Events

Select event terms to filter by
Select event type to filter by
Saturday October 2, 2010
Start: 17:00
End: 20:00

Latar Belakang Sejarah
Komplek Gereja Fransiskus Assisi Bogor tadinya adalah peninggalan almarhum Bp. Hoo Tian Hoei. Peninggalannya berupa tanah seluas 11.231 meter persegi. Diatas tanah tersebut telah berdidir bangunan sekolah yang bernama Cheng Chung/Chinese Methodis School, yang di kelola oleh Badan Pengurus Hua Chiua Yoen. Kemudian sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Nasional yang berada di bawah Badan Pengurus Nasional.

Diatas tanah tersebut terdapat dua buah bangunan gedung tua yang berukuaran besar dan kecil dengan gaya Arsitektur Belanda. Gedung itu dahulu kosongdan hanya di pergunakan untuk tempat pertemuan dan tempat menyimpan karet mentah, karena di belakang gedung tersebut terdapat perkebunan karet.

Pada tanggal 27 Oktober 1958, Pastor Rd. Mas C.S. Tjiptokusumo Pr, yang bertindak sebagai kuasa dari Yayasan Bakti mengajukan permohonan kepada Menteri Agraria di Bandung melalui Kepala Inspeksi Agraria Bandung untuk pemindahan hak atas lahan tersebut, dari almarhum Bp. Hoo Tian Hoei kepada Pastor Rd. Mas C.S Tjiptokusumo Pr yang bertindak untuk dan atas nama Misi Katolik Bogor.

Setelah mendapat persetujuan dari Badan Pengurus Hua Chiua Yuen She (Tjoa Koen Tian ), Badan Pengurus Sekolah Nasional (Oey Tjin Bie), Kepala Kantor Inspeksi Sekolah Rakyat Kabupaten/Kotapraja Bogor (RE. Hidajat), dan Kepala Kantor Urusan Perumahan Daerah Swatantra Tingkat I Jawa Barat (R. Sjarief Soerjanatamihardja), maka pada tanggal 13 Oktober 1959 di tanda tanganilah Surat Perjanjian Jual Beli antara pihak penjual Ny. Thung Liong Oen-Hoo Goat Hiang dengan pihak pembeli atas nama Mgr. Dr. N. Geise OFM.

Era Baru sebagai Paroki
Setelah Sekolah Nasional di bubarkan, gedungnya di pakai oleh Keuskupan untuk Seminari. Namun tak berlangsung lama, karena pada tanggal 1 Agustus 1963, Seminari dipindah lagi ke gedung Vincentius di jalan Kapten Muslihat 22 (kompleks Katedral). Gedung eks sekolah ini kemudian sedikit demi sedikit diperbaiki agar layak di jadikan tempat ibadah.

Tahun 1963 adalah tahun bersejarah, karena sejak saat itu, Sukasari telah menjadi Paroki tersendiri, lepas dari Paroki Katedral. Dalam buku baptis tercatat bahwa umat pertama yang di baptis sebagai warga paroki baru ini adalah Paulus Ang Sui Hou, yang lahir tanggal 2 Agustus 1963 dan di baptis 5 Agustus 1963 di Kapel Susteran Bondongan. Almarhum Pater Kohler OFM, yang sejak 1962 diserahi reksa pastoral daerah sukasari, resmi menjadi pastor Paroki pertama. Setelah 5 tahun mengembalakan umat sukasari, tahun 1967 ia kembali ke negeri Belanda dan menetap disana sampai meninggal pada tahun 1976 dalam usia 67 tahun. Tahun-tahun pertama ini ditandai oleh pertambahan umat yang cukup pesat. Pater Bonaventura Satuan OFM turut mendampingi Pater Kohler, sebelum ditugaskan ke Flores.

Pater van Genuchten OFM di tunjuk sebagai Pastor Paroki ke dua. Ia dibantu oleh P. Vincenthe Kunrath OFM. Mereka tidak lama bertugas disini setelah perpindahan ke dua gembala ini, sukasari mengalami kekosongan tenaga. Pater A.J.H. Schellart SMM, seorang Pastor tamu dari Kalimantan yang untuk sementara waktu tinggal di Bondongan, membantu pelayanan umat Sukasari. Kekosongan ini kemudian di isi untuk sementara oleh P. EJ Rijper OFM, sampai di tugaskannya P. Felix Bos OFM dari Cicurug untuk melayani Sukasari. Ia di Bantu oleh P. Alex Lanur OFM dan beberapa bruder dari Cicurug.

Akhir 1970 Pater Felix Bos meninggal di Cicurug, 8 bulan setelah bertugas di Sukasari. P. Alex Lanur pun berpindah tugas. Maka kini Sukasari kembali mengalami kekosongan Pastor. Awal 1971, Pater Jan Pruim OFM di tugaskan menjadi Pastor Paroki Sukasari. Setahun kemudian ia dibantu oleh Yohanes Ma'mun Muchtar OFM, imam muda yang merupakan putra sunda pertama dan satu-satunya dari Keuskupan Bogor pada waktu itu yang menjadi Pastor. Pater Ma'mun hanya setahun bertugas di Sukasari karena kemudian ia di tugas/belajarkan keluar negeri oleh pimpinan Fransiskan. Pada bulan Oktober 1974, Pater Rijper yang sebelumnya menjabat Pastor Paroki Katedral kembali menjadi Pastor Paroki Sukasari.
Renovasi Gereja dan Perkembangan
Paroki
Pada masa penggembalaan Pater Rijper yang kedua kalinya inilah gedung gereja mengalami perubahan bentuk. Tanggal 5 Oktober 1975, gereja baru diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono Pr yang baru 5 bulan di tahbiskan menjadi Uskup Bogor menggantikan Mgr. Geise OFM. Paroki semakin semarak dengan hadirnya seorang imam muda, P. Yuseph Hardjono Pr, yang juga di tahbiskan disini. Setelah satu tahun bertugas, ia dipindah tugaskan ke Rangkas Bitung. Untuk mengisi kekosongan, di tugaskanlah Pater J. Peperzak OFM dan Pater JMW Demmers OFM. Pater J. Peperzak tiba di Sukasari bulan Agustus 1978. sedangkan Pater Dimmers, Pastor yang sudah sangat berpengalaman dalam mengurus persekolahan, baru tiba disini pada akhir 1978.

Pater Peperzak kembali ke negeri Belanda pada awal 1981. Kekurangan tenaga di Sukasari kemudian diisi untuk sementara oleh seorang Pastor tamu berkebangsaan Perancis, Pater Roger Biancheti, yang pernah cukup lama di Vietnam dan Timtim. Akhir 1982, P. Rijper menjalani cuti ke Belanda dan kemudian pindah ke Cibinong. Sebagai gantinya ditunjuklah Pater Yustinus Semium OFM, yang baru saja menyelesaikan studi di Filipina. Januari 1983, tenaga pelayan di perkuat oleh Pater Kornelius Keyrans OFM, yang sebelumnya bertugas di Paroki Paskalis, Tanah Tinggi, Jakarta. Setahun kemudian, pada awal 1984 datang pula P. Nicholas Dhartosuratno OFM untuk memperkuat tenaga pastoral selama setahun sampai April 1985.

Beberapa hal yang terjadi selama dasawarsa 80-an ini antara lain: pemekaran wilayah menjadi 5 wilayah, yang terbagi dalam lingkungan dan rukun; pembentukan rukun ibu-ibu St. Clara dan rukun St. Franciskus untuk para bapak; menghidupkan kelompok kaum muda: Mudika, Putra Altar, dan Legio Maria.

Sejak tahun 1985, setiap tahun paroki Sukasari di beri kepercayaan untuk membimbing seorang frater praja dalam menjalani orientasi pastoral. Pada pesta Santo Franciskus Assisi, 4 Oktober 1987, paroki ini dipercaya untuk menyelenggarakan tahbisan diakon Fr. Fabianus dan Fr. Simbul Gaib, yang di lanjutkan dengan tahbisan imamat mereka berdua pada tanggal 24 April 1988.

