Events

Select event terms to filter by
Select event type to filter by
« July 02, 2010 - August 01, 2010 »
 
07 / 2
07 / 3
Start: 17:00
Start: 07/03/2010 - 17:00
End: 07/04/2010 - 20:00

Ada yang mengatakan bahwa nama "Depok" adalah singkatan dari "De Eerste Protestants Onderdaan Kerk", yang artinya "Gereja Kristen Rakyat Pertama" atau "Gereja Warganegara Protestan Pertama". Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714).

Beliau adalah seorang tuan tanah yang membeli banyak budak dari Bali, Sulawesi dan Timor untuk ditempatkan dipersawahannya. Ketika para budak tersebut menjadi kristen, mereka dibebaskan dan diberikan hadiah tanah di Depok (1714). Rupanya dengan menjadi kristen, kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang Belanda. Para budak yang merdeka ini terbagi ke dalam 12 suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Leon, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keterunan mereka, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein)

Depok Menjadi Sebuah Paroki

Seiring dengan perjalanan waktu, di tengah dominasi orang protestan muncullah orang-orang Katolik di Depok.

Diperkirakan pada tahun 1927 sudah ada beberapa keluarga katolik yang menetap di Depok, mereka mengikuti perayaan misa di Bogor atau di Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jumlah umat maka pada akhir tahun 40-an pastor-pastor dari Bogor mulai menjalani misa umat di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah, yang lama kelamaan frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu.

Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI dan tanah-tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah Indonesia, banyak orang Belanda yang kembali ke negerinya, termasuk penghuni Jl. Melati 4, Depok. Namun, berkat usaha yang gigih dari Mgr. Dr. N. Geise, OFM., maka tanah tersebut berhasil dibeli. Pada akhir tahun 50-an berdirilah gereja Santo Paulus Depok di jalan Melati Nomor 4 Depok . Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Peter J.J Rossen. Beliau kembali ke negerinya dan digantikan oleh Pater Herkulanus Frankhuyzen. Sekembali dari cutinya (1964), Pater Frankhuyzen dipindah tugaskan ke seminari Cicurug, Sementara itu umat katolik Depok dilayani secara bergantian oleh Mgr. N. Geise, OFM, Pater R.J Koesnen OFM, Pater Anton Ban OFM dan pater muda yaitu Pater Micheal Angkur, OFM (saat ini adalah uskup Bogor).

Pada akhir tahun 60-an Pater Frankhuyzen kembali ke dan menetap di Depok. Pada bulan September 1973 ia merayakan 50 tahun hidup mebiara. Perayaan berlangsung di SD MardiYuana, yang hadir di Depok sejak 1 Agustus 1960 dan yang kehadiran dan perkembangannya tak dapat dilepaskan dari peran penting Pater Frankhuyzen OFM disamping Mgr. Geise OFM. Pater Yohanes Ma'mun Muktar OFM, yang baru kembali dari mengikuti "kursus kharismatik" di Australia, memberikan warna kharismatik dalam pelayanan pastoral pada umat di Depok pada tahun 1975. Anak seorang haji di Sukabumi ini meninggal dalam usia muda pada 10 Agustus 1976 (lahir 1 Juni 1941) di Bogor, setelah lebih kurang 10 hari berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan lalulintas di Puncak Jawa Barat.

Perkembangan Paroki Santo Paulus selanjutnya tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan penyangga Ibukota. Dalam rangka itu, pada tahun 1976 dibangunlah Perumnas Depok I (Depok Jaya) dan Depok Utara, kemudian disusul dengan Perumnas Depok II dan Depok Timur. Seiring dengan itu, penghuni-penghuni baru membanjiri Depok termasuk umat Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan umat katolik yang cukup besar jumlahnya di Depok I dan Depok Utara, maka pada tahun1977-1978 dibangunlah sebuah gereja sederhana di jalan Irian Jaya. Semua itu tidak terlepas dari jasa almarhum Bapak Dom Renetyo. Gereja sederhana itu "dipabtis" oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. (saat itu sebagai Uskup Bogor) dengan nama HERKULANUS. Nama gereja tersebut diharapkan agar umat Katolik tidak melupakan jasa besar Pater Herkulanus Frankhuyzen dalam persemaian benih Injilnya di Depok.

Keberadaan Gererja Herkulanus diperkuat oleh perhatian Pater R.J. Koesnen, OFM. yang bertugas di Depok menggantikan almarhum Pater Frankhuyzen (meninggal 1978). Pater RJ. Koesnan, OFM. menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak. Ini terbukti dengan berdirinya TK dan SD Santa Theresia pada tanggal 18 Juli 1982, yang berlokasi tepat disamping Gereja St. Herkulanus. Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus.

Adanya kampus Universitas Indonesia, Novisiat Transitus (diresmikan oleh Vicaris General OFM dari Roma, Pater Onorio Pontoglio OFM pada bulan September 1984) dan beberapa Real Estate di Depok menambah jumlah umat Katolik di Depok. Dua buah gereja yang telah ada (Gereja Santo Herkulanus dan Santo Paulus) tidak dapat menampung jumlah umat dalam misa mingguan. Timbul rencana untuk membangun sebuah gereja yang kapasitasnya melebihi Gereja Santo Paulus. Pada bulan Maret 1986, Pater RJ. Koensen, OFM dan Pater Guido Brod OFM meletakkan batu pertama untuk gedung pastoran, kemudian disusul dengan peletakan batu pertama untuk gedung gereja oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. dan Bapak Drs. Erno (Sekretaris Kotif Depok).

Berkat kerja keras dan dukungan dari umat serta bantuan para donator, maka gedung gereja dan pastoran selesai dibangun. Bangunan tersebut diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada tanggal 3 Juli 1988. Lima tahun kemudian (1993) Gereja Herkulanus di Jalan Irian di renovasi dengan menghabiskan biaya yang cukup besar. Prinsip "Kalau ada Kemauan Pasti ada Jalan" sungguh dihayati dan dialami oleh umat Paroki St. Paulus Depok yang sebagian besar memiliki taraf ekonomi tingkat menengah kebawah.

