hingga 25 % untuk pemberlian Buku-buku Rohani OBOR usai misa. Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas. Tuhan memberkati Start: 17:00
Start: 06/05/2010 - 17:00
End: 06/06/2010 - 20:00
PAROKI KE-32 ITU ADALAH CIJANTUNG UMAT PERDANA - Cikal bakal itu tumbuh dari komunitas tentara MENYANDANG STATUS STASI – Setelah 12 tahun perkembangannya MENJADI PAROKI - Setelah kurang lebih lima tahun berstatus stasi, Dengan menyandang predikat paroki ini, rencana baru muncul yaitu bagaimana membangun gedung gereja. Semangat yang menggebu-gebu ini ditandai dengan dibentuknya panitia persiapan pembangunan dengan dengan tugas menggalakkan usaha-usaha pencarian dana. Umat ikut berprihatin dalam keikutsertaannya membangun. Suasana pembangunan rumah ibadat benar-benar menjiwai setiap pertemuan dan pembicaraan umat di lingkungan-lingkungan. Pada tanggal 17 Februari 1980 dimulai pembangunan gedung gereja yang ditandai peletakan batu pertama oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ Uskup Agung Jakarta. Dalam rencana itu, sebuah komplek akan dibangun, di mana berdiri sebuah rumah ibadat, sebuah aula serbaguna dan gedung pastoran yang permanen. Pada tahap pertama dibangun gedung gereja dengan target waktu 8 bulan selesai. Dalam kotbahnya Mgr. Leo Soekoto menegaskan, “…kalau nanti gereja ini selesai dibangun, jangan sampai ada warga yang menyesal, karena untuk pembangunan gereja itu ia hanya menyumbang jauh di bawah kemampuannya; atau tidak menyumbang apa-apa, sebatang pakupun tidak; sebutir pasirpun tidak!...” Kotbah ini cukup mengena. Semua warga bahu membahu sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan berdirinya gedung gereja sesuai dengan targetnya. Mengenai target waktu pembangunan gereja ini, Romo Marto sempat mengingat kata-kata Uskup yang mengatakan demikian : “…dalam satu tahun lagi, saya akan tertawa. Tertawa senang kalau gereja Cijantung sungguh-sungguh selesai dibangun, atau tertawa mengejek kalau pembangunan belum selesai seperti janjinya…“ Delapan bulan setelah peletakan batu pertama atau tepatnya 23 November 1980, gedung gereja akhirnya diber-kati oleh Mgr. Leo Soekoto. Pada hari yang sama pula gedung gereja ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Tjokropranolo. Di tengah semangat membangun yang terus menyala, 2,500 jiwa umat menyambut pemberkatan gedung gereja dengan penuh rasa syukur. Mereka kini telah memiliki gedung gereja yang cukup besar dan megah. Alamat Paroki : Batas wilayah : http://parokicijantung.blogspot.com/ Jadual Misa Minggu: Info PAMERAN: Tuhan memperkati | ||
06 / 6
End: 20:00
Start: 06/05/2010 - 17:00
End: 06/06/2010 - 20:00
Paroki Bunda Maria diberkati oleh Uskup Bandung dan diresmikan oleh Walikotamadya Cirebon pada tahun 1994. Paroki yang berjumlah umat sekitar 1.693 dan terletak di Jl. Dukuh Semar 34 ini merupakan pecahan dari Paroki http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/04/03/0007.html Alamat Paroki: Jadwal Misa: Dapatkan diskon hingga 25 % untuk pemberlian Buku-buku Rohani OBOR usai misa. Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas. Tuhan memberkati End: 20:00
Start: 06/05/2010 - 17:00
End: 06/06/2010 - 20:00
PAROKI KE-32 ITU ADALAH CIJANTUNG UMAT PERDANA - Cikal bakal itu tumbuh dari komunitas tentara MENYANDANG STATUS STASI – Setelah 12 tahun perkembangannya MENJADI PAROKI - Setelah kurang lebih lima tahun berstatus stasi, Dengan menyandang predikat paroki ini, rencana baru muncul yaitu bagaimana membangun gedung gereja. Semangat yang menggebu-gebu ini ditandai dengan dibentuknya panitia persiapan pembangunan dengan dengan tugas menggalakkan usaha-usaha pencarian dana. Umat ikut berprihatin dalam keikutsertaannya membangun. Suasana pembangunan rumah ibadat benar-benar menjiwai setiap pertemuan dan pembicaraan umat di lingkungan-lingkungan. Pada tanggal 17 Februari 1980 dimulai pembangunan gedung gereja yang ditandai peletakan batu pertama oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ Uskup Agung Jakarta. Dalam rencana itu, sebuah komplek akan dibangun, di mana berdiri sebuah rumah ibadat, sebuah aula serbaguna dan gedung pastoran yang permanen. Pada tahap pertama dibangun gedung gereja dengan target waktu 8 bulan selesai. Dalam kotbahnya Mgr. Leo Soekoto menegaskan, “…kalau nanti gereja ini selesai dibangun, jangan sampai ada warga yang menyesal, karena untuk pembangunan gereja itu ia hanya menyumbang jauh di bawah kemampuannya; atau tidak menyumbang apa-apa, sebatang pakupun tidak; sebutir pasirpun tidak!...” Kotbah ini cukup mengena. Semua warga bahu membahu sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan berdirinya gedung gereja sesuai dengan targetnya. Mengenai target waktu pembangunan gereja ini, Romo Marto sempat mengingat kata-kata Uskup yang mengatakan demikian : “…dalam satu tahun lagi, saya akan tertawa. Tertawa senang kalau gereja Cijantung sungguh-sungguh selesai dibangun, atau tertawa mengejek kalau pembangunan belum selesai seperti janjinya…“ Delapan bulan setelah peletakan batu pertama atau tepatnya 23 November 1980, gedung gereja akhirnya diber-kati oleh Mgr. Leo Soekoto. Pada hari yang sama pula gedung gereja ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Tjokropranolo. Di tengah semangat membangun yang terus menyala, 2,500 jiwa umat menyambut pemberkatan gedung gereja dengan penuh rasa syukur. Mereka kini telah memiliki gedung gereja yang cukup besar dan megah. Alamat Paroki : Batas wilayah : http://parokicijantung.blogspot.com/ Jadual Misa Minggu: Info PAMERAN: Tuhan memperkati | ||
06 / 7
| ||
06 / 8
| ||
06 / 9
| ||
06 / 10
| ||
06 / 11
| ||
06 / 12
Start: 17:00
Start: 06/12/2010 - 17:00
End: 06/13/2010 - 20:00