Bulan April 1990, Pater Kornelius yang telah 7 tahun melayani Sukasari dipindah tugaskan ke Cianjur. Sementara itu P. Agust Surianto Pr, yang persis setahun berpastoral disini, setelah di tahbiskan menjadi imam ditugaskan di Sukasari. Dua tahun kemudian, P. Ridwan Amo Pr dan Fr. St. Pujiantoro Pr memperkuat tenaga pastoral di sukasari. Gedung gereja sudah mengalami kerusakan di sana-sini. Maka pada akhir tahun 1992 diadakan renovasi sebagian, dengan mengganti panti imam, plafon, toilet, dan koridor di depan gedung gereja.

Masa pemantapan Kembali
Setelah melalui suatu masa transisi yang sangat pahit, Administrator Apostolik unutk keuskupan Bogor, Mgr. Leo Soekoto SJ, mrombak seluruh personil pastoral di paroki Sukasari. P. Tarcisus Suyoto Pr dan P. Yoh. Hardono Pr diminta menjadi Pastor pembantu untuk mendampingi Mgr. V. kartosiswoyo Pr, yang di tunjuk menjadi Pastor Proki. Struktur Dewan Paroki dan pranata perlengkapannya ditata ulang. Pastoran direnovasi dengan dukungan dana swadaya dan sumbangan dari Pusat Misi Fransiskan di Jerman. Bulan Juli 1995. P. Benedictus Sudjarwo Pr ditunjuk sebagai Pastor Paroki yang baru menggantikan Mgr. V. kartosiswoyo Pr yang mendapat tugas baru du Keuskupan Agung Semarang setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Sekretaris Eksekutif KWI.

Beberapa Yayasan

A. Yayasan Melania
Ide untuk mendirikan Yayasan Melania Bogor di prakarsai oleh tiga aktivia Wanita Katolik saat itu, yakni Ibu Suhardo, Ibu Julianti dan Onnie Zaenudin. Ibu Khoo Tjok King, dari Yayasan Melania Pusat di Jakarta sangat membantu dan mendukung sampai terbentuknya secara resmi Yayasan Melania Bogor. Ide ini di kuatkan dan didukung oleh Pastor J.B. Perpezak OFM, yang akhirnya di tugaskan sebagai moderator pertama Yayasan Melania Bogor, yang berdiri tahun 1962.

Tujuan utama dibentuknya Yayaysan ini yaitu untuk mengembangkan karya pelayanan terhadap masyarakat. Dengan persetujuan Uskup Bogor Mgr. Prof. Dr. N. geise OFM, akhirnya disetujuai untuk menempatkan Yayasan Melania di rumah Pastoran yang berada di Bondongan.

Sebagai penanggung jawab pada saat itu adalah Dr. Loka Cahyana. Karya pelayanan tersebut menjadi sempurna ketika tangis bayi pertama bergema di ruang bersalin tanggal 8 Desember 1962, dan pada tanggal tersebut dijadikan tradisi bagi Yayasan Melania Bogor untuk memperingati hari ulang tahunnya.

B. Yayasan Mardi Yuana
Sekolah Mardiyuan teletak di dalam Komplek Gereja Sukasari, Jl. Siliwangi no. 50 Bogor. Sekolah ini dikelola oleh Yayasan Mardi Yuana Sukabumi dan Di Bogor.

Pada tanggal 11 Mei 1960 diserah terimakan kepengurusannya pengelolaan Sekolah Nasional kepada Sekolah Yayasan Perguruan Mardi Yuana. Sebagai Ketua Yayasan pada waktu itu adalah Pastur Rd. Mas C.S. Tjiptokusumo Pr (almarhum), sedangkan Sekolah Nasional masih berkarya sampai bulan Juni 1960.

Perwakilan Yayasan Mardi Yuana I Bogor saat ini mengelola unit-unit: TK, SD, SLTP, SMU dan SMK Grafika, dengan satu SD di Jl. Kapten Muslihat 22 Bogor.

Diwilayah Paroki Sukasari masih terdapat Sekolah Mardi Yuana II Bogor, yang terletak di Jl. Pahlawan, yang menyelenggarakan TK, SD, dan SMP.

Statistik Umat Paroki
Pertambahan umat sangat tersa sekali pada tahun-tahun terakhir. Jumlah umat saat ini sekitar 4700 jiwa, 1527 Kepala Keluarga. Mayoritas keturunan Cina dan Jawa.

Paroki Santo Fransiskus Assisi terbagi menjadi 5 Wilayah, yang terdiri dari 24 Lingkungan, 105 Rukun.

Beberapa Kegiatan Paroki
a. komsos
sejak sebelum Berita paroki sukasari terbit, umat menggunakan fasilitas BERITA UMAT Paroki Katedral sebagai warta paroki karena memang Paroki Sukasari alah pemekaran dari Paroki Katedral.

Berita Paroki adalah majalah intern Paroki Santo Fransiskus Assisi Sukasari Bogor yang mulai terbit pada awal bulan Juni 1991, dirintis oleh Romo Agustinus Surianto Pr. Dan Ibu Conny Susanto. Berita Paroki Terbit setiap bulan dan memuat berbagai macam informasi yang temanya berbeda setiap bulannya. Di Paroki ini juga terletak satu-satunya percetakan milik Keuskupan Bogor, yang pada 1 Januari 1999 ini genap berusia 30 tahunan.

b. Novena Santo Antonius
Setiap tanggal 13 Juni , Gereja Sukasari dimulailah Novena Santo Antonius dan Pandua dan dilanjutkan setiap hari selasa dan berikutnya selama 8 kali berturut-turut. Novena yang biasanya dilaksanakan dalam Misa Kudus dengan tema berbeda setiap minggunya ini, telah berjalan rutin sejak tahun 1969.

c. Novena Roh Kudus
Sudah menjadi kebiasaan umat di sini untuk menantikan kedatangan Roh Kudus dengan mengadakan Novena Roh Kudus yang dimulai setelah Hari Raya Pentakosta.

d. Pengembangan Sosial Ekonomi
Sampai saat ini PSE Paroki Sukasari dapat menggelar pelayanan: Sosial Kritatif, Pjaman Uang, Konsultasi, Bantuan Kesehatan.

e. Bina Iman
Bina Iman anak-anak sampai dengan SD, ada 4 Kelompok: Bina Iman Gereja Sukasari, Bina Iman Kapel Bondongan, Bina Iman Cipaku, dan Bina Iman Katulampa.

F. Mudika
Merupakan wadah dimana para Muda-mudi Katolik berkumpul dan melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan kerohanian. Masing-masing wilayah mempunyai organisasi Mudika, dan sebagai pusatnya adalah Mudika Santo Fransisikus Assisi Suksari Bogor.

g. Kapel Bondongan
Paroki ini memiliki sebuah Kapel di Jl. Pahlawan, yang berada di biara Suster Fransiskanes Sukabumi/Mardi Yuana II.

h. Misa Jum'at Pertama di Ciawi
-Sejak tahun 1978 dirintis pelaksanaan Misa Jum'at Pertama di Ciawi (tepatnya di rumah Kel. Poniran, Jl. Raya Sukabumi) oleh Kel. Ibu Poniran , Kel. Bp. Agus, Kel. Bp. Sigit, Kel. Bp. Slamet, dan para karyawan PT. Ratna.

http://www.keuskupanbogor.org/paroki/bogorsukasari.htm

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku OBOR
Dapatkan pula Benda-benda devosi dalam pameran ini usai misa.