Berkembang Ke Sekitar Depok

Disamping pelayanan pastoral terhadap umat yang terorganisasi dalam dua gereja tersebut (Gereja Santo Paulus dan Santo Herkulanus) sejak tahun 1982 para pastor dari paroki St. Paulus juga melayani misa dan pelayanan sakramental lainnya untuk umat di daerah Gunung Sindur, Parung, Bojongsari ARCO dan sekitarnya. Pelayanan ini dimulai dengan kehadiran Pater Guido Brod OFM di paroki St. Paulus Depok yang kemudian diperkuat oleh suster-suster ADSK (hadir di Depok sejak 1987-1989). Misa mingguan untuk umat yang terpencar ini dilayani secara bergantian berdasarkan kelompok: ARCO Bojongsari, Gunung Sindur dan Parung.

Sejak tahun 1989, pelayanan misa mingguan dipusatkan pada satu tempat yaitu di rumah Bapak Wempy Suhendar (Bojongsari). Sejak saat itu kelompok ini menjadi stasi dari Paroki St. Paulus Depok dengan "nama baptis" Yohanes Pembaptis, Parung. Pemusatan pelayanan di rumah Bapak Wempy (alm) berlangsung sampai tahun 1992, sejak saat itu sampai sekarang pelayanan dipusatkan di Restoran Lebak Wangi milik Bapak Juhari. Umat stasi telah membeli tanah seluas 7000 meter di daerah Parung untuk pembangunan gedung gereja.

Proses sertifikasi terus berlangsung walaupun agak tersendat-sendat. Walaupun kemampuan ekonomi terbatas, tetapi melihat semangat umat yang begitu besar, tampaknya keinginan untuk memiliki gereja sendiri dapat menjadi kenyataan; apalagi melihat jumlah umat dari tahun ke tahun selalu bertambah.

Penutup
Depok pada tahun 1714 hanya merupakan sebuah dusun sunyi, pada tahun 1924-1925 menjadi sebuah kecamatan, berubah menjadi kota administratif (kotif) pada tanggal 18 Maret 1982, dan kini siap menjadi kotamadya. Paroki Santo Paulus yang secara geografis pada awal 1960 hanya meliputi wilayah sekitar Depok Lama, saat ini telah meliputi UI, Citayam, Sasak Panjang, Parung, dan Gunung Sindur serta terbagi ke dalam 10 wilayah dan satu stasi.

Jumlah umat pada tahun 1927 hanya beberapa orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Saat ini Paroki St. Paulus Depok dilayani oleh 2 orang pastor, dan untuk misa mingguan dibantu oleh imam dari Novisiat Transitus.

Nama Pelindung : Santo Paulus
Buku Paroki : Sejak Februari 1960
Sebelumnya di Katedral Bogor
Alamat : Jl. Melati Nomor 4, Depok Lama 16431

Jadwal Misa Kudus:
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 17.30 WIB
Minggu : Pukul 06.00 WIB; 08.00 WIB; 17.30 WIB

http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depok.htm

Dalam Rangka HUT Paroki yang ke 50 tahun, OBOR Mengadakan pameran di paroki ini.
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini.

Tuhan memberkati

07 / 4
End: 20:00
Start: 07/03/2010 - 17:00
End: 07/04/2010 - 20:00

Ada yang mengatakan bahwa nama "Depok" adalah singkatan dari "De Eerste Protestants Onderdaan Kerk", yang artinya "Gereja Kristen Rakyat Pertama" atau "Gereja Warganegara Protestan Pertama". Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714).

Beliau adalah seorang tuan tanah yang membeli banyak budak dari Bali, Sulawesi dan Timor untuk ditempatkan dipersawahannya. Ketika para budak tersebut menjadi kristen, mereka dibebaskan dan diberikan hadiah tanah di Depok (1714). Rupanya dengan menjadi kristen, kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang Belanda. Para budak yang merdeka ini terbagi ke dalam 12 suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Leon, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keterunan mereka, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein)

Depok Menjadi Sebuah Paroki

Seiring dengan perjalanan waktu, di tengah dominasi orang protestan muncullah orang-orang Katolik di Depok.

Diperkirakan pada tahun 1927 sudah ada beberapa keluarga katolik yang menetap di Depok, mereka mengikuti perayaan misa di Bogor atau di Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jumlah umat maka pada akhir tahun 40-an pastor-pastor dari Bogor mulai menjalani misa umat di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah, yang lama kelamaan frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu.

Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI dan tanah-tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah Indonesia, banyak orang Belanda yang kembali ke negerinya, termasuk penghuni Jl. Melati 4, Depok. Namun, berkat usaha yang gigih dari Mgr. Dr. N. Geise, OFM., maka tanah tersebut berhasil dibeli. Pada akhir tahun 50-an berdirilah gereja Santo Paulus Depok di jalan Melati Nomor 4 Depok . Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Peter J.J Rossen. Beliau kembali ke negerinya dan digantikan oleh Pater Herkulanus Frankhuyzen. Sekembali dari cutinya (1964), Pater Frankhuyzen dipindah tugaskan ke seminari Cicurug, Sementara itu umat katolik Depok dilayani secara bergantian oleh Mgr. N. Geise, OFM, Pater R.J Koesnen OFM, Pater Anton Ban OFM dan pater muda yaitu Pater Micheal Angkur, OFM (saat ini adalah uskup Bogor).