Awal Misi di Cirebon dan Priangan Segera setelah imam-imam Jesuit pertama tiba di Batavia, mereka mengembangkan pula wilayah Jawa Barat bagian timur sebagai daerah penggembalaan. Pada tahun 1878 dibangunlah Stasi Cirebon, dengan Pastor A.v. Moorsel, SJ sebagai pastor stasi, yang wilayahnya meliputi pula Tegal dan Priangan. Pada tahun 1880 diresmikanlah Gereja St. Yosef. http://www.parokistyusuf.org/web/index.php/bp/artikel/84-kelahiran-keusk... Paroki St Yusuf Jadual Misa Info Pameran: (usai misa minggu ini) Tuhan memberkati | ||
06 / 13
End: 20:00
Start: 06/12/2010 - 17:00
End: 06/13/2010 - 20:00
Awal Misi di Cirebon dan Priangan Segera setelah imam-imam Jesuit pertama tiba di Batavia, mereka mengembangkan pula wilayah Jawa Barat bagian timur sebagai daerah penggembalaan. Pada tahun 1878 dibangunlah Stasi Cirebon, dengan Pastor A.v. Moorsel, SJ sebagai pastor stasi, yang wilayahnya meliputi pula Tegal dan Priangan. Pada tahun 1880 diresmikanlah Gereja St. Yosef. http://www.parokistyusuf.org/web/index.php/bp/artikel/84-kelahiran-keusk... Paroki St Yusuf Jadual Misa Info Pameran: (usai misa minggu ini) Tuhan memberkati | ||
06 / 14
| ||
06 / 15
| ||
06 / 16
| ||
06 / 17
| ||
06 / 18
| ||
06 / 19
Start: 17:00
Start: 06/19/2010 - 17:00
End: 06/20/2010 - 20:00
Paroki St. Bartolomeus Buku baptis dimulai sejak dipisahkan dari Paroki Bekasi tahun 1995. Gereja sekarang diberkati tahun 1997 di atas tanah yang disumbangkan oleh developer Taman Galaksi. Sebelumnya Misa dirayakan di pusat perbelanjaan Ramanda. Pastor pertama Alexius Dato, SVD, sejak itu digembalakan oleh imam Serikat Sabda Allah (SVD). Alamat: Jadual misa: Info Pameran: Tuhan memberkati. Start: 17:00
Start: 06/19/2010 - 17:00
End: 06/20/2010 - 20:00
Paroki Kristus Raja GEREJA ini dibangun dengan gaya tradisional Jawa Barat. Inspirasi awal bangunan ini berasal dari Pastor Made Sudjata OSC. Saat pergi ke Blitar, ia melihat suatu bangunan joglo yang luar biasa bagus. Tenyata, bangunan itu merupakan makam Bung Karno. Pastor Made berkeinginan membangun gereja seperti itu. Tetapi, dalam proses perencanaan, ia menghadapi kendala. Karena atap yang berbentuk runcing pada makam Bung Karno sama dengan rumah bupati Karawang waktu itu. Maka, akhirnya bentuk atap bangunan gereja diubah. Ada tiga bagian yang dominan pada bangunan. Pertama, bangunan utama. Kedua, atap. Ketiga, menara. Keterpaduan tiga hal ini mengandung konsep Tri Tunggal Mahakudus. Bentuk bangunan utama mengadung arti membumi seperti Kristus, yang mempersatukan orang dari berbagai bangsa. Kedua, bagian atap mengibaratkan Roh Kudus yang melayang-layang. Mengingatkan bahwa kita dipersatukan Roh Kudus. Bagian atas melambangkan Allah yang bertakhta. Selain itu, ketinggian bangunan ini berukuran 20 meter. Maksudnya, gereja ini dibangun pada abad ke-20. Bagian atas menara tidak diberi atap, sesungguhnya bukan karena perizinannya yang menjadi titik pokok. Tetapi, dapat mengandung makna pengembangan jemaat Allah yang terus-menerus tanpa pernah berkesudahan. Maka, orang sering berkomentar, Gereja Kristus Raja Karawang merupakan gereja yang tidak pernah kelar. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembangunan gereja ini sebenarnya tidak terlalu khusus. Hanya kayunya saja kayu nyato, jenis kayu yang cukup kuat yang tidak mudah dimakan rayap. Tetapi, secara keseluruhan bangunan ini tetap berprinsip pada kesederhanaan. Demikian penjelasan Ir J.A. Hartanto Wijaya, anggota dewan paroki. Prosesi jalan salib terletak di sepanjang tembok pagar gereja yang terbuat dari semen. Bila Masa Prapaskah tiba, umat Karawang melakukan prosesi jalan salib di sini. Demikian juga di bagian dinding gereja terdapat hiasan kaca patri yang didesain khusus dengan motif daun palma. Mengambarkan Yesus yang disambut dengan daun palma ketika datang ke Yerusalem. Terbuka Gereja ini sengaja dibuat terbuka, bukan hanya karena ingin menyiasati pengudaraan saja. Tetapi, juga agar tidak menimbulkan kesan eksklusif. Selain itu, sengaja dibuat terbuka agar umat lebih terpanggil untuk masuk dari berbagai arah. Cat yang digunakan berwarna hijau agar mempunyai kesan menyatu dengan lingkungan persawahan. Bangunan memang direncanakan sebagai sentral dari fasilitas-fasilitas bangunan penunjang yang berada di sekeliling gereja. Pola bangunan berbentuk segi empat mengandung filosofi keempat pengarang Injil. Hal ini tercermin dari adanya lambang-lambang keempat pengarang Injil yang berada di sebelah kiri dan kanan bangunan yang terbuat dari kaca patri. Di setiap sisi bangunan terdapat teras yang mengandung arti ‘selamat datang’ bagi setiap orang yang akan masuk gereja. Dalam dunia arsitektur, bangunan berbentuk segi empat akan memudahkan pengembangan bangunan di setiap sisinya. Sampai saat ini umat Karawang mengakui adanya rencana Ilahi yang luar biasa. Di mana gereja yang sebelumnya kecil sekarang menjadi lebih besar. Parkir yang tadinya tidak dimiliki, sekarang menjadi parkir yang luas. Hingga saat ini luas tanah yang dimiliki Gereja kurang lebih satu hektar. Selain itu, aktivitas peribadatan dapat berlangsung tanpa ada gangguan suara bising karena berada di tengah-tengah sawah. Jalan panjang Mereka melayangkan surat protes atas keberadaan gereja. Hingga Adven 1993 terjadi gangguan yang sangat serius. Karena situasi yang tidak memungkinkan, setelah Pekan Suci 1994 kegiatan Ekaristi dipindahkan ke kompleks Sekolah Yos Sudarso. Kemudian Panitia Pembangunan Gereja (PPG) yang sudah terbentuk memulai langkah-langkah konkret. Bersama Pastor Ag. Made Sudjata OSC, panitia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan aparat Pemerintah Daerah. Banyak kendala yang mereka hadapi sehubungan dengan permohonan izin mendirikan gereja. Setelah melalui