Start: 17:00
Start: 10/02/2010 - 17:00
End: 10/03/2010 - 20:00

Sejarah Singkat Paroki St. Helena

Paroki St. Helena berawal dari sebuah stasi dari Paroki St. Monika Serpong, yang ditetapkan pada bulan Mei 1996. Umat stasi St. Helena melalui perjalanan yang panjang dengan berbagai kendala terutama berkaitan dengan tempat ibadah. Kegiatan Stasi Helena berpindah-pindah mulai dari mengontrak rumah umat, dan sebagian menggunakan kapel Ignatius de Loyola. Stasi juga pernah menggunakan Ruko di daera...h Permata, di RS. Siloam dan di UPH. Pada akhirnya Panitia Pembangunan Gereja berhasil menemukan tanah di Villa Permata Jl. Permata Kasih VI Blok C-12 No.1 yang kemudian dibangun menjadi pusat stasi.

Dengan dikeluarkannya ijin prinsip pembangunan, maka dibangunlah bedeng semi permanen yang digunakan sebagai tempat Misa dan kegiatan stasi lainnya. Lokasi yang strategis ini mudah dicapai dengan kendaraan umum dan pribadi sehingga kegiatan menggereja dan sosialisasi umat jauh lebih hidup.

Pada 25 Oktober 2003 dilantik Panitia Pembangunan Gereja secara resmi, dan berbagai kegiatan penggalangan dana terus dilakukan. Mulai dari koor yang menjual suara emas mereka ke paroki-paroki lain, penjualan kupon berhadiah, dan lain sebagainya menghasilkan dana yang tidak sedikit yang pada akhirnya mampu mendirikan sebuah gedung gereja dengan pastoran yang megah.

Pada hari Minggu, 1 Oktober 2006, Stasi St. Helena dinaikkan statusnya menjadi Paroki oleh Uskup Agung Jakarta, Mg. Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ. Batas Paroki yang ditetapkan dalam SK pendirian Paroki No. 402/3.25.2/2006 adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Jalan Tol Jakarta – Merak
Sebelah Barat :Jl. Raya Curug (Berbatasan dengan Stasi St. Odilia Citra Raya)
Sebelah Selatan: Batas Pemerintahan Kecamatan Pagedangan (Berbatasan dengan Paroki Serpong)
Sebelah Timur: Batas pagar perumahan Gading Serpong (Berbatasan dengan Stasi Laurentius).

http://www.parokisantahelena.or.id/index.php?option=com_content&task=vie...

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku rohani OBOR.
Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas dalam pameran seusai misa.

Sunday October 3, 2010
End: 20:00
Start: 10/02/2010 - 17:00
End: 10/03/2010 - 20:00

Sejarah Singkat Paroki St. Helena

Paroki St. Helena berawal dari sebuah stasi dari Paroki St. Monika Serpong, yang ditetapkan pada bulan Mei 1996. Umat stasi St. Helena melalui perjalanan yang panjang dengan berbagai kendala terutama berkaitan dengan tempat ibadah. Kegiatan Stasi Helena berpindah-pindah mulai dari mengontrak rumah umat, dan sebagian menggunakan kapel Ignatius de Loyola. Stasi juga pernah menggunakan Ruko di daera...h Permata, di RS. Siloam dan di UPH. Pada akhirnya Panitia Pembangunan Gereja berhasil menemukan tanah di Villa Permata Jl. Permata Kasih VI Blok C-12 No.1 yang kemudian dibangun menjadi pusat stasi.

Dengan dikeluarkannya ijin prinsip pembangunan, maka dibangunlah bedeng semi permanen yang digunakan sebagai tempat Misa dan kegiatan stasi lainnya. Lokasi yang strategis ini mudah dicapai dengan kendaraan umum dan pribadi sehingga kegiatan menggereja dan sosialisasi umat jauh lebih hidup.

Pada 25 Oktober 2003 dilantik Panitia Pembangunan Gereja secara resmi, dan berbagai kegiatan penggalangan dana terus dilakukan. Mulai dari koor yang menjual suara emas mereka ke paroki-paroki lain, penjualan kupon berhadiah, dan lain sebagainya menghasilkan dana yang tidak sedikit yang pada akhirnya mampu mendirikan sebuah gedung gereja dengan pastoran yang megah.

Pada hari Minggu, 1 Oktober 2006, Stasi St. Helena dinaikkan statusnya menjadi Paroki oleh Uskup Agung Jakarta, Mg. Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ. Batas Paroki yang ditetapkan dalam SK pendirian Paroki No. 402/3.25.2/2006 adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Jalan Tol Jakarta – Merak
Sebelah Barat :Jl. Raya Curug (Berbatasan dengan Stasi St. Odilia Citra Raya)
Sebelah Selatan: Batas Pemerintahan Kecamatan Pagedangan (Berbatasan dengan Paroki Serpong)
Sebelah Timur: Batas pagar perumahan Gading Serpong (Berbatasan dengan Stasi Laurentius).

http://www.parokisantahelena.or.id/index.php?option=com_content&task=vie...

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku rohani OBOR.
Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas dalam pameran seusai misa.

Saturday October 9, 2010
Start: 17:00

Buku baptis dimulai 1996, diresmikan sebagai Paroki 26 November 2006 waktu dipecahkan dari Paroki Sta. Monika, Serpong.
Gedung gereja sekarang diberkati 2005.

Pastor pertama adalah Antonius Suprapto, SSCC.

Alamat:
Jl. Citra Raya Utama Timur Blok L2 Kav. 31
Citra Raya, Tangerang

Jadwal Misa Kudus di Paroki Sta. Odilia - Citra Raya:
Sabtu: pkl. 18.00
Minggu: pkl. 08.00, pkl. 17.00

***

Paroki St. Odilia dari Masa ke Masa PDF Print E-mail

Gereja St. Odilia Citra Raya yang telah tumbuh menjadi persekutuan umat Allah sebanyak 1.148 Kepala Keluarga (KK) atau 4.020 jiwa, pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam 26 November 2006 diresmikan menjadi paroki termuda di Dekenat Jakarta Barat II.

Umat St. Odilia tidak hanya bertumbuh secara kuantitatif namun telah menunjukkan peran serta secara dinamis dalam kehidupan rohani, sebagai umat basis dalam 30 lingkungan di 6 wilayah. Ciri umat yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh/karyawan pabrik di beberapa kawaswan industri di wilayah Tangerang bagian barat ini adalah "semangat yang tak pernah pudar dan kemandirian dalam membangun komunitas kerohaniannya", meskipun tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi.

Umat basis melalui persekutuan (koinonia) di lingkungannya telah aktif menjalankan pewartaan (kerugma) melalui kesaksian hidupnya. Umat sadar meskipun menjalani hidup sebagai minoritas di masyarakat namun mampu membangun hidup dalam kebersamaan dan kerukunan bersama anggota masyarakat di sekitarnya, bahkan tidak sedikit yang dipercaya terlibat menjadi pengurus di lingkungan RT/RW tempat tinggalnya. Oleh karena itu, kegiatan peribadatan dan kerohanian di lingkungan-lingkungan seperti pendalaman iman, doa lingkungan, latihan koor, dan ibadat lingkungan lainnya, serta misa di lingkungan atau wilayah dapat diselenggarakan dalam suasana yang kondusif.

Pewartaan melalui kesaksian hidup inilah yang merupakan perwujudan aksi missioner oleh umat yang telah menjadi daya pikat bagi masyarakat di sekitarnya. Manifestasinya adalah jumlah baptisan dewasa (katekumen) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebanyak 20 orang baptisan dewasa di tahun 2004, meningkat lagi 32 orang di tahun 2005, dan 63 orang di tahun 2006 yang mendapat bimbingan rohani dari 9 katekis paruh waktu dan 1 katekis purna waktu.

Sisi Rohani

Kegiatan rohani umat di Paroki St. Odilia, Citra Raya meliputi: misa mingguan (setip hari Sabtu pukul 18.00 dan hari Minggu pukul 08.00), misa harian, misa Jumat Pertama, misa wilayah (untuk wilayah Cisoka), ibadat lingkungan, doa syukur keluarga, ibadat arwah, pendalaman kitab suci, doa rosario, pertemuan adven dan pra paskah.