Pada akhir tahun 60-an Pater Frankhuyzen kembali ke dan menetap di Depok. Pada bulan September 1973 ia merayakan 50 tahun hidup mebiara. Perayaan berlangsung di SD MardiYuana, yang hadir di Depok sejak 1 Agustus 1960 dan yang kehadiran dan perkembangannya tak dapat dilepaskan dari peran penting Pater Frankhuyzen OFM disamping Mgr. Geise OFM. Pater Yohanes Ma'mun Muktar OFM, yang baru kembali dari mengikuti "kursus kharismatik" di Australia, memberikan warna kharismatik dalam pelayanan pastoral pada umat di Depok pada tahun 1975. Anak seorang haji di Sukabumi ini meninggal dalam usia muda pada 10 Agustus 1976 (lahir 1 Juni 1941) di Bogor, setelah lebih kurang 10 hari berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan lalulintas di Puncak Jawa Barat.

Perkembangan Paroki Santo Paulus selanjutnya tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan penyangga Ibukota. Dalam rangka itu, pada tahun 1976 dibangunlah Perumnas Depok I (Depok Jaya) dan Depok Utara, kemudian disusul dengan Perumnas Depok II dan Depok Timur. Seiring dengan itu, penghuni-penghuni baru membanjiri Depok termasuk umat Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan umat katolik yang cukup besar jumlahnya di Depok I dan Depok Utara, maka pada tahun1977-1978 dibangunlah sebuah gereja sederhana di jalan Irian Jaya. Semua itu tidak terlepas dari jasa almarhum Bapak Dom Renetyo. Gereja sederhana itu "dipabtis" oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. (saat itu sebagai Uskup Bogor) dengan nama HERKULANUS. Nama gereja tersebut diharapkan agar umat Katolik tidak melupakan jasa besar Pater Herkulanus Frankhuyzen dalam persemaian benih Injilnya di Depok.

Keberadaan Gererja Herkulanus diperkuat oleh perhatian Pater R.J. Koesnen, OFM. yang bertugas di Depok menggantikan almarhum Pater Frankhuyzen (meninggal 1978). Pater RJ. Koesnan, OFM. menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak. Ini terbukti dengan berdirinya TK dan SD Santa Theresia pada tanggal 18 Juli 1982, yang berlokasi tepat disamping Gereja St. Herkulanus. Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus.

Adanya kampus Universitas Indonesia, Novisiat Transitus (diresmikan oleh Vicaris General OFM dari Roma, Pater Onorio Pontoglio OFM pada bulan September 1984) dan beberapa Real Estate di Depok menambah jumlah umat Katolik di Depok. Dua buah gereja yang telah ada (Gereja Santo Herkulanus dan Santo Paulus) tidak dapat menampung jumlah umat dalam misa mingguan. Timbul rencana untuk membangun sebuah gereja yang kapasitasnya melebihi Gereja Santo Paulus. Pada bulan Maret 1986, Pater RJ. Koensen, OFM dan Pater Guido Brod OFM meletakkan batu pertama untuk gedung pastoran, kemudian disusul dengan peletakan batu pertama untuk gedung gereja oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. dan Bapak Drs. Erno (Sekretaris Kotif Depok).

Berkat kerja keras dan dukungan dari umat serta bantuan para donator, maka gedung gereja dan pastoran selesai dibangun. Bangunan tersebut diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada tanggal 3 Juli 1988. Lima tahun kemudian (1993) Gereja Herkulanus di Jalan Irian di renovasi dengan menghabiskan biaya yang cukup besar. Prinsip "Kalau ada Kemauan Pasti ada Jalan" sungguh dihayati dan dialami oleh umat Paroki St. Paulus Depok yang sebagian besar memiliki taraf ekonomi tingkat menengah kebawah.

Berkembang Ke Sekitar Depok

Disamping pelayanan pastoral terhadap umat yang terorganisasi dalam dua gereja tersebut (Gereja Santo Paulus dan Santo Herkulanus) sejak tahun 1982 para pastor dari paroki St. Paulus juga melayani misa dan pelayanan sakramental lainnya untuk umat di daerah Gunung Sindur, Parung, Bojongsari ARCO dan sekitarnya. Pelayanan ini dimulai dengan kehadiran Pater Guido Brod OFM di paroki St. Paulus Depok yang kemudian diperkuat oleh suster-suster ADSK (hadir di Depok sejak 1987-1989). Misa mingguan untuk umat yang terpencar ini dilayani secara bergantian berdasarkan kelompok: ARCO Bojongsari, Gunung Sindur dan Parung.

Sejak tahun 1989, pelayanan misa mingguan dipusatkan pada satu tempat yaitu di rumah Bapak Wempy Suhendar (Bojongsari). Sejak saat itu kelompok ini menjadi stasi dari Paroki St. Paulus Depok dengan "nama baptis" Yohanes Pembaptis, Parung. Pemusatan pelayanan di rumah Bapak Wempy (alm) berlangsung sampai tahun 1992, sejak saat itu sampai sekarang pelayanan dipusatkan di Restoran Lebak Wangi milik Bapak Juhari. Umat stasi telah membeli tanah seluas 7000 meter di daerah Parung untuk pembangunan gedung gereja.

Proses sertifikasi terus berlangsung walaupun agak tersendat-sendat. Walaupun kemampuan ekonomi terbatas, tetapi melihat semangat umat yang begitu besar, tampaknya keinginan untuk memiliki gereja sendiri dapat menjadi kenyataan; apalagi melihat jumlah umat dari tahun ke tahun selalu bertambah.

Penutup
Depok pada tahun 1714 hanya merupakan sebuah dusun sunyi, pada tahun 1924-1925 menjadi sebuah kecamatan, berubah menjadi kota administratif (kotif) pada tanggal 18 Maret 1982, dan kini siap menjadi kotamadya. Paroki Santo Paulus yang secara geografis pada awal 1960 hanya meliputi wilayah sekitar Depok Lama, saat ini telah meliputi UI, Citayam, Sasak Panjang, Parung, dan Gunung Sindur serta terbagi ke dalam 10 wilayah dan satu stasi.

Jumlah umat pada tahun 1927 hanya beberapa orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Saat ini Paroki St. Paulus Depok dilayani oleh 2 orang pastor, dan untuk misa mingguan dibantu oleh imam dari Novisiat Transitus.