perjuangan yang sangat berat, akhirnya terlaksanalah peletakan batu pertama pembangunan Oktober 1994. Dari situ, ada dua titik pokok yang dapat dipetik umat Karawang. Pertama, gereja ini menjadi anugerah di mana sebelumnya gereja hanya berupa gudang kecil, sekarang malah menjadi gedung. Kedua, gereja ini menjadi rencana Ilahi karena diberikan kemudahan untuk pindah dan diberi izin. Setelah memperoleh izin, ada tiga proses lagi yang perlu dijalani panitia. Pertama, mencari tanah yang cocok, kedua, membangun gereja, dan ketiga, membangun pastoran dan gedung serba guna. Syukurlah, ternyata rencana Ilahi itu benar-benar terjadi. Akhirnya, panitia mendapat sumber dana dari banyak pihak hingga berdirilah Gereja Kristus Raja Karawang. Oleh masyarakat Karawang, gereja ini disebut sebagai Gereja Sawah. Sumber: (Majalah Hidup-A. Sudarmanto) Jadual Misa: Info Pameran: Tuhan memberkati! | ||
06 / 20
End: 20:00
Start: 06/19/2010 - 17:00
End: 06/20/2010 - 20:00
Paroki St. Bartolomeus Buku baptis dimulai sejak dipisahkan dari Paroki Bekasi tahun 1995. Gereja sekarang diberkati tahun 1997 di atas tanah yang disumbangkan oleh developer Taman Galaksi. Sebelumnya Misa dirayakan di pusat perbelanjaan Ramanda. Pastor pertama Alexius Dato, SVD, sejak itu digembalakan oleh imam Serikat Sabda Allah (SVD). Alamat: Jadual misa: Info Pameran: Tuhan memberkati. End: 20:00
Start: 06/19/2010 - 17:00
End: 06/20/2010 - 20:00
Paroki Kristus Raja GEREJA ini dibangun dengan gaya tradisional Jawa Barat. Inspirasi awal bangunan ini berasal dari Pastor Made Sudjata OSC. Saat pergi ke Blitar, ia melihat suatu bangunan joglo yang luar biasa bagus. Tenyata, bangunan itu merupakan makam Bung Karno. Pastor Made berkeinginan membangun gereja seperti itu. Tetapi, dalam proses perencanaan, ia menghadapi kendala. Karena atap yang berbentuk runcing pada makam Bung Karno sama dengan rumah bupati Karawang waktu itu. Maka, akhirnya bentuk atap bangunan gereja diubah. Ada tiga bagian yang dominan pada bangunan. Pertama, bangunan utama. Kedua, atap. Ketiga, menara. Keterpaduan tiga hal ini mengandung konsep Tri Tunggal Mahakudus. Bentuk bangunan utama mengadung arti membumi seperti Kristus, yang mempersatukan orang dari berbagai bangsa. Kedua, bagian atap mengibaratkan Roh Kudus yang melayang-layang. Mengingatkan bahwa kita dipersatukan Roh Kudus. Bagian atas melambangkan Allah yang bertakhta. Selain itu, ketinggian bangunan ini berukuran 20 meter. Maksudnya, gereja ini dibangun pada abad ke-20. Bagian atas menara tidak diberi atap, sesungguhnya bukan karena perizinannya yang menjadi titik pokok. Tetapi, dapat mengandung makna pengembangan jemaat Allah yang terus-menerus tanpa pernah berkesudahan. Maka, orang sering berkomentar, Gereja Kristus Raja Karawang merupakan gereja yang tidak pernah kelar. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembangunan gereja ini sebenarnya tidak terlalu khusus. Hanya kayunya saja kayu nyato, jenis kayu yang cukup kuat yang tidak mudah dimakan rayap. Tetapi, secara keseluruhan bangunan ini tetap berprinsip pada kesederhanaan. Demikian penjelasan Ir J.A. Hartanto Wijaya, anggota dewan paroki. Prosesi jalan salib terletak di sepanjang tembok pagar gereja yang terbuat dari semen. Bila Masa Prapaskah tiba, umat Karawang melakukan prosesi jalan salib di sini. Demikian juga di bagian dinding gereja terdapat hiasan kaca patri yang didesain khusus dengan motif daun palma. Mengambarkan Yesus yang disambut dengan daun palma ketika datang ke Yerusalem. Terbuka Gereja ini sengaja dibuat terbuka, bukan hanya karena ingin menyiasati pengudaraan saja. Tetapi, juga agar tidak menimbulkan kesan eksklusif. Selain itu, sengaja dibuat terbuka agar umat lebih terpanggil untuk masuk dari berbagai arah. Cat yang digunakan berwarna hijau agar mempunyai kesan menyatu dengan lingkungan persawahan. Bangunan memang direncanakan sebagai sentral dari fasilitas-fasilitas bangunan penunjang yang berada di sekeliling gereja. Pola bangunan berbentuk segi empat mengandung filosofi keempat pengarang Injil. Hal ini tercermin dari adanya lambang-lambang keempat pengarang Injil yang berada di sebelah kiri dan kanan bangunan yang terbuat dari kaca patri. Di setiap sisi bangunan terdapat teras yang mengandung arti ‘selamat datang’ bagi setiap orang yang akan masuk gereja. Dalam dunia arsitektur, bangunan berbentuk segi empat akan memudahkan pengembangan bangunan di setiap sisinya. Sampai saat ini umat Karawang mengakui adanya rencana Ilahi yang luar biasa. Di mana gereja yang sebelumnya kecil sekarang menjadi lebih besar. Parkir yang tadinya tidak dimiliki, sekarang menjadi parkir yang luas. Hingga saat ini luas tanah yang dimiliki Gereja kurang lebih satu hektar. Selain itu, aktivitas peribadatan dapat berlangsung tanpa ada gangguan suara bising karena berada di tengah-tengah sawah. Jalan panjang Mereka melayangkan surat protes atas keberadaan gereja. Hingga Adven 1993 terjadi gangguan yang sangat serius. Karena situasi yang tidak memungkinkan, setelah Pekan Suci 1994 kegiatan Ekaristi dipindahkan ke kompleks Sekolah Yos Sudarso. Kemudian Panitia Pembangunan Gereja (PPG) yang sudah terbentuk memulai langkah-langkah konkret. Bersama Pastor Ag. Made Sudjata OSC, panitia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan aparat Pemerintah Daerah. Banyak kendala yang mereka hadapi sehubungan dengan permohonan izin mendirikan gereja. Setelah melalui perjuangan yang sangat berat, akhirnya terlaksanalah peletakan batu pertama pembangunan Oktober 1994. Dari situ, ada dua titik pokok yang dapat dipetik umat Karawang. Pertama, gereja ini menjadi anugerah di mana sebelumnya gereja hanya berupa gudang kecil, sekarang malah menjadi gedung. Kedua, gereja ini menjadi rencana Ilahi karena diberikan kemudahan untuk pindah dan diberi izin. Setelah memperoleh izin, ada tiga proses lagi yang perlu dijalani panitia. Pertama, mencari tanah yang cocok, kedua, membangun gereja, dan ketiga, membangun pastoran dan gedung serba guna. Syukurlah, ternyata rencana Ilahi itu benar-benar terjadi. Akhirnya, panitia mendapat sumber dana dari banyak pihak hingga berdirilah Gereja Kristus Raja Karawang. Oleh masyarakat Karawang, gereja ini disebut sebagai Gereja Sawah. Sumber: (Majalah Hidup-A. Sudarmanto) Jadual Misa: Info Pameran: Tuhan memberkati! | ||