Sedangkan kelompok kategorial Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) secara rutin seminggu sekali (setiap Hari Jumat) berkumpul untuk berdoa atau sarasehan, Legio Maria sekali seminggu (setiap hari Selasa); kelompok doa Padre Pio mengadakan doa bersama setiap sebulan sekali (setiap hari Kamis kedua); sedangkan kelompok Mariage Encounter (ME) sekali sebulan.

Paduan suara Lingkungan, Wilayah dan organisasi kategorial juga secara bergiliran mendapat tugas di gereja untuk mengiringi perayaan ekaristi baik misa mingguan maupun misa hari raya seperti Natal dan Paskah. Pendalaman iman di lingkungan dilakukan setiap minggu terlebih pada masa Prapaskah masa Adven dan bulan Kitab Suci.

Kegiatan umat juga tampak pada devosi kepada Bunda Maria selama bulan Mei dan Oktober serta ziarah-ziarah yang pada umumnya dikelola oleh lingkungan, wilayah atau kelompok-kelompok yang dibangun sendiri oleh umat. Selain itu, devosi yang tumbuh diantara umat adalah novena kepada Roh Kudus dan Novena St. Odilia.

...

Fokus Pastoral

Sejak tahun 1996 kegiatan dan program pastoral paroki lebih tampak pada aktivitas Seksi Liturgi, Kerasulan Kitab Suci, Seksi Pewartaan Iman dan Devosi. Devosi ini umumnya dilakukan oleh kelompok kategorial. Pertemuan doa digerakkan sendiri oleh lingkungan-lingkungan. Pemberdayaan umat secara kelompok ini tumbuh dan berkembang atas inisiatif umat sendiri, yang mungkin diwarisi oleh kebiasaan di paroki atau keuskupan lain sebelumnya. Sedangkan kepedulian sosial terhadap mereka yang lemah masih belum terlaksana secara optimal.

Jumlah umat yang hadir pada perayaan ekaristi mengalami perkembangan yang luar biasa pesat. Tetapi perkembangan pesat hanya terlihat pada jumlah kehadiran dalam perayaan ekaristi, dan kurang tampak dalam kegiatan menggereja lainnya.

Jarak antara Gereja St. Odilia dengan Wilayah Cisoka sangat jauh, sehingga diperlukan biaya yang cukup mahal bagi umat untuk mengikuti kegiatan mingguan di gereja. Mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi, harus mengeluarkan biaya transportasi di atas Rp 50.000 sekali pergi satu orang untuk mengikuti perayaan ekaristi di Citra Raya.

Maka dicari beberapa cara untuk mengatasi persoalan ini. Salah satu cara adalah pastor rutin mengunjungi wilayah ini untuk mengadakan perayaan ekaristi. Inilah wilayah yang paling rutin mendapatkan kunjungan, karena memang paling jauh dari pusat paroki. Pastor mengunjungi wilayah ini pada minggu keempat setiap bulan.

Fokus pastoral Paroki St. Odilia ke depan diarahkan untuk pemberdayaan umat basis yakni pembinaan pada keluarga-keluarga dan lingkungan teritorial. Pembinaan iman dan persiapan penerimaan sakramen-sakramen suci tidak dipusatkan di paroki melainkan dilaksanakan di setiap wilayah atau lingkungan.

Perkembangan ke Depan

Paroki St. Odilia Citra Raya baru diresmikan secara hukum pada 26 Nopember 2006 bertepatan dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, sebagai pemekaran Paroki St. Monika Serpong. Namun dua wilayah yang terletak sangat jauh dari pusat paroki dapat segera dipecah menjadi dua stasi dalam rangka pengembangan menjadi paroki di masa mendatang. Kedua wilayah tersebut adalah wilayah Cisoka dan Balaraja.

Tantangan Paroki St. Odilia di masa depan adalah bagaimana memberdayakan umat basis supaya tidak hanya memusatkan perhatian di seputar altar, namun juga bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya, agar kehadirannya di tengah-tengah masyarakat menjadi berkat. (Her Suharyanto)

http://parokimonika.com/index.php?option=com_content&view=article&id=48:...

INFO PAMERAN:

Dapatkan DISKON hingga 25 % untuk pembelian buku-buku OBOR.
Dapatkan pula Benda-benda Devosi berkualitas dalam pameran ini

Tuhan memberkati

Start: 17:00
Start: 10/09/2010 - 17:00
End: 10/10/2010 - 20:00

Pada th 1945 sampai dengan th 1959 seorang wanita di Amsterdam, bernama Isje Johana (Ida) Peerdeman ( 13 Agustus 1905 s/d 17 Juni 1996 ) menerima amanat-amanat dalam penampakan Bunda Maria yang mengatakan ingin disapa sebagai "Bunda Segala Bangsa".
Pada tgl 31 Mei 2002 penghormatan secara umum terhadap Bunda Maria dengan gelar "Bunda Allah" diresmikan oleh Bpk Uskup Josef Marianus Punt dari Harlem, Belanda.

Bunda Maria menampakan diri sambil berdiri diatas bola dunia, di depan salib putranya, dari tangan Bunda Maria yang terbuka, terpancar tiga sinar ke atas segala bangsa, yang melambangkan "Rahmat", "Penebusan" dan "Kedamaian". Bunda Maria berjanji akan melimpahkan karunia-karunia rahmat tersebut ke setiap orang yang mengucapkan doa ini : "Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah Bapa, utuslah Roh-Mu keseluruh bumi. Hendaklah Roh Kudus itu tinggal di dalam hati segala bangsa, agar hidup mereka tidak merosot ataupun kena malapetaka dan mengalami peperangan. Semoga Bunda Segala Bangsa yang dahulunya adalah Maria, menjadi Pembela kami" Amin

Paroki Maria Bunda Segala Bangsa
Jl. Transyogi KM-6
Kota Wisata - Cibubur

Jadual Misa
Sabtu : 18.00 WIB
Minggu: 08.00 WIB

Dapatkan Potongan harga hingga 25 % untuk buku-buku Rohani OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi berkualitas.
Kami nantikan kedatangan Anda
Tuhan memberkati

Sunday October 10, 2010
End: 20:00
Start: 10/09/2010 - 17:00
End: 10/10/2010 - 20:00

Pada th 1945 sampai dengan th 1959 seorang wanita di Amsterdam, bernama Isje Johana (Ida) Peerdeman ( 13 Agustus 1905 s/d 17 Juni 1996 ) menerima amanat-amanat dalam penampakan Bunda Maria yang mengatakan ingin disapa sebagai "Bunda Segala Bangsa".
Pada tgl 31 Mei 2002 penghormatan secara umum terhadap Bunda Maria dengan gelar "Bunda Allah" diresmikan oleh Bpk Uskup Josef Marianus Punt dari Harlem, Belanda.

Bunda Maria menampakan diri sambil berdiri diatas bola dunia, di depan salib putranya, dari tangan Bunda Maria yang terbuka, terpancar tiga sinar ke atas segala bangsa, yang melambangkan "Rahmat", "Penebusan" dan "Kedamaian". Bunda Maria berjanji akan melimpahkan karunia-karunia rahmat tersebut ke setiap orang yang mengucapkan doa ini : "Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah Bapa, utuslah Roh-Mu keseluruh bumi. Hendaklah Roh Kudus itu tinggal di dalam hati segala bangsa, agar hidup mereka tidak merosot ataupun kena malapetaka dan mengalami peperangan. Semoga Bunda Segala Bangsa yang dahulunya adalah Maria, menjadi Pembela kami" Amin

Paroki Maria Bunda Segala Bangsa
Jl. Transyogi KM-6
Kota Wisata - Cibubur

Jadual Misa
Sabtu : 18.00 WIB
Minggu: 08.00 WIB

Dapatkan Potongan harga hingga 25 % untuk buku-buku Rohani OBOR.
Dapatkan pula benda-benda Devosi berkualitas.
Kami nantikan kedatangan Anda
Tuhan memberkati

Saturday October 16, 2010
Start: 17:00
Start: 10/16/2010 - 17:00
End: 10/17/2010 - 20:00

Buku baptis dimulai tahun 1968. Pendirian paroki dirintis oleh C. Schreurs, CICM. Paroki ini dipisahkan dari Paroki Theresia (1968) dengan memakai nama “Kristus Salvator” sejak 1970, antara lain karena Nuntius Salvatore Pappalardo (kemudian Kardinal di Palermo) menyumbang dana besar. Mula-mula Misa dirayakan di kapel Susteran FMM di Palmerah oleh Harjosoemarto, MSC (kemudian Uskup Purwokerto) dan J. Wisgickl, SJ, lalu di bekas bengkel mobil.