Nama Pelindung : Santo Paulus
Buku Paroki : Sejak Februari 1960
Sebelumnya di Katedral Bogor
Alamat : Jl. Melati Nomor 4, Depok Lama 16431

Jadwal Misa Kudus:
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 17.30 WIB
Minggu : Pukul 06.00 WIB; 08.00 WIB; 17.30 WIB

http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depok.htm

Dalam Rangka HUT Paroki yang ke 50 tahun, OBOR Mengadakan pameran di paroki ini.
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini.

Tuhan memberkati

07 / 5
07 / 6
07 / 7
07 / 8
07 / 9
07 / 10
Start: 17:00
Start: 07/10/2010 - 17:00
End: 07/11/2010 - 20:00

Buku baptis sejak 2000. Umat stasi dalam Paroki Pamulang berjuang selama 16 tahun sampai paroki ini berdiri di tahun 2003. Gagasan pembentukannya dicetuskan dalam suatu retret (1987).

Sejak tahun 1986 Misa dirayakan secara berkala di Kapel St. Ignatius Loyola (Rempoa) oleh pastor-pastor tentara. Imam pertama yang menetap, tinggal di rumah kontrakan (1999). 2 rumah dibeli, lalu menjadi pastoran dan gedung serba guna tahun 2002. Kapel (2000) diperluas menjadi gereja paroki sekarang sejak 2003.

Pastor kepala pertama ialah Alexius Widianto, Pr (1999-2004). Paroki ini sejak awal digembalakan oleh imam-imam diosesan.

Alamat:
Jl. Wijayakusuma II/V.388
Kompleks MABAD
Rempoa, Ciputat
Tangerang 15412
Telp. (021) 742-9616

Susteran Jesus, Maria, Josef (JMJ) sejak 1995
Mengelola Sekolah Bintang Kejora: TK, SD, SMP

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/692-paroki...

Diresmikan pada tanggal 26 April 2003 (bertepatan dengan hari Kerahiman Ilahi) oleh Mgr. Kardinal Darmaatmaja, SJ

Jadwal Misa Kudus Paroki St. Nikodemus - Ciputat:
Misa Sabtu Sore: 18.00
Misa Minggu: 06.00, 08.00, 18.00

INFO PAMERAN (usai misa):
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini

Tuhan memberkati

Start: 17:00
Start: 07/10/2010 - 17:00
End: 07/11/2010 - 20:00

Buku baptis mulai 1967. 1968 stsai dipisahkan dari paroki induk. Umat stasi Kalimati dari Paroki Mangga Besar sebagian besar terdiri dari orang Flores. Ekaristi mulai dirayakan di suatu ruang sekolah sejak 1959.

Gereja sekarang diberkati pada 1978 dan gedung paroki 1982. Sebelum R. Bakker, SJ mulai perayaan Misa secara teratur dalam ruang serbaguna SD St. Lukas (1960). Aula serba guna SMP diberkati 1968 untuk umat yang semakin besar. Sejak 1974 Kapel Betlehem digunakan untuk ibadat lingkungan.

Pastor pertama H van Opzeeland, SJ (1966-1972), pastor Jesuit (SJ) mengurus paroki ini sampai 1979, diteruskan Misionaris Xaverian (SX) dan sejak 1993 oleh pater Serikat Sabda Allah (SVD).

Dari paroki ini lahir Paroki St. Lukas, Sunter (1989)

Alamat Paroki:
Jl. Pademangan I Gang 7/7
Jakarta Utara
Tel. 683610

Susteran Puteri Reinha Rosari (PRR)
Jl. Pademangan Gang 8 no. 65
Jakarta Utara

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/463-paroki...

Jadual Misa:
Misa Sabtu Sore: 18.00
Misa Minggu: 06.30, 08.00, 17.00, 18.30 WIB

INFO PAMERAN (usai misa):
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini

Tuhan memberkati

07 / 11
End: 20:00
Start: 07/10/2010 - 17:00
End: 07/11/2010 - 20:00

Buku baptis sejak 2000. Umat stasi dalam Paroki Pamulang berjuang selama 16 tahun sampai paroki ini berdiri di tahun 2003. Gagasan pembentukannya dicetuskan dalam suatu retret (1987).

Sejak tahun 1986 Misa dirayakan secara berkala di Kapel St. Ignatius Loyola (Rempoa) oleh pastor-pastor tentara. Imam pertama yang menetap, tinggal di rumah kontrakan (1999). 2 rumah dibeli, lalu menjadi pastoran dan gedung serba guna tahun 2002. Kapel (2000) diperluas menjadi gereja paroki sekarang sejak 2003.

Pastor kepala pertama ialah Alexius Widianto, Pr (1999-2004). Paroki ini sejak awal digembalakan oleh imam-imam diosesan.

Alamat:
Jl. Wijayakusuma II/V.388
Kompleks MABAD
Rempoa, Ciputat
Tangerang 15412
Telp. (021) 742-9616

Susteran Jesus, Maria, Josef (JMJ) sejak 1995
Mengelola Sekolah Bintang Kejora: TK, SD, SMP

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/692-paroki...

Diresmikan pada tanggal 26 April 2003 (bertepatan dengan hari Kerahiman Ilahi) oleh Mgr. Kardinal Darmaatmaja, SJ

Jadwal Misa Kudus Paroki St. Nikodemus - Ciputat:
Misa Sabtu Sore: 18.00
Misa Minggu: 06.00, 08.00, 18.00

INFO PAMERAN (usai misa):
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini

Tuhan memberkati

End: 20:00
Start: 07/10/2010 - 17:00
End: 07/11/2010 - 20:00

Buku baptis mulai 1967. 1968 stsai dipisahkan dari paroki induk. Umat stasi Kalimati dari Paroki Mangga Besar sebagian besar terdiri dari orang Flores. Ekaristi mulai dirayakan di suatu ruang sekolah sejak 1959.