06 / 21
| ||
06 / 22
| ||
06 / 23
| ||
06 / 24
| ||
06 / 25
| ||
06 / 26
Start: 17:00
Start: 06/26/2010 - 17:00
End: 06/27/2010 - 20:30
Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor tidak bisa kita lepaskan dari peranan dua tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. AC. Claessens, Pr dan Pastor MYD Claessens, Pr. Pada tahun 1881 Mgr. AC. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, Seminari, Sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Semula tempat itu digunakan sebagai tempat peristirahatan dan Misa Kudus para tamu dari Jakarta. Namun, dengan dimilikinya rumah tersebut, juga menjadi awal umat Katolik memisahkan diri dari penggunaan Gereja Simultan/ekumene sebelumnya. Pada tahun itu pula pastor MYD. Claessen mulai menetap di Bogor. Pada tahun 1986 MYD. Claessen memulai karya pastoralnya untuk mendirikan Panti Asuhan untuk anak-anak. Saat itu bangunan rumah Panti Asuhan tersebut baru bisa menampung 6 orang anak. Usaha pastoral itu kemudian di kembangkan hingga menjadi yayasan Vincentius pada tahun 1987, sehingga pada tahun 1988 mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral. Pada tahun 1907 Pastor MYD. Claessens kembali ke Nederland setelah selama 30 tahun beliau berkarya di Bogor Jawa Barat, 27 tahun kemudian, tepatnya tahun 1934, beliau dipanggil oleh yang Maha Kuasa dalam usia 82 tahun. Semenjak kepergian Pastor Claessens, Stasi misi tetap Bogor ditangani oleh Pastor Antonius Petrus Fransiskus van Velsen, SJ. Tetapi pada tahun 1924 Pastor Antonius Van Velsen diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia, sehingga Bogor yang saat itu sudah menjadi Paroki diserahkan kepada Pastor OFM Conventual. Pada bulan Nopember tahun 1957 Paroki Bogor dipisahkan dengan Vikariat Apostolik Batavia dan digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi. Pada tahun 1961 Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan dengan nama Keuskupan Bogor. Gereja Paroki Bogorlah yang dijadikan sebagai Gereja Katedral Keuskupan Bogor. Dengan demikian, Paroki Bogor namanya berubah menjadi Paroki Katedral Bogor. Pengembangan Umat Jika kita amati perkembangan sejarah Paroki Katedral di atas, maka pada awal berdirinya Paroki Katedral mayoritas umatnya berkebangsaan Belanda. Namun jika kita lihat sekarang, maka umat Paroki Katedral terdiri dari berbagai suku seperti: Suku Tionghoa, Jawa, Batak, Flores dan lain-lainnya. Menurut data permandian (sekarang sudah memasuki buku XX) jumlah perkembangan umat dari tahun ketahun menunjukan suatu peningkatan. Perkembangan drastis terjadi antara tahun 1960 sampai tahun 1975-an. Misalnya saja, sampai bulan Januari 1962 jumlah baptisan tercatat 387 orang dan awal tahun 1965 sudah tercatat 976 baptisan, demikian pula pengembangan tahun-tahun berikutnya. Menurut data statistik terakhir, (Desember 1997), jumlah umat Paroki Katedral mencapai 11.907 umat, dan bulan Desember 1998 ini diperkirakan jumlahnya sudah mencapai 12.300 umat. Perkiraan perkembangan umat tahun demi tahun tersebut diatas agaknya sudah diprediksikan oleh para Pastor yang bertugas di Katedral, sehingga mereka juga dapat membina umat, menyiapkan tanah atau lokasi yang memungkinkan untuk mendirikan gereja-gereja Stasi dari Paroki Katedral. Kapel pertama adalah Kapel St. Yohanes Rasul Ciampea yang mulai dibangun tahun 1974. Bangunan Kapel tersebut sangat sederhana dengan perlengkapan yang sederhana pula. Kapel tersebut direnovasi oleh swadaya umat pada bulan Maret 1991, yang kemudian pada tanggal 1 Maret 1992 diresmikan oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr. Kapel yang direnovasi ini kemudian juga dilengkapi dengan segala fasilitas pengembangan iman. Hal tersebut bukan saja untuk umat setempat, tetapi juga untuk mengantisipasi perkembangan umat dari daerah Ciomas, Cigudeg sampai daerah sekitar Leuwiliang, bahkan Jasinga. Kapel ke dua adalah Kapel Ekumenis di Semplak. Kapel ini berdiri diatas usaha Peter G.W.J. Ruijs, OFM. Pada tahun 1976 yang berusaha mencari bantuan dari sebuah yayasan Sosial Negeri Belanda. Selain mendapat bantuan dari yayasan tersebut, Kapel bersama antara umat Protestan dan Katolik ini dibangun di komleks AURI atas sumbangan dari komandan AURI dan swadaya umat. Hingga kini Kapel ini berkapasitas 350 orang dan tetap digunakan sebagai kegiatan bersama dengan Gereja Protestan yang tentunya dengan jadwal yang berbeda pula. Kapel ke tiga adalah Kapel Pondok Rumput. Kapel ini didirikan pada tahun 1978 atas swadaya umat, para donatur serta bantuan Paroki. Kapel ini semula di gunakan sebagai wadah kegiatan dan perayaan iman umat di daerah sekitar jalan baru hingga CiIebut - Bojong Gede. Tetapi karena letaknta yang kurang strategis mengingat dari segi transportasi kurang menguntungkan, maka umat di sekitar jalan Baru sampai Bojong Gede Cilebut lebih memilih Katedral. Namun demikian, Kapel yang berkapasitas 200 orang ini sudah cukup padat di penuhi umat setempat. Kapel ke empat adalah gedung serba guna Kedung Badak Baru, yang didirikan pada tahun 1987. Kapel ini juga digunakan sebagai sarana kegiatan iman umat wilayah