Gereja sekarang diberkati tahun 1985.

Pastor pertama J. Gerrits, CICM.

Paroki Kristus Salvator berpisah dari “paroki kembar” yaitu Paroki Kristus Raja di Pejompongan tahun 1972. Wilayah Grogol diserahkan pada Paroki Maria Bunda Karmel tahun 1974.

Alamat Paroki:
Jl. K.S. Tubun no. 128
Slipi, Jakarta Barat
Tel. 548-1844

Komunitas dan Provinsialat CICM
JL. Slipi
Jakarta Barat

Biara Suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) sejak 1964
Menyelenggarakan sekolah Regina Pacis (TK, SD, SMP, SMU) dan poliklinik

Marian Centre
Jl. K.S. Tubun II C/2
Jakarta Barat

Jadwal Misa Kudus di Paroki Slipi:
Sabtu : PKl. 17.30
Minggu : Pkl. 07.00; 09.00; 17.30

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/465-paroki...

INFO PAMERAN :
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi bekualitas di pameran depan gereja seusai Misa Minggu ini

Start: 17:00
Start: 10/16/2010 - 17:00
End: 10/17/2010 - 20:00

Buku baptis dimulai tahun 1968. Pendirian paroki dirintis oleh C. Schreurs, CICM. Paroki ini dipisahkan dari Paroki Theresia (1968) dengan memakai nama “Kristus Salvator” sejak 1970, antara lain karena Nuntius Salvatore Pappalardo (kemudian Kardinal di Palermo) menyumbang dana besar. Mula-mula Misa dirayakan di kapel Susteran FMM di Palmerah oleh Harjosoemarto, MSC (kemudian Uskup Purwokerto) dan J. Wisgickl, SJ, lalu di beka...s bengkel mobil.

Gereja sekarang diberkati tahun 1985.

Pastor pertama J. Gerrits, CICM.

Paroki Kristus Salvator berpisah dari “paroki kembar” yaitu Paroki Kristus Raja di Pejompongan tahun 1972. Wilayah Grogol diserahkan pada Paroki Maria Bunda Karmel tahun 1974.

Biara Suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) sejak 1964
Menyelenggarakan sekolah Regina Pacis (TK, SD, SMP, SMU) dan poliklinik

Marian Centre
Jl. K.S. Tubun II C/2
Jakarta Barat

Jadwal Misa Kudus di Paroki Slipi:
Sabtu : PKl. 17.30
Minggu : Pkl. 07.00; 09.00; 17.30

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/465-paroki...

INFO PAMERAN :
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi bekualitas di pameran depan gereja seusai Misa Minggu ini

Start: 17:00
Start: 10/16/2010 - 17:00
End: 10/17/2010 - 20:00

Perjalanan Sejarah Paroki Trinitas, Cengkareng

I. PEZIARAHAN UMAT KATOLIK CENGKARENG

1. Umat dalam Diaspora (Pengasingan)
...Di awal tahun 1971, Mgr. Leo Soekoto, SJ, Uskup Agung Jakarta, menyerahkan Stasi Cengkareng dan Stasi Kapuk kepada Paroki Tangerang. Saat itu, Paroki Tangerang memang mempunyai banyak Stasi mengingat rentang wilayah pelayanannya yang meliputi Ciledug - Tigaraksa, Serpong - Tanjung Pasir/ Tanjung Kait. Sebelum Romo Anton Mulder, SJ yang mengepalai Paroki Tangerang diserahi tugas tersebut, kegiatan penggembalaan umat di areal kedua Stasi itu masih dilaksanakan oleh Romo H. Kemper, MSC, dari Paroki Grogol untuk Stasi Cengkareng dan Romo S. Sutopanitro, PR untuk Stasi Kapuk.

Dengan surat No. 352/B.Tjk/1972 dan No. 353/ B.Tjk/1972 bertanggal 10 Juli 1972, Mgr. Leo Soekoto, SJ menugasi Bapak R.Y. Prabowo (yang saat itu masih bertugas sebagai seorang perwira TNI-AD dan membantu di Sekretariat Paroki Tangerang) dan Bapak V.A. Adiwahyanto (yang saat itu menjadi guru di SD Aloysius, Tangerang) untuk mengunjungi dan mendata umat di Stasi Cengkareng dan Kapuk guna mendapatkan data yang lebih rinci akan keberadaan mereka disamping juga untuk mengetahui jumlah umat di daerah ini serta kebutuhan akan sarana tempat beribadat.

Hampir setiap petang/malam hari atau hari Minggu, kedua utusan ini dengan antusias menjelajahi wilayah Cengkareng. Saat itu, jalan-jalan di Cengkareng masih belum beraspal kecuali Jalan Utama Raya yang penuh lubang. Jalan Sumur Bor dan Jalan Kamal beraspal hanya hingga depan Puskesmas. Jalan Cendrawasih belum berbentuk, masih merupakan tanah berumput. Cengkareng masih dibelah rawa dari barat ke timur. Tanah gereja yang sekarang ini termasuk pinggiran rawa bagian selatan.

Kedua sukarelawan mengunjungi alamat demi alamat ‘always by feet’ (selalu dengan berjalan kaki) dan mereka sering singgah di rumah Bapak Robertus A. Tjuk, yang dikenal baik oleh Romo Anton Mulder, SJ, untuk menanyakan daerah atau wilayah tertentu. Maka, jadilah rumah Pak Tjuk itu sebagai pusat semua kegiatan pendataan umat. Romo Anton sendiri yang menjelaskan kepada Bapak Tjuk tugas yang diemban oleh kedua utusan Gereja ini dan meminta kesediaan keluarga Bapak Tjuk untuk membantu karya pastoral ini.

Dalam pencarian umat per umat, kedua relawan ini sering menjumpai pengalaman unik, misalnya pada suatu sore dalam kelelahan mengayuh kaki, kedua utusan Gereja ini duduk di pembatas serambi rumah di Jalan Kincir Raya. Mereka menanti kedua pemilik rumah yang dipastikan sebagai Katolik. Tiba-tiba mereka didatangi Ketua RW dan beberapa orang lainnya. Mereka dituduh hendak berbuat jahat, diusir, bahkan diancam. Seorang dari mereka langsung pergi dengan perasaan tersinggung, sedang yang lainnya masih duduk dan berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Mendengar bentakan-bentakan be- Romo H. Kemper, MSC 14 Buku Kenangan 25 th Gereja Katolik Trinitas Perjalanan Sejarah ngis dan kasar, akhirnya keduanya pergi. Kelak diketahui, kedua pemilik rumah itu memang umat Katolik, yang seorang kini telah tiada, sedangkan yang seorang lagi sampai sekarang masih aktif berkarya di Cengkareng.

Begitulah, pendataan terus dijalani oleh kedua sukarelawan ini hingga akhir Oktober 1972, saat pendataan umat dianggap selesai dan hasilnya dilaporkan ke Keuskupan Agung Jakarta lewat Romo Anton Mulder, SJ.