Gereja sekarang diberkati pada 1978 dan gedung paroki 1982. Sebelum R. Bakker, SJ mulai perayaan Misa secara teratur dalam ruang serbaguna SD St. Lukas (1960). Aula serba guna SMP diberkati 1968 untuk umat yang semakin besar. Sejak 1974 Kapel Betlehem digunakan untuk ibadat lingkungan.

Pastor pertama H van Opzeeland, SJ (1966-1972), pastor Jesuit (SJ) mengurus paroki ini sampai 1979, diteruskan Misionaris Xaverian (SX) dan sejak 1993 oleh pater Serikat Sabda Allah (SVD).

Dari paroki ini lahir Paroki St. Lukas, Sunter (1989)

Alamat Paroki:
Jl. Pademangan I Gang 7/7
Jakarta Utara
Tel. 683610

Susteran Puteri Reinha Rosari (PRR)
Jl. Pademangan Gang 8 no. 65
Jakarta Utara

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/463-paroki...

Jadual Misa:
Misa Sabtu Sore: 18.00
Misa Minggu: 06.30, 08.00, 17.00, 18.30 WIB

INFO PAMERAN (usai misa):
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini

Tuhan memberkati

07 / 12
07 / 13
07 / 14
07 / 15
07 / 16
07 / 17
Start: 17:00
Start: 07/17/2010 - 17:00
End: 07/18/2010 - 20:00

Buku baptis mulai 1940.

Gereja sekarang - yang pernah menjadi gereja di Jakarta yang memuat paling banyak orang - adalah bekas pabrik es yang dirancang ulang leh arsitek Sri Uripto dan digunakan sejak tahun 1970, menggantikan gereja darurat dari kayu dipekarangan yang sama (1964).

Jendela kaca patri merupakan karya G. Sidharta. Tanah Pabrik Ijs Djakarta dibeli tahun 1964 untuk memindahkan gereja dan pastoran (1950) dari samping Kali Tangkilio, yang tanahnya sudah dibeli 1940.

Pada tahun 1930 gereja mau dibangun di atas tanah, yang kini dipakai sekolah Budi Mulia di samping Rumah Sakit Husada (dulu Yang Seng Ie). Di HIS Bruder ini dirayakan Misa dalam Bahasa Melayu sejak tahun 1935 dalam suatu ruang kelas. Selama pendudukan Jepang dua bulan sekali dirayakan Misa; ibadat sabda dan pengajaran agama diselenggarakan oleh Pak P.K. Auw Jong Peng Koen, Poedjowijatna dan Tan JAn Djwan.

Pastor pertama yang menetap adalah Rm. L Zwaans, SJ (1946), yang terpaksa mengusir pelacur-pelacur dari gedung yang diperuntukkan sebagai pastoran. Pastor-pastor yang diusir dari RRC tiba tahun 1949 dan mulai merayakan Misa dalam Bahasa Mandarin di Kapel Dwi Warna dan di Paroki Toasebio (1964).

Dari Paroki Mangga Besar dipecahkan Paroki Sta. Maria Fatima - Toasebio (1956); Paroki St. Alfonsus Rodriguez - Pademangan (1968).

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/451-paroki...

Paroki Mangga Besar - St.Petrus & Paulus
Jl.Raya Mangga Besar 55, Jakarta 11170
Telp. (021) 629-4867 dan (021) 601-1893

Jadwal Misa:
Sabtu : 18.00
Minggu: 07.00; 09.00; 16.30; 18.30 WIB

Info Pameran:
Dapatkan diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran minggu ini seusai misa.

Tuhan memberkati

Start: 17:00
Start: 07/17/2010 - 17:00
End: 07/18/2010 - 20:00

Buku baptis sejak 1967.

Sampai paroki diresmikan 1968, umat stasi Pasar Minggu berkumpul untuk merayakan Ekaristi dalam pondok kecil di atas tanah gereja sekarang.

Gereja sekarang diberkati 1974 dan dipugar 1995.

Pastor pertama Paroki Pasar Minggu ialah M.Soenarwidjaja, SJ, yang mengumpulkan umat yang tersebar, membangun sekolah dan gereja. Pada paruh kedua tahun 1970-an umat retak, karena struktur paroki diubah, Yayasan Mulia dibubarkan, sekolahnya diambilalih paroki (Strada) dan Dewan Paroki diisi orang baru oleh mantan Jesuit H. Taks. Kemudian Romo A. Siswapranata, SJ mempersatukan dan mendamaikan umat dan menyerahkan paroki pada penggembalaan imam diosesan, 1982.

Dari Paroki Pasar Minggu dipisahkan Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa, 1994.

Alamat Paroki:
Jl. Pertanian III/26
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Tel. 780-6237

Seminari Menengah Wacana Bakti didirikan 1986
Jl. Pejaten Barat 10A
Jakarta Selatan

Wisma St. Thomas Rasul
Menyelenggarakan Misa untuk umat berbahasa Jerman yang dimulai oleh A. Heuken, SJ di Susteran CB, Blok B, 1971
Jakarta Selatan

Gereja dan susteran untuk umat berbahasa Korea sejak 1995
Jl. Margasatwa 1A
Jakarta Selatan

Komunitas Suster Dominikus (OP)
Jl. Pejaten Raya
Jakarta Selatan

Jadwal Misa Kudus:
Sabtu : 17.30 WIB
Minggu: 06.30; 08.30; 18.30 WIB

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/462-paroki...

Info Pameran:
Dapatkan diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran minggu ini seusai misa.

Tuhan memberkati

07 / 18
End: 20:00
Start: 07/17/2010 - 17:00
End: 07/18/2010 - 20:00

Buku baptis mulai 1940.

Gereja sekarang - yang pernah menjadi gereja di Jakarta yang memuat paling banyak orang - adalah bekas pabrik es yang dirancang ulang leh arsitek Sri Uripto dan digunakan sejak tahun 1970, menggantikan gereja darurat dari kayu dipekarangan yang sama (1964).