jalan Baru mengingat Kedung Badak Baru adalah cikal bakal umat wilayah jalan Baru. Tetapi mengingat tempatnya juga dirasakan kurang strategis, maka penggunaannya hanya untuk umat setempat, meski juga tidak menutup kemungkinan di gunakan oleh lingkungan lain. Yang lebih mengherankan adalah warga setempat justru mayoritas non- Katolik. Satu Kapel yang hingga kini belum mungkin di bangun adalah diatas sebidang tanah yang berlokasi di wilayah Ciomas. Sebetulnya baik umat maupun dana sudah siap untuk membangun Kapel tersebut, namun kendala yang hingga kini dihadapi adalah belum juga selesainya surat ijin membangun (IMB) yang sempat terhenti di pemerintah daerah setempat. Sebagai antisipasi perkembangan umat di wilayah jalan Baru hingga Parung, kini Paroki Katedral telah menyiapkan dan membeli sebidang tanah seluas 4000 meter persegi di Kahuripan dan 3000 meter persegi di Taman Jasmin. Demikian pula untuk pengembangan umat kearah Cilebut - Bojong Gede hingga dengan perbatasan Cibinong serta Depok, Paroki Katedral sudah menyiapkan tanah seluas 3000 meter persegi di Bojong Gede. Kita berdoa agar harapan mulia itu senantiasa di beri jalan terang dari yang Maha Kuasa. http://www.keuskupanbogor.org/paroki/bogorkatedral.htm Jadwal Misa: Info Pameran: Tuhan memberkati | ||
06 / 27
End: 20:30
Start: 06/26/2010 - 17:00
End: 06/27/2010 - 20:30
Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor tidak bisa kita lepaskan dari peranan dua tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. AC. Claessens, Pr dan Pastor MYD Claessens, Pr. Pada tahun 1881 Mgr. AC. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, Seminari, Sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Semula tempat itu digunakan sebagai tempat peristirahatan dan Misa Kudus para tamu dari Jakarta. Namun, dengan dimilikinya rumah tersebut, juga menjadi awal umat Katolik memisahkan diri dari penggunaan Gereja Simultan/ekumene sebelumnya. Pada tahun itu pula pastor MYD. Claessen mulai menetap di Bogor. Pada tahun 1986 MYD. Claessen memulai karya pastoralnya untuk mendirikan Panti Asuhan untuk anak-anak. Saat itu bangunan rumah Panti Asuhan tersebut baru bisa menampung 6 orang anak. Usaha pastoral itu kemudian di kembangkan hingga menjadi yayasan Vincentius pada tahun 1987, sehingga pada tahun 1988 mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral. Pada tahun 1907 Pastor MYD. Claessens kembali ke Nederland setelah selama 30 tahun beliau berkarya di Bogor Jawa Barat, 27 tahun kemudian, tepatnya tahun 1934, beliau dipanggil oleh yang Maha Kuasa dalam usia 82 tahun. Semenjak kepergian Pastor Claessens, Stasi misi tetap Bogor ditangani oleh Pastor Antonius Petrus Fransiskus van Velsen, SJ. Tetapi pada tahun 1924 Pastor Antonius Van Velsen diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia, sehingga Bogor yang saat itu sudah menjadi Paroki diserahkan kepada Pastor OFM Conventual. Pada bulan Nopember tahun 1957 Paroki Bogor dipisahkan dengan Vikariat Apostolik Batavia dan digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi. Pada tahun 1961 Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan dengan nama Keuskupan Bogor. Gereja Paroki Bogorlah yang dijadikan sebagai Gereja Katedral Keuskupan Bogor. Dengan demikian, Paroki Bogor namanya berubah menjadi Paroki Katedral Bogor. Pengembangan Umat Jika kita amati perkembangan sejarah Paroki Katedral di atas, maka pada awal berdirinya Paroki Katedral mayoritas umatnya berkebangsaan Belanda. Namun jika kita lihat sekarang, maka umat Paroki Katedral terdiri dari berbagai suku seperti: Suku Tionghoa, Jawa, Batak, Flores dan lain-lainnya. Menurut data permandian (sekarang sudah memasuki buku XX) jumlah perkembangan umat dari tahun ketahun menunjukan suatu peningkatan. Perkembangan drastis terjadi antara tahun 1960 sampai tahun 1975-an. Misalnya saja, sampai bulan Januari 1962 jumlah baptisan tercatat 387 orang dan awal tahun 1965 sudah tercatat 976 baptisan, demikian pula pengembangan tahun-tahun berikutnya. Menurut data statistik terakhir, (Desember 1997), jumlah umat Paroki Katedral mencapai 11.907 umat, dan bulan Desember 1998 ini diperkirakan jumlahnya sudah mencapai 12.300 umat. Perkiraan perkembangan umat tahun demi tahun tersebut diatas agaknya sudah diprediksikan oleh para Pastor yang bertugas di Katedral, sehingga mereka juga dapat membina umat, menyiapkan tanah atau lokasi yang memungkinkan untuk mendirikan gereja-gereja Stasi dari Paroki Katedral. Kapel pertama adalah Kapel St. Yohanes Rasul Ciampea yang mulai dibangun tahun 1974. Bangunan Kapel tersebut sangat sederhana dengan perlengkapan yang sederhana pula. Kapel tersebut direnovasi oleh swadaya umat pada bulan Maret 1991, yang kemudian pada tanggal 1 Maret 1992 diresmikan oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr. Kapel yang direnovasi ini kemudian juga dilengkapi dengan segala fasilitas pengembangan iman. Hal tersebut bukan saja untuk umat setempat, tetapi juga untuk mengantisipasi perkembangan umat dari daerah Ciomas, Cigudeg sampai daerah sekitar Leuwiliang, bahkan Jasinga. Kapel ke dua adalah Kapel Ekumenis di Semplak. Kapel ini berdiri diatas usaha Peter G.W.J. Ruijs, OFM. Pada tahun 1976 yang berusaha mencari bantuan dari sebuah yayasan Sosial Negeri Belanda. Selain mendapat bantuan dari yayasan tersebut, Kapel bersama antara umat Protestan dan Katolik ini dibangun di komleks AURI atas sumbangan dari komandan AURI dan swadaya umat. Hingga kini Kapel ini berkapasitas 350 orang dan tetap digunakan sebagai kegiatan bersama dengan Gereja Protestan yang tentunya dengan jadwal yang berbeda pula. Kapel ke tiga adalah Kapel Pondok Rumput. Kapel ini didirikan pada tahun 1978 atas swadaya