Masa-masa itu memang umat Cengkareng benar- benar hidup dalam diaspora (terasingkan), bahkan mungkin sendirian. Umat bujangan tinggal di tengah anggota keluarga, kontrakan, pemondokan, atau asrama non-Katolik. Keluarga keluarga Katolik memang belum membentuk komunitas basis di tengah masyarakat yang seluruhnya non-Katolik. Memang, dalam suasana diaspora seolah tidak ada komunitas. Pertemuan 2-3 umat dalam jarak yang berjauhan akan dialami, dirasakan, dinikmati sebagai kesempatan, karunia, dan rahmat yang tak ternilai. Relasi iman akan erat terjalin, pertemuan sering diadakan sebagai salah satu wujud saling merindukan, saling menguatkan, saling peduli, saling mengasihi.

info lebih lengkap, klik: http://www.trinitas.or.id/informasi/sejarah-paroki-cengkareng

INFO PAMERAN
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas dalam pameran kali ini di depan gereja usai misa

Sunday October 17, 2010
End: 20:00
Start: 10/16/2010 - 17:00
End: 10/17/2010 - 20:00

Buku baptis dimulai tahun 1968. Pendirian paroki dirintis oleh C. Schreurs, CICM. Paroki ini dipisahkan dari Paroki Theresia (1968) dengan memakai nama “Kristus Salvator” sejak 1970, antara lain karena Nuntius Salvatore Pappalardo (kemudian Kardinal di Palermo) menyumbang dana besar. Mula-mula Misa dirayakan di kapel Susteran FMM di Palmerah oleh Harjosoemarto, MSC (kemudian Uskup Purwokerto) dan J. Wisgickl, SJ, lalu di bekas bengkel mobil.

Gereja sekarang diberkati tahun 1985.

Pastor pertama J. Gerrits, CICM.

Paroki Kristus Salvator berpisah dari “paroki kembar” yaitu Paroki Kristus Raja di Pejompongan tahun 1972. Wilayah Grogol diserahkan pada Paroki Maria Bunda Karmel tahun 1974.

Alamat Paroki:
Jl. K.S. Tubun no. 128
Slipi, Jakarta Barat
Tel. 548-1844

Komunitas dan Provinsialat CICM
JL. Slipi
Jakarta Barat

Biara Suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) sejak 1964
Menyelenggarakan sekolah Regina Pacis (TK, SD, SMP, SMU) dan poliklinik

Marian Centre
Jl. K.S. Tubun II C/2
Jakarta Barat

Jadwal Misa Kudus di Paroki Slipi:
Sabtu : PKl. 17.30
Minggu : Pkl. 07.00; 09.00; 17.30

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/465-paroki...

INFO PAMERAN :
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi bekualitas di pameran depan gereja seusai Misa Minggu ini

End: 20:00
Start: 10/16/2010 - 17:00
End: 10/17/2010 - 20:00

Buku baptis dimulai tahun 1968. Pendirian paroki dirintis oleh C. Schreurs, CICM. Paroki ini dipisahkan dari Paroki Theresia (1968) dengan memakai nama “Kristus Salvator” sejak 1970, antara lain karena Nuntius Salvatore Pappalardo (kemudian Kardinal di Palermo) menyumbang dana besar. Mula-mula Misa dirayakan di kapel Susteran FMM di Palmerah oleh Harjosoemarto, MSC (kemudian Uskup Purwokerto) dan J. Wisgickl, SJ, lalu di beka...s bengkel mobil.

Gereja sekarang diberkati tahun 1985.

Pastor pertama J. Gerrits, CICM.

Paroki Kristus Salvator berpisah dari “paroki kembar” yaitu Paroki Kristus Raja di Pejompongan tahun 1972. Wilayah Grogol diserahkan pada Paroki Maria Bunda Karmel tahun 1974.

Biara Suster Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) sejak 1964
Menyelenggarakan sekolah Regina Pacis (TK, SD, SMP, SMU) dan poliklinik

Marian Centre
Jl. K.S. Tubun II C/2
Jakarta Barat

Jadwal Misa Kudus di Paroki Slipi:
Sabtu : PKl. 17.30
Minggu : Pkl. 07.00; 09.00; 17.30

http://www.trinitas.or.id/informasi/gereja-katolik-di-jakarta/465-paroki...

INFO PAMERAN :
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi bekualitas di pameran depan gereja seusai Misa Minggu ini

End: 20:00
Start: 10/16/2010 - 17:00
End: 10/17/2010 - 20:00

Perjalanan Sejarah Paroki Trinitas, Cengkareng

I. PEZIARAHAN UMAT KATOLIK CENGKARENG

1. Umat dalam Diaspora (Pengasingan)
...Di awal tahun 1971, Mgr. Leo Soekoto, SJ, Uskup Agung Jakarta, menyerahkan Stasi Cengkareng dan Stasi Kapuk kepada Paroki Tangerang. Saat itu, Paroki Tangerang memang mempunyai banyak Stasi mengingat rentang wilayah pelayanannya yang meliputi Ciledug - Tigaraksa, Serpong - Tanjung Pasir/ Tanjung Kait. Sebelum Romo Anton Mulder, SJ yang mengepalai Paroki Tangerang diserahi tugas tersebut, kegiatan penggembalaan umat di areal kedua Stasi itu masih dilaksanakan oleh Romo H. Kemper, MSC, dari Paroki Grogol untuk Stasi Cengkareng dan Romo S. Sutopanitro, PR untuk Stasi Kapuk.

Dengan surat No. 352/B.Tjk/1972 dan No. 353/ B.Tjk/1972 bertanggal 10 Juli 1972, Mgr. Leo Soekoto, SJ menugasi Bapak R.Y. Prabowo (yang saat itu masih bertugas sebagai seorang perwira TNI-AD dan membantu di Sekretariat Paroki Tangerang) dan Bapak V.A. Adiwahyanto (yang saat itu menjadi guru di SD Aloysius, Tangerang) untuk mengunjungi dan mendata umat di Stasi Cengkareng dan Kapuk guna mendapatkan data yang lebih rinci akan keberadaan mereka disamping juga untuk mengetahui jumlah umat di daerah ini serta kebutuhan akan sarana tempat beribadat.

Hampir setiap petang/malam hari atau hari Minggu, kedua utusan ini dengan antusias menjelajahi wilayah Cengkareng. Saat itu, jalan-jalan di Cengkareng masih belum beraspal kecuali Jalan Utama Raya yang penuh lubang. Jalan Sumur Bor dan Jalan Kamal beraspal hanya hingga depan Puskesmas. Jalan Cendrawasih belum berbentuk, masih merupakan tanah berumput. Cengkareng masih dibelah rawa dari barat ke timur. Tanah gereja yang sekarang ini termasuk pinggiran rawa bagian selatan.

Kedua sukarelawan mengunjungi alamat demi alamat ‘always by feet’ (selalu dengan berjalan kaki) dan mereka sering singgah di rumah Bapak Robertus A. Tjuk, yang dikenal baik oleh Romo Anton Mulder, SJ, untuk menanyakan daerah atau wilayah tertentu. Maka, jadilah rumah Pak Tjuk itu sebagai pusat semua kegiatan pendataan umat. Romo Anton sendiri yang menjelaskan kepada Bapak Tjuk tugas yang diemban oleh kedua utusan Gereja ini dan meminta kesediaan keluarga Bapak Tjuk untuk membantu karya pastoral ini.

Dalam pencarian umat per umat, kedua relawan ini sering menjumpai pengalaman unik, misalnya pada suatu sore dalam kelelahan mengayuh kaki, kedua utusan Gereja ini duduk di pembatas serambi rumah di Jalan Kincir Raya. Mereka menanti kedua pemilik rumah yang dipastikan sebagai Katolik. Tiba-tiba mereka didatangi Ketua RW dan beberapa orang lainnya. Mereka dituduh hendak berbuat jahat, diusir, bahkan diancam. Seorang dari mereka langsung pergi dengan perasaan tersinggung, sedang yang lainnya masih duduk dan berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Mendengar bentakan-bentakan be- Romo H. Kemper, MSC 14 Buku Kenangan 25 th Gereja Katolik Trinitas Perjalanan Sejarah ngis dan kasar, akhirnya keduanya pergi. Kelak diketahui, kedua pemilik rumah itu memang umat Katolik, yang seorang kini telah tiada, sedangkan yang seorang lagi sampai sekarang masih aktif berkarya di Cengkareng.