Jendela kaca patri merupakan karya G. Sidharta. Tanah Pabrik Ijs Djakarta dibeli tahun 1964 untuk memindahkan gereja dan pastoran (1950) dari samping Kali Tangkilio, yang tanahnya sudah dibeli 1940.

Pada tahun 1930 gereja mau dibangun di atas tanah, yang kini dipakai sekolah Budi Mulia di samping Rumah Sakit Husada (dulu Yang Seng Ie). Di HIS Bruder ini dirayakan Misa dalam Bahasa Melayu sejak tahun 1935 dalam suatu ruang kelas. Selama pendudukan Jepang dua bulan sekali dirayakan Misa; ibadat sabda dan pengajaran agama diselenggarakan oleh Pak P.K. Auw Jong Peng Koen, Poedjowijatna dan Tan JAn Djwan.

Pastor pertama yang menetap adalah Rm. L Zwaans, SJ (1946), yang terpaksa mengusir pelacur-pelacur dari gedung yang diperuntukkan sebagai pastoran. Pastor-pastor yang diusir dari RRC tiba tahun 1949 dan mulai merayakan Misa dalam Bahasa Mandarin di Kapel Dwi Warna dan di Paroki Toasebio (1964).

Dari Paroki Mangga Besar dipecahkan Paroki Sta. Maria Fatima - Toasebio (1956); Paroki St. Alfonsus Rodriguez - Pademangan (1968).

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/451-paroki...

Paroki Mangga Besar - St.Petrus & Paulus
Jl.Raya Mangga Besar 55, Jakarta 11170
Telp. (021) 629-4867 dan (021) 601-1893

Jadwal Misa:
Sabtu : 18.00
Minggu: 07.00; 09.00; 16.30; 18.30 WIB

Info Pameran:
Dapatkan diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran minggu ini seusai misa.

Tuhan memberkati

End: 20:00
Start: 07/17/2010 - 17:00
End: 07/18/2010 - 20:00

Buku baptis sejak 1967.

Sampai paroki diresmikan 1968, umat stasi Pasar Minggu berkumpul untuk merayakan Ekaristi dalam pondok kecil di atas tanah gereja sekarang.

Gereja sekarang diberkati 1974 dan dipugar 1995.

Pastor pertama Paroki Pasar Minggu ialah M.Soenarwidjaja, SJ, yang mengumpulkan umat yang tersebar, membangun sekolah dan gereja. Pada paruh kedua tahun 1970-an umat retak, karena struktur paroki diubah, Yayasan Mulia dibubarkan, sekolahnya diambilalih paroki (Strada) dan Dewan Paroki diisi orang baru oleh mantan Jesuit H. Taks. Kemudian Romo A. Siswapranata, SJ mempersatukan dan mendamaikan umat dan menyerahkan paroki pada penggembalaan imam diosesan, 1982.

Dari Paroki Pasar Minggu dipisahkan Paroki Ratu Rosari, Jagakarsa, 1994.

Alamat Paroki:
Jl. Pertanian III/26
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Tel. 780-6237

Seminari Menengah Wacana Bakti didirikan 1986
Jl. Pejaten Barat 10A
Jakarta Selatan

Wisma St. Thomas Rasul
Menyelenggarakan Misa untuk umat berbahasa Jerman yang dimulai oleh A. Heuken, SJ di Susteran CB, Blok B, 1971
Jakarta Selatan

Gereja dan susteran untuk umat berbahasa Korea sejak 1995
Jl. Margasatwa 1A
Jakarta Selatan

Komunitas Suster Dominikus (OP)
Jl. Pejaten Raya
Jakarta Selatan

Jadwal Misa Kudus:
Sabtu : 17.30 WIB
Minggu: 06.30; 08.30; 18.30 WIB

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/462-paroki...

Info Pameran:
Dapatkan diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran minggu ini seusai misa.

Tuhan memberkati

07 / 19
07 / 20
07 / 21
07 / 22
07 / 23
07 / 24
Start: 17:00
Start: 07/24/2010 - 17:00
End: 07/25/2010 - 20:00

Buku Paroki sejak 23 Maret 1991
Sebelumnya di Cibinong
Alamat: Jalan Kompleks Ksatrian, Korps Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis 16951, Telepon (021) 8715526 Fax. (021) 87706362
Romo Paroki: Rm. Christoforus Lamen Sani, Pr

Gereja Santo Thomas di Kelapa Dua, pada awalnya diprakarsai oleh beberapa warga Katolik yang terdiri atas 5 keluarga dan 7 bujangan yang berada di Kelapa Dua, khususnya para Anggota ABRI yang bertempat tinggal di sekitar Kompleks BRIMOB yang dimotori oleh Bapak J.R. Rahadeth. Para warga Katolik sering mengadakan pertemuan/ibadat sabda dirumah-rumah warga. Kegiatan ini berlangsung hingga tahun 1970. Pada waktu itu Kelapa Dua masih termasuk dalam wilayah Paroki Keluarga Kudus Cibinong.

Pada tahun 1970 mulailah diadakan Misa Kudus secara rutin sebulan sekali. Misa Kudus pertama kali dipimpin oleh Romo. C. Cipto Kusumo, Pr., kemudian untuk selanjutnya dipimpin oleh Pastor J. Salim, Pr., dan Pastor GE. Ruys, OFM. secara bergantian. Pada waktu itu para warga Katolik belum memiliki tempat khusus, sehingga Misa Kudus diselenggarakan di rumah-rumah warga, garasi-garasi, bahkan dibawah pohon rindang (pohon waru). Umat terus bertambah dan frekuensi Misa Kudus ditingkatkan menjadi satu minggu sekali.

Pada tahun 1974 datanglah Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. yang memberikan bimbingan dan juga memberikan Misa Kudus secara rutin. Romo Felix Teguh Suwarno, Pr., kemudian digantikan oleh Pastor J. Salim Pr.