umat, para donatur serta bantuan Paroki. Kapel ini semula di gunakan sebagai wadah kegiatan dan perayaan iman umat di daerah sekitar jalan baru hingga CiIebut - Bojong Gede. Tetapi karena letaknta yang kurang strategis mengingat dari segi transportasi kurang menguntungkan, maka umat di sekitar jalan Baru sampai Bojong Gede Cilebut lebih memilih Katedral. Namun demikian, Kapel yang berkapasitas 200 orang ini sudah cukup padat di penuhi umat setempat. Kapel ke empat adalah gedung serba guna Kedung Badak Baru, yang didirikan pada tahun 1987. Kapel ini juga digunakan sebagai sarana kegiatan iman umat wilayah jalan Baru mengingat Kedung Badak Baru adalah cikal bakal umat wilayah jalan Baru. Tetapi mengingat tempatnya juga dirasakan kurang strategis, maka penggunaannya hanya untuk umat setempat, meski juga tidak menutup kemungkinan di gunakan oleh lingkungan lain. Yang lebih mengherankan adalah warga setempat justru mayoritas non- Katolik. Satu Kapel yang hingga kini belum mungkin di bangun adalah diatas sebidang tanah yang berlokasi di wilayah Ciomas. Sebetulnya baik umat maupun dana sudah siap untuk membangun Kapel tersebut, namun kendala yang hingga kini dihadapi adalah belum juga selesainya surat ijin membangun (IMB) yang sempat terhenti di pemerintah daerah setempat. Sebagai antisipasi perkembangan umat di wilayah jalan Baru hingga Parung, kini Paroki Katedral telah menyiapkan dan membeli sebidang tanah seluas 4000 meter persegi di Kahuripan dan 3000 meter persegi di Taman Jasmin. Demikian pula untuk pengembangan umat kearah Cilebut - Bojong Gede hingga dengan perbatasan Cibinong serta Depok, Paroki Katedral sudah menyiapkan tanah seluas 3000 meter persegi di Bojong Gede. Kita berdoa agar harapan mulia itu senantiasa di beri jalan terang dari yang Maha Kuasa. http://www.keuskupanbogor.org/paroki/bogorkatedral.htm Jadwal Misa: Info Pameran: Tuhan memberkati | ||
06 / 28
| ||
06 / 29
| ||
06 / 30
| ||
07 / 1
| ||
07 / 2
| ||
07 / 3
Start: 17:00
Start: 07/03/2010 - 17:00
End: 07/04/2010 - 20:00
Ada yang mengatakan bahwa nama "Depok" adalah singkatan dari "De Eerste Protestants Onderdaan Kerk", yang artinya "Gereja Kristen Rakyat Pertama" atau "Gereja Warganegara Protestan Pertama". Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714). Beliau adalah seorang tuan tanah yang membeli banyak budak dari Bali, Sulawesi dan Timor untuk ditempatkan dipersawahannya. Ketika para budak tersebut menjadi kristen, mereka dibebaskan dan diberikan hadiah tanah di Depok (1714). Rupanya dengan menjadi kristen, kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang Belanda. Para budak yang merdeka ini terbagi ke dalam 12 suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Leon, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keterunan mereka, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein) Depok Menjadi Sebuah Paroki Seiring dengan perjalanan waktu, di tengah dominasi orang protestan muncullah orang-orang Katolik di Depok. Diperkirakan pada tahun 1927 sudah ada beberapa keluarga katolik yang menetap di Depok, mereka mengikuti perayaan misa di Bogor atau di Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jumlah umat maka pada akhir tahun 40-an pastor-pastor dari Bogor mulai menjalani misa umat di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah, yang lama kelamaan frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu. Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI dan tanah-tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah Indonesia, banyak orang Belanda yang kembali ke negerinya, termasuk penghuni Jl. Melati 4, Depok. Namun, berkat usaha yang gigih dari Mgr. Dr. N. Geise, OFM., maka tanah tersebut berhasil dibeli. Pada akhir tahun 50-an berdirilah gereja Santo Paulus Depok di jalan Melati Nomor 4 Depok . Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Peter J.J Rossen. Beliau kembali ke negerinya dan digantikan oleh Pater Herkulanus Frankhuyzen. Sekembali dari cutinya (1964), Pater Frankhuyzen dipindah tugaskan ke seminari Cicurug, Sementara itu umat katolik Depok dilayani secara bergantian oleh Mgr. N. Geise, OFM, Pater R.J Koesnen OFM, Pater Anton Ban OFM dan pater muda yaitu Pater Micheal Angkur, OFM (saat ini adalah uskup Bogor). Pada akhir tahun 60-an Pater Frankhuyzen kembali ke dan menetap di Depok. Pada bulan September 1973 ia merayakan 50 tahun hidup mebiara. Perayaan berlangsung di SD MardiYuana, yang hadir di Depok sejak 1 Agustus 1960 dan yang kehadiran dan perkembangannya tak dapat dilepaskan dari peran penting Pater Frankhuyzen OFM disamping Mgr. Geise OFM. Pater Yohanes Ma'mun Muktar OFM, yang baru kembali dari mengikuti "kursus kharismatik" di Australia, memberikan warna kharismatik dalam pelayanan pastoral pada umat di Depok pada tahun 1975. Anak seorang haji di Sukabumi ini meninggal dalam usia muda pada 10 Agustus 1976 (lahir 1 Juni 1941) di Bogor, setelah lebih kurang 10 hari berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan lalulintas di Puncak Jawa Barat. Perkembangan Paroki Santo Paulus selanjutnya tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan penyangga Ibukota. Dalam rangka itu, pada tahun 1976 dibangunlah Perumnas Depok I (Depok Jaya) dan Depok Utara, kemudian disusul dengan Perumnas Depok II dan Depok Timur. Seiring dengan itu, penghuni-penghuni baru membanjiri Depok termasuk umat Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan umat katolik yang cukup besar jumlahnya di Depok I dan Depok Utara, maka pada tahun1977-1978 dibangunlah sebuah gereja sederhana di jalan Irian Jaya. Semua itu tidak terlepas dari jasa almarhum Bapak Dom Renetyo. Gereja sederhana itu "dipabtis" oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. (saat itu sebagai Uskup Bogor) dengan nama HERKULANUS. Nama gereja tersebut diharapkan agar umat Katolik tidak melupakan jasa besar Pater Herkulanus Frankhuyzen dalam persemaian benih Injilnya di Depok. Keberadaan Gererja Herkulanus diperkuat oleh perhatian Pater R.J. Koesnen, OFM. yang bertugas di Depok menggantikan almarhum Pater Frankhuyzen (meninggal 1978). Pater RJ. Koesnan, OFM. menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak. Ini terbukti dengan berdirinya TK dan SD Santa Theresia pada tanggal 18 Juli 1982, yang berlokasi tepat disamping Gereja St. Herkulanus. Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus. Adanya kampus Universitas Indonesia, Novisiat Transitus (diresmikan oleh Vicaris General OFM dari Roma, Pater Onorio Pontoglio OFM pada bulan September 1984) dan beberapa Real Estate di Depok menambah jumlah umat Katolik di Depok. Dua buah gereja yang telah ada (Gereja Santo Herkulanus dan Santo Paulus) tidak dapat menampung jumlah umat dalam misa mingguan. Timbul rencana untuk membangun sebuah gereja yang kapasitasnya melebihi Gereja Santo Paulus. Pada bulan Maret 1986, Pater RJ. Koensen, OFM dan Pater Guido Brod OFM meletakkan batu pertama untuk gedung pastoran, kemudian disusul dengan peletakan batu pertama untuk gedung gereja oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. dan Bapak Drs. Erno (Sekretaris Kotif Depok). Berkat kerja keras dan dukungan dari umat serta bantuan para donator, maka gedung gereja dan pastoran selesai dibangun. Bangunan tersebut diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada tanggal 3 Juli 1988. Lima tahun kemudian (1993) Gereja Herkulanus di Jalan Irian di renovasi dengan menghabiskan biaya yang cukup besar. Prinsip "Kalau ada Kemauan Pasti ada Jalan" sungguh dihayati dan dialami oleh umat Paroki St. Paulus Depok yang sebagian besar memiliki taraf ekonomi tingkat menengah kebawah. Berkembang Ke Sekitar Depok Disamping pelayanan pastoral terhadap umat yang terorganisasi dalam dua gereja tersebut (Gereja Santo Paulus dan Santo Herkulanus) sejak tahun 1982 para pastor dari paroki St. Paulus juga melayani misa dan pelayanan sakramental lainnya untuk umat di daerah Gunung Sindur, Parung, Bojongsari ARCO dan sekitarnya. Pelayanan ini dimulai dengan kehadiran Pater Guido Brod OFM di paroki St. Paulus Depok yang kemudian diperkuat oleh suster-suster ADSK (hadir di Depok sejak 1987-1989). Misa mingguan untuk umat yang terpencar ini dilayani secara bergantian berdasarkan kelompok: ARCO Bojongsari, Gunung Sindur dan Parung. Sejak tahun 1989, pelayanan misa mingguan dipusatkan pada satu tempat yaitu di rumah Bapak Wempy Suhendar (Bojongsari). Sejak saat itu kelompok ini menjadi stasi dari Paroki St. Paulus Depok dengan "nama baptis" Yohanes Pembaptis, Parung. Pemusatan pelayanan di rumah Bapak Wempy (alm) berlangsung sampai tahun 1992, sejak saat itu sampai sekarang pelayanan dipusatkan di Restoran Lebak Wangi milik Bapak Juhari. Umat stasi telah membeli tanah seluas 7000 meter di daerah Parung untuk pembangunan gedung gereja. Proses sertifikasi terus berlangsung walaupun agak tersendat-sendat. Walaupun kemampuan ekonomi terbatas, tetapi melihat semangat umat yang begitu besar, tampaknya keinginan untuk memiliki gereja sendiri dapat menjadi kenyataan; apalagi melihat jumlah umat dari tahun ke tahun selalu bertambah. Penutup Jumlah umat pada tahun 1927 hanya beberapa orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Saat ini Paroki St. Paulus Depok dilayani oleh 2 orang pastor, dan untuk misa mingguan dibantu oleh imam dari Novisiat Transitus. Nama Pelindung : Santo Paulus Jadwal Misa Kudus: http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depok.htm Dalam Rangka HUT Paroki yang ke 50 tahun, OBOR Mengadakan pameran di paroki ini. Tuhan memberkati | ||
07 / 4
End: 20:00
Start: 07/03/2010 - 17:00
End: 07/04/2010 - 20:00
Ada yang mengatakan bahwa nama "Depok" adalah singkatan dari "De Eerste Protestants Onderdaan Kerk", yang artinya "Gereja Kristen Rakyat Pertama" atau "Gereja Warganegara Protestan Pertama". Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714). Beliau adalah seorang tuan tanah yang membeli banyak budak dari Bali, Sulawesi dan Timor untuk ditempatkan dipersawahannya. Ketika para budak tersebut menjadi kristen, mereka dibebaskan dan diberikan hadiah tanah di Depok (1714). Rupanya dengan menjadi kristen, kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang Belanda. Para budak yang merdeka ini terbagi ke dalam 12 suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Leon, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keterunan mereka, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein) Depok Menjadi Sebuah Paroki Seiring dengan perjalanan waktu, di tengah dominasi orang protestan muncullah orang-orang Katolik di Depok. Diperkirakan pada tahun 1927 sudah ada beberapa keluarga katolik yang menetap di Depok, mereka mengikuti perayaan misa di Bogor atau di Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jumlah umat maka pada akhir tahun 40-an pastor-pastor dari Bogor mulai menjalani misa umat di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah, yang lama kelamaan frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu. Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI dan tanah-tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah Indonesia, banyak orang Belanda yang kembali ke negerinya, termasuk penghuni Jl. Melati 4, Depok. Namun, berkat usaha yang gigih dari Mgr. Dr. N. Geise, OFM., maka tanah tersebut berhasil dibeli. Pada akhir tahun 50-an berdirilah gereja Santo Paulus Depok di jalan Melati Nomor 4 Depok . Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Peter J.J Rossen. Beliau kembali ke negerinya dan digantikan oleh Pater Herkulanus Frankhuyzen. Sekembali dari cutinya (1964), Pater Frankhuyzen dipindah tugaskan ke seminari Cicurug, Sementara itu umat katolik Depok dilayani secara bergantian oleh Mgr. N. Geise, OFM, Pater R.J Koesnen OFM, Pater Anton Ban OFM dan pater muda yaitu Pater Micheal Angkur, OFM (saat ini adalah uskup Bogor). Pada akhir tahun 60-an Pater Frankhuyzen kembali ke dan menetap di Depok. Pada bulan September 1973 ia merayakan 50 tahun hidup mebiara. Perayaan berlangsung di SD MardiYuana, yang hadir di Depok sejak 1 Agustus 1960 dan yang kehadiran dan perkembangannya tak dapat dilepaskan dari peran penting Pater Frankhuyzen OFM disamping Mgr. Geise OFM. Pater Yohanes Ma'mun Muktar OFM, yang baru kembali dari mengikuti "kursus kharismatik" di Australia, memberikan warna kharismatik dalam pelayanan pastoral pada umat di Depok pada tahun 1975. Anak seorang haji di Sukabumi ini meninggal dalam usia muda pada 10 Agustus 1976 (lahir 1 Juni 1941) di Bogor, setelah lebih kurang 10 hari berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan lalulintas di Puncak Jawa Barat. Perkembangan Paroki Santo Paulus selanjutnya tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan penyangga Ibukota. Dalam rangka itu, pada tahun 1976 dibangunlah Perumnas Depok I (Depok Jaya) dan Depok Utara, kemudian disusul dengan Perumnas Depok II dan Depok Timur. Seiring dengan itu, penghuni-penghuni baru membanjiri Depok termasuk umat Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan umat katolik yang cukup besar jumlahnya di Depok I dan Depok Utara, maka pada tahun1977-1978 dibangunlah sebuah gereja sederhana di jalan Irian Jaya. Semua itu tidak terlepas dari jasa almarhum Bapak Dom Renetyo. Gereja sederhana itu "dipabtis" oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. (saat itu sebagai Uskup Bogor) dengan nama HERKULANUS. Nama gereja tersebut diharapkan agar umat Katolik tidak melupakan jasa besar Pater Herkulanus Frankhuyzen dalam persemaian benih Injilnya di Depok. Keberadaan Gererja Herkulanus diperkuat oleh perhatian Pater R.J. Koesnen, OFM. yang bertugas di Depok menggantikan almarhum Pater Frankhuyzen (meninggal 1978). Pater RJ. Koesnan, OFM. menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak. Ini terbukti dengan berdirinya TK dan SD Santa Theresia pada tanggal 18 Juli 1982, yang berlokasi tepat disamping Gereja St. Herkulanus. Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus. Adanya kampus Universitas Indonesia, Novisiat Transitus (diresmikan oleh Vicaris General OFM dari Roma, Pater Onorio Pontoglio OFM pada bulan September 1984) dan beberapa Real Estate di Depok menambah jumlah umat Katolik di Depok. Dua buah gereja yang telah ada (Gereja Santo Herkulanus dan Santo Paulus) tidak dapat menampung jumlah umat dalam misa mingguan. Timbul rencana untuk membangun sebuah gereja yang kapasitasnya melebihi Gereja Santo Paulus. Pada bulan Maret 1986, Pater RJ. Koensen, OFM dan Pater Guido Brod OFM meletakkan batu pertama untuk gedung pastoran, kemudian disusul dengan peletakan batu pertama untuk gedung gereja oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. dan Bapak Drs. Erno (Sekretaris Kotif Depok). Berkat kerja keras dan dukungan dari umat serta bantuan para donator, maka gedung gereja dan pastoran selesai dibangun. Bangunan tersebut diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada tanggal 3 Juli 1988. Lima tahun kemudian (1993) Gereja Herkulanus di Jalan Irian di renovasi dengan menghabiskan biaya yang cukup besar. Prinsip "Kalau ada Kemauan Pasti ada Jalan" sungguh dihayati dan dialami oleh umat Paroki St. Paulus Depok yang sebagian besar memiliki taraf ekonomi tingkat menengah kebawah. Berkembang Ke Sekitar Depok Disamping pelayanan pastoral terhadap umat yang terorganisasi dalam dua gereja tersebut (Gereja Santo Paulus dan Santo Herkulanus) sejak tahun 1982 para pastor dari paroki St. Paulus juga melayani misa dan pelayanan sakramental lainnya untuk umat di daerah Gunung Sindur, Parung, Bojongsari ARCO dan sekitarnya. Pelayanan ini dimulai dengan kehadiran Pater Guido Brod OFM di paroki St. Paulus Depok yang kemudian diperkuat oleh suster-suster ADSK (hadir di Depok sejak 1987-1989). Misa mingguan untuk umat yang terpencar ini dilayani secara bergantian berdasarkan kelompok: ARCO Bojongsari, Gunung Sindur dan Parung. Sejak tahun 1989, pelayanan misa mingguan dipusatkan pada satu tempat yaitu di rumah Bapak Wempy Suhendar (Bojongsari). Sejak saat itu kelompok ini menjadi stasi dari Paroki St. Paulus Depok dengan "nama baptis" Yohanes Pembaptis, Parung. Pemusatan pelayanan di rumah Bapak Wempy (alm) berlangsung sampai tahun 1992, sejak saat itu sampai sekarang pelayanan dipusatkan di Restoran Lebak Wangi milik Bapak Juhari. Umat stasi telah membeli tanah seluas 7000 meter di daerah Parung untuk pembangunan gedung gereja. Proses sertifikasi terus berlangsung walaupun agak tersendat-sendat. Walaupun kemampuan ekonomi terbatas, tetapi melihat semangat umat yang begitu besar, tampaknya keinginan untuk memiliki gereja sendiri dapat menjadi kenyataan; apalagi melihat jumlah umat dari tahun ke tahun selalu bertambah. Penutup Jumlah umat pada tahun 1927 hanya beberapa orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Saat ini Paroki St. Paulus Depok dilayani oleh 2 orang pastor, dan untuk misa mingguan dibantu oleh imam dari Novisiat Transitus. Nama Pelindung : Santo Paulus Jadwal Misa Kudus: http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depok.htm Dalam Rangka HUT Paroki yang ke 50 tahun, OBOR Mengadakan pameran di paroki ini. Tuhan memberkati | ||