Begitulah, pendataan terus dijalani oleh kedua sukarelawan ini hingga akhir Oktober 1972, saat pendataan umat dianggap selesai dan hasilnya dilaporkan ke Keuskupan Agung Jakarta lewat Romo Anton Mulder, SJ.

Masa-masa itu memang umat Cengkareng benar- benar hidup dalam diaspora (terasingkan), bahkan mungkin sendirian. Umat bujangan tinggal di tengah anggota keluarga, kontrakan, pemondokan, atau asrama non-Katolik. Keluarga keluarga Katolik memang belum membentuk komunitas basis di tengah masyarakat yang seluruhnya non-Katolik. Memang, dalam suasana diaspora seolah tidak ada komunitas. Pertemuan 2-3 umat dalam jarak yang berjauhan akan dialami, dirasakan, dinikmati sebagai kesempatan, karunia, dan rahmat yang tak ternilai. Relasi iman akan erat terjalin, pertemuan sering diadakan sebagai salah satu wujud saling merindukan, saling menguatkan, saling peduli, saling mengasihi.

info lebih lengkap, klik: http://www.trinitas.or.id/informasi/sejarah-paroki-cengkareng

INFO PAMERAN
Dapatkan Diskon hingga 25 % untuk buku-buku Penerbit OBOR
Dapatkan pula benda-benda devosi berkualitas dalam pameran kali ini di depan gereja usai misa

Saturday October 23, 2010
Start: 17:00
Start: 10/23/2010 - 17:00
End: 10/24/2010 - 20:00

Sekilas Sejarah Gereja Santo Ignatius Cimahi

Tahun 1908 merupakan tonggak utama sejarah pelayanan gereja katolik Cimahi di mana pada tahun tersebut bangunan gereja yang didirikan oleh para imam dari ordo Serikat Jesus (SJ) secara resmi menggunakan nama pendiri ordo tersebut, Santo Ignasius Loyola (1491~1556) sebagai nama pelindung gereja yang terletak di Jalan Baros No. 8. Cimahi.

Namun demikian agama katolik atau umat yang beragama katolik di Cimahi, sudah ada jauh sebelum tahun 1908. Mereka bukan penduduk asli tetapi mereka mula-mula adalah para pendatang yang berasal dari negeri Belanda maupun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka ditugaskan di Cimahi sebagai tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun sebagai Tentara Pemerintahan Hindia Belanda (KNIL). Jadi pengambilan tahun 1908 sebagai tonggak bukanlah tahun dimana untuk pertama kali ada umat katolik di Cimahi tetapi tahun dimana untuk pertama kalinya digunakan nama St. Ignatius Loyola untuk gedung gereja yang dibangun di Cimahi yang pada tahun 2008 berusia 100 tahun.

Bahwa umat katolik Cimahi sudah ada sebelum tahun 1908 dapat dibuktikan dengan adanya berbagai pelayanan yang diberikan kepada umat, dan pembangunan gedung gereja yang dilakukan oleh pastor-pastor SJ. Kedatangan pastor-pastor SJ ke Cimahi bersamaan dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer Hindia Belanda sebagai bagian dari wilayah pertahanan militer kolonial Belanda di tanah Priangan.

Cimahi Kota Militer
Sejak masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), Cimahi direncanakan untuk dijadikan sebagai daerah pangkalan militer Pemerintah Hindia Belanda guna membantu pertahanan militer di pulau Jawa. Dipilihnya Cimahi sebagai daerah pangkalan militer dengan pertimbangan; letak geografisnya yang strategis, berada di daerah pedalaman yang dilalui jalur rel kereta api maupun jalan raya Bogor – Bandung dan Cikampek serta jalur kereta api Batavia – Bandung. Pada perkembangannya kemudian Cimahi juga merupakan benteng pertahanan untuk menjaga dan melindungi Pangkalan Udara Militer di Andir Bandung.

Untuk mewujudkan Cimahi menjadi kota militer, berbagai sarana penunjang seperti Kompleks Perumahan Perwira (di Jalan Gedung Empat sekarang), Markas Militer (sekarang Markas Kodim), Rumah Sakit Garnisun (sekarang RS Dustira), barak / tangsi (tersebar, saat ini menjadi berbagai pusat pendidikan TNI AD) Sositeit Perwira dan Penjara Militer (sekarang Rumah Tahanan Militer Poncol) dibangun antara tahun 1886 – 1887.

Cimahi juga merupakan kota markas besar garnisun militer Belanda yang mengawal pertahanan kota Bandung, didukung oleh tiga batalyon yaitu: Infanteri, Genie (Zeni) dan Artileri yang diresmikan pada bulan September 1896 dengan komandan pertamanya Majoor Infanteri C.A. Loenen dan ajudannya Luitenat J. A. Kohler.

Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka terjadilah penempatan tentara dalam jumlah relatif besar, baik Tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun Tentara Hindia Belanda (KNIL) yang kebanyakan berasal dari Flores, Timor, Ambon, Menado dan Jawa. Tidak sedikit di antara keluarga tentara tersebut terdapat keluarga yang beragama katolik.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani umat akan kegiatan beribadah, maka umat katolik yang berasal dari kalangan tentara dilayani oleh pastor tentara (aalmoezenir) sedangkan umat katolik yang bukan tentara dilayani oleh pastor yang berasal dari Cirebon karena sejak tahun 1878 Cirebon menjadi salah satu stasi dari Vikaris (wilayah pelayanan gereja katolik) Batavia yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus Philippus Caspar Van Moorsel SJ. untuk melayani daerah Priangan dan Tegal. Dua tahun kemudian, pada tahun 1880 stasi Cirebon ditingkatkan statusnya menjadi Gereja Cirebon yang diresmikan oleh Uskup Mgr.A.Claessens dan diberi nama pelindung Santo Yosep.

Pada tahun 1895, Mgr. Walterus Staal SJ, Vikaris Apostolik Batavia meresmikan dan memberkati gedung gereja katolik pertama di Bandung yang diberi nama pelindung Santo Fransiskus Regis di sudut Jalan Scoolweg (Sekarang Gedung Bank Indonesia di Jl. Merdeka) dan Jalan Kerkweg (kini Jl. Wastukencana). Gereja tersebut kemudian dijadikan sebagai gedung pertemuan Katoliek Sociale Bond (KSB) setelah gereja Katedral St. Petrus yang terletak diseberangnya (sudut Jalan Jawa dengan Jalan Merdeka) dibangun dan diresmikan pada tanggal tahun 1922 oleh Mgr. E.Luypen.

Pendirian gereja tersebut dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya umat katolik di kota Bandung yang berasal dari kalangan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang beragama katolik. Perkembangan itu terjadi karena sejak tahun 1884 hubungan kereta api antara Bandung dan Batavia semakin intensif sehingga Bandung berkembang menjadi kota besar.

Dengan berdirinya Gereja St. Fransiskus Regis, maka sejak tahun 1907 Bandung menjadi stasi baru dengan pastornya J. Timmers SJ. dan dibantu oleh pastor Fv. Santen SJ, maka umat katolik yang berada di Cimahi dilayani secara lebih intensif oleh kedua pastor tersebut secara bergantian sebulan sekali. Hal ini terjadi karena Cimahi termasuk wilayah stasi Bandung yang semula merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Cirebon. Pada tanggal 13 Februari 1907 Cimahi terpisah dari Cirebon dan berdiri sendiri sebagai stasi. Mengenai perkembangan umat, ada sebuah catatan di buku permandian Paroki St. Yosep Cirebon yang menunjukkan bahwa pada tahun 1903 di Cimahi sudah ada umat yang dipermandikan.