Pada tahun 1976 umat Katolik di Kelapa Dua mendapatkan hibah tanah dari Bapak Karno, Komandan Pangkalan (BRIMOB sekarang) yang berlokasi di Jl. Asrama BRIMOB (Jl. Akses UI sekarang). Kemudian pada tahun 1977 di atas tanah itu mulailah dibangun gedung gereja yang diprakarsai oleh Pastor J. Salim, Pr. Pada tanggal 3 Juli 1978 gedung baru ini diresmikan oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. dengan nama pelindung Santo Thomas. Pada waktu itu secara resmi berdirilah Stasi Santo Thomas. Pastor yang memberikan Misa Kudus pertama kali di gereja baru adalah Pastor B. Sudjarwo, Pr., kemudian Pastor JE. Rijper, OFM., Pastor Diaz Viera, SVD., Pastor A. Broto Wiratmo, Pr., dan akhirnya Romo Felix Teguh Suwarno, Pr.

Pada tahun 1990 Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. ditempatkan di Stasi Santo Thomas. Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. berkeinginan mengembangkan Stasi menjadi Paroki. Umat bertambah dengan sangat pesat, pada tahun 1991 sudah mencapai 2379 jiwa. Upaya Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. berhasil, sehingga pada tanggal 23 April 1991 Stasi Santo Thomas berubah menjadi Paroki Santo Thomas, dan diresmikan oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. sehingga secara resmi terpisah dari Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Untuk meningkatkan pelayanan pada tahun ini Romo Thomas Saidi, Pr. diperbantukan di Paroki Santo Thomas.

Umat terus bertambah, karena di Kelapa Dua banyak tumbuh perumahan baru (±20 kompleks), sehingga kapasitas gedung gereja tidak memadai lagi. Untuk itu pada bulan Mei 1992 dimulailah renovasi/pembangunan gereja agar dapat menampung umat yang semakin bertambah. Renovasi/pembangunan gereja memakan waktu ± 14 bulan dan pada tanggal 20 Juni 1993 gedung gereja baru diresmikan oleh Dan Pus BRIMOB, Bapak Kolonel Drs. A. Fachrie B. dan diberkati oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. Bangunan gereja sekarang berukuran 1200 meter persegi diatas tanah seluas 1500 meter persegi dengan kapasitas 1000 orang.

Pada tahun 1995 jabatan Pastor Kepala Paroki diserah terimakan dari Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. kepada Romo T. Suhardi, Pr. Perkembangan umat semakin pesat, sehingga beban pelayanan menjadi semakin berat. Sehingga pada awal 1997 Romo T. Suhardi, Pr. memiliki inisiatif untuk memekarkan wilayah dan lingkungan untuk meningkatkan pelayanan yang terpadu dan menyeluruh serta untuk mengembangkan pelayanan di gereja basis. Pada tahun 1998 Romo Jimmy Rampengan Pr mendampingi Romo Suhardi sebagai gembala di Paroki St. Thomas.

Sesuai dengan keputusan Kapolri, gedung gereja akan dipindahkan dalam Kompleks BRIMOB bagian belakang paling lambat dalam waktu 10 tahun.

Perkembangan Umat & Status Gereja

Sebelum tahun 1970 :
Beberapa warga Katolik ± 20 orang berinisiatif untuk mengadakan pertemuan doa bersama.

Pada tahun 1970 – 1978 :
Misa Kudus mulai dilaksanakan rutin dan frekuensi mulai ditingkatkan dari sebulan sekali menjadi seminggu sekali.

Dibangun gedung gereja dan pada 3 Juli 1978 diresmikan menjadi Stasi Santo Thomas.

Tahun 1978 – 1991 :
Stasi Santo Thomas berdiri dengan 5 lingkungan

Tahun 1991 :
Paroki Santo Thomas dengan jumlah umat ± 2379 jiwa, terbagi menjadi 6 wilayah dan 17 lingkungan.

Tahun 1993 :
Paroki Santo Thomas memiliki gedung gereja baru, diresmikan 20 Juni 1993. Jumlah umat 3.330 jiwa.

Tahun 1997 :
Paroki Santo Thomas memiliki jumlah umat 4715 jiwa. Sehingga dimekarkan menjadi 11 wilayah dan 29 lingkungan.

Dibentuk Stasi Bunda Maria Ratu di Sukatani yang meliputi 3 wilayah dan 7 lingkungan. Saat ini sedang dalam proses membangun gereja baru di Sukatani.

Jadwal Perayaan Ekaristi di Paroki ini:

Harian (Selasa – Kamis): Pukul 05.30
Jumat Pertama: Pukul 18.30
Sabtu: Pukul 18.00
Minggu: Pukul 06.00, 08.00, 18.00

http://www.thomas.keuskupanbogor.or.id/profil-paroki/

INFO PAMERAN (24-25 Juli 2010)
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini seusai misa minggu ini.

Tuhan memberkati

07 / 25
End: 20:00
Start: 07/24/2010 - 17:00
End: 07/25/2010 - 20:00

Buku Paroki sejak 23 Maret 1991
Sebelumnya di Cibinong
Alamat: Jalan Kompleks Ksatrian, Korps Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis 16951, Telepon (021) 8715526 Fax. (021) 87706362
Romo Paroki: Rm. Christoforus Lamen Sani, Pr

Gereja Santo Thomas di Kelapa Dua, pada awalnya diprakarsai oleh beberapa warga Katolik yang terdiri atas 5 keluarga dan 7 bujangan yang berada di Kelapa Dua, khususnya para Anggota ABRI yang bertempat tinggal di sekitar Kompleks BRIMOB yang dimotori oleh Bapak J.R. Rahadeth. Para warga Katolik sering mengadakan pertemuan/ibadat sabda dirumah-rumah warga. Kegiatan ini berlangsung hingga tahun 1970. Pada waktu itu Kelapa Dua masih termasuk dalam wilayah Paroki Keluarga Kudus Cibinong.

Pada tahun 1970 mulailah diadakan Misa Kudus secara rutin sebulan sekali. Misa Kudus pertama kali dipimpin oleh Romo. C. Cipto Kusumo, Pr., kemudian untuk selanjutnya dipimpin oleh Pastor J. Salim, Pr., dan Pastor GE. Ruys, OFM. secara bergantian. Pada waktu itu para warga Katolik belum memiliki tempat khusus, sehingga Misa Kudus diselenggarakan di rumah-rumah warga, garasi-garasi, bahkan dibawah pohon rindang (pohon waru). Umat terus bertambah dan frekuensi Misa Kudus ditingkatkan menjadi satu minggu sekali.

Pada tahun 1974 datanglah Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. yang memberikan bimbingan dan juga memberikan Misa Kudus secara rutin. Romo Felix Teguh Suwarno, Pr., kemudian digantikan oleh Pastor J. Salim Pr.

Pada tahun 1976 umat Katolik di Kelapa Dua mendapatkan hibah tanah dari Bapak Karno, Komandan Pangkalan (BRIMOB sekarang) yang berlokasi di Jl. Asrama BRIMOB (Jl. Akses UI sekarang). Kemudian pada tahun 1977 di atas tanah itu mulailah dibangun gedung gereja yang diprakarsai oleh Pastor J. Salim, Pr. Pada tanggal 3 Juli 1978 gedung baru ini diresmikan oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. dengan nama pelindung Santo Thomas. Pada waktu itu secara resmi berdirilah Stasi Santo Thomas. Pastor yang memberikan Misa Kudus pertama kali di gereja baru adalah Pastor B. Sudjarwo, Pr., kemudian Pastor JE. Rijper, OFM., Pastor Diaz Viera, SVD., Pastor A. Broto Wiratmo, Pr., dan akhirnya Romo Felix Teguh Suwarno, Pr.

Pada tahun 1990 Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. ditempatkan di Stasi Santo Thomas. Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. berkeinginan mengembangkan Stasi menjadi Paroki. Umat bertambah dengan sangat pesat, pada tahun 1991 sudah mencapai 2379 jiwa. Upaya Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. berhasil, sehingga pada tanggal 23 April 1991 Stasi Santo Thomas berubah menjadi Paroki Santo Thomas, dan diresmikan oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. sehingga secara resmi terpisah dari Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Untuk meningkatkan pelayanan pada tahun ini Romo Thomas Saidi, Pr. diperbantukan di Paroki Santo Thomas.

Umat terus bertambah, karena di Kelapa Dua banyak tumbuh perumahan baru (±20 kompleks), sehingga kapasitas gedung gereja tidak memadai lagi. Untuk itu pada bulan Mei 1992 dimulailah renovasi/pembangunan gereja agar dapat menampung umat yang semakin bertambah. Renovasi/pembangunan gereja memakan waktu ± 14 bulan dan pada tanggal 20 Juni 1993 gedung gereja baru diresmikan oleh Dan Pus BRIMOB, Bapak Kolonel Drs. A. Fachrie B. dan diberkati oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. Bangunan gereja sekarang berukuran 1200 meter persegi diatas tanah seluas 1500 meter persegi dengan kapasitas 1000 orang.

Pada tahun 1995 jabatan Pastor Kepala Paroki diserah terimakan dari Romo Felix Teguh Suwarno, Pr. kepada Romo T. Suhardi, Pr. Perkembangan umat semakin pesat, sehingga beban pelayanan menjadi semakin berat. Sehingga pada awal 1997 Romo T. Suhardi, Pr. memiliki inisiatif untuk memekarkan wilayah dan lingkungan untuk meningkatkan pelayanan yang terpadu dan menyeluruh serta untuk mengembangkan pelayanan di gereja basis. Pada tahun 1998 Romo Jimmy Rampengan Pr mendampingi Romo Suhardi sebagai gembala di Paroki St. Thomas.

Sesuai dengan keputusan Kapolri, gedung gereja akan dipindahkan dalam Kompleks BRIMOB bagian belakang paling lambat dalam waktu 10 tahun.

Perkembangan Umat & Status Gereja

Sebelum tahun 1970 :
Beberapa warga Katolik ± 20 orang berinisiatif untuk mengadakan pertemuan doa bersama.

Pada tahun 1970 – 1978 :
Misa Kudus mulai dilaksanakan rutin dan frekuensi mulai ditingkatkan dari sebulan sekali menjadi seminggu sekali.

Dibangun gedung gereja dan pada 3 Juli 1978 diresmikan menjadi Stasi Santo Thomas.

Tahun 1978 – 1991 :
Stasi Santo Thomas berdiri dengan 5 lingkungan

Tahun 1991 :
Paroki Santo Thomas dengan jumlah umat ± 2379 jiwa, terbagi menjadi 6 wilayah dan 17 lingkungan.

Tahun 1993 :
Paroki Santo Thomas memiliki gedung gereja baru, diresmikan 20 Juni 1993. Jumlah umat 3.330 jiwa.

Tahun 1997 :
Paroki Santo Thomas memiliki jumlah umat 4715 jiwa. Sehingga dimekarkan menjadi 11 wilayah dan 29 lingkungan.

Dibentuk Stasi Bunda Maria Ratu di Sukatani yang meliputi 3 wilayah dan 7 lingkungan. Saat ini sedang dalam proses membangun gereja baru di Sukatani.

Jadwal Perayaan Ekaristi di Paroki ini:

Harian (Selasa – Kamis): Pukul 05.30
Jumat Pertama: Pukul 18.30
Sabtu: Pukul 18.00
Minggu: Pukul 06.00, 08.00, 18.00

http://www.thomas.keuskupanbogor.or.id/profil-paroki/

INFO PAMERAN (24-25 Juli 2010)
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini seusai misa minggu ini.

Tuhan memberkati

07 / 26
07 / 27
07 / 28
07 / 29
07 / 30
07 / 31
08 / 1
Syndicate content