Pembangunan Gedung Gereja

Sebulan sekali perayaan misa ekaristi dipersembahkan di sebuah ruang kelas di Ambonsche School di Tagog (SMP Negeri I Cimahi sekarang). Hal itu dinilai kurang memadai karena kehidupan beragama yang lebih semarak dan bersemangat dinilai sulit dikembangkan dengan sarana yang terbatas tersebut. Melihat kenyataan itu, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus S. Luypens SJ. (1898-1923) menganjurkan agar di daerah-daerah yang ada umat katoliknya, dibangun gedung gereja sebagai identitas diri umat katolik.

Maka pada tahun 1906 dimulai usaha pembangunan gedung gereja di Cimahi di atas sebidang tanah bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda yang lokasinya di pertigaan Baros Weg (Jalan Baros) dan Prins Hendrik Laan (sekarang Jalan Jend. Sudirman).

Dana yang dipakai untuk pembangunan gedung gereja diperoleh dari Dep. Onderwys en Eridienst (Dep. Pendidikan dan Agama) atas prakarsa seorang awam bernama Riviera de Verninas, serta bantuan dari para opsir-opsir bagian Genie/Zeni dan sumbangan dari negeri Belanda.

Pembangunan gedung gereja awal yang luasnya 8 x 16 meter ini, berbentuk lurus dengan fascade (tampak muka) bergaya neo romantic dengan langit-langit dan jendela berbentu melengkung. Altar menyatu dengan tabernakel terbuat dari kayu jati berukir bergaya gothic dengan salib dari baja bertengger di bumbungan gereja. Pada waktu perluasan gereja, salib itu dipindahkan di atas atap pintu utama sebelah selatan sampai sekarang. Pembangunan periode tersebut dilakukan dibawah pengawasan Pastor Martinus Timmers SJ dan Pastor Jacobus van Santen SJ (1907), diteruskan oleh Pastor Joanes Kremer SJ (1908). Pembangunan yang tidak disertai gedung pastoran itu, memakan waktu lebih kurang 2 tahun, selesai pada tanggal 20 Desember 1908 dan mampu menampung umat sebanyak 100 – 150 orang.

Pemberkatan dan Pemberian Nama

Pemberkatan gedung gereja yang dibangun tanpa kupel (menara) itu dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908 oleh Pastor Joanes Kremer SJ dan diberi nama pelindung Santo Ignatius Loyola. Ignasius adalah seorang Santo (orang suci dalam iman katolik) mantan perwira Kerajaan Spanyol yang menjadi imam dan pendiri Ordo Serikat Yesus. Pemberian nama tersebut sangat mungkin berkaitan erat dengan keberadaan kota Cimahi sebagai kota garnisun, gedung gereja yang ada di tengah-tengah perumahan militer dan umat perdananya adalah kalangan militer.

Meskipun pemberkatan dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908, tetapi hari jadi Gereja Santo Ignatius Cimahi diperingati setiap tanggal 31 Juli, sesuai dengan peringatan pesta nama St. Ignatius Loyola.

Pembangunan Perluasan Bangunan Gereja

Seiring dengan berjalannya waktu, maka perkembangan jumlah umat semakin hari semakin bertambah sehingga dirasa perlu untuk memperluas gedung gereja. Pada tanggal 30 April 1925, gedung gereja diperpanjang sehingga ukurannya menjadi 8 x 24 meter.

Sedangkan bentuk gedung gereja seperti salib dengan menara seperti yang ada sekarang, adalah hasil pelebaran yang dilakukan pada tanggal 31 Juli 1930 oleh pastor J. de Rooij OSC. Selain pelebaran gedung gereja, dibangun pula pastoran (rumah tinggal pastor) dan gedung pertemuan yaitu gedung Sugiyapranoto sekarang. Peresmiannya dilakukan oleh Mgr. J. H. Goummans OSC pada tanggal 2 April 1933 bertepatan dengan 25 tahun berdirinya gereja di Cimahi.

Selain berkarya dan memberikan pelayanan di bidang rohani, gereja saat itu telah memberikan pelayanan dibidang sosial, pendidikan dan kesehatan, meskipun masih sangat terbatas.

Berdirinya Paroki St. Ignatius Cimahi

Sebelum serah terima dilakukan, gereja St. Ignatius Cimahi berubah statusnya dari Stasi menjadi Paroki pada tanggal 7 Juni 1928. Meskipun demikian, Paroki baru ini belum memiliki pastoran sehingga belum ada pastor yang tinggal menetap.

Pelayanan terhadap umat masih dilakukan oleh pastor-pastor yang berasal dari Bandung. Pada saat itu jumlah umat tercatat sebanyak lebih kurang 135 orang yang terdiri dari 115Orang Eropa dan 20 orang non Eropa.

Tahun 1928 sekumpulan opsir yang beragama katolik membeli sebuah rumah di daerah Tagog untuk tempat rekreasi dan pertemuan. Rumah tersebut diberi nama Militer te Huis dan kemudian pada tahun 1960 an namanya diganti menjadi Panti Cengkrama. Rumah tersebut akhirnya dihibahkan kepada gereja dan oleh gereja dibangun menjadi gedung serba guna dan Gereja St. Agustinus sampai sekarang.

Pada tahun 1930 Pastor Johanes de Rooij OSC. tinggal dan menetap di Cimahi, mula-mula di daerah Tagog (sekitar daerah apotik Omega sekarang) kemudian pindah ke rumah sewaan di Prins Hendrik Laan (sekarang letaknya di Ubug pas di tusuk sate ujung jalan Oerip Soemoharjo). Ia adalah pastor pertama yang menetap di Cimahi. Setelah kurang lebih 3 tahun bekerja sendiri, kemudian datang pastor Dirk Koster OSC. sebagai pastor pembantu pada tahun 1933, karena semakin luasnya wilayah pelayanan dan umat yang harus dilayani.

Disaat itulah mulai dipikirkan untuk membangun gedung pastoran, gedung pertemuan dan gedung sekolah. Rencana pembangunan gedung sekolah dibatalkan karena lahan yang tersedia kurang luas.

Pembangunan Gedung Pastoran, Gedung Peremuan dan Perluasan Gereja

Pada tanggal 31 Juli 1930 dimulailah upaya pembangunan gedung pastoran dan gedung pertemuan sekaligus perluasan gedung gereja oleh Pastor J. de Rooij, sebagai pastor paroki. Gedung gereja yang semula berukuran 8m x 16m diperluas, ukurannya menjadi 8m x 24m, bentuknya lurus, posisi mengarah ke Timur – Barat dengan pintu utama di sebelah Timur. Gedung pastoran dibangun di sebelah Utara gereja agak ke arah Timur Laut dan digunakan sampai awal tahun 2004. Pastor J. de Rooij adalah pastor paroki pertama yang untuk pertama kalinya menempati pastoran baru tersebut. Sedangkan gedung pertemuan yaitu Gedung A. Sugiyapranoto yang digunakan sampai sekarang dibangun di samping sebelah Timur gereja.

Pada tanggal 20 September 1933 dilakukan peletakan batu pertama pada acara perluasan gedung gereja dilakukan oleh pastor Antonius van Asseldonk. Bangunan gereja yang diperluas berbentuk salib dilengkapi dengan sebuah menara lonceng dan sebuah lonceng besar yang diberi nama Angelus (para malaikat) digantungkan disitu sejak 9 Juni 1935. Pembangunan dilakukan oleh pemborong yang bernama Lim A Goh dari Bandung dibawah pengawasan de Leeuw sebagai toezicht. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan tersebut sekitar 9.000 gulden.

Pada tanggal 2 April 1934, bertepatan dengan Hari Raya Paskah dan 25 tahun gereja St. Ignatius Cimahi, Mgr. Jacobus Hubertus Gouman OSC meresmikan bangunan gereja yang sudah selesai diperluas. Perluasan gedung gereja dilakukan kembali karena umat paroki Cimahi semakin bertambah dan wilayah pelayanan pastoralnya semakin luas.
Gedung gereja yang sudah diperluas bentuknya seperti gedung gereja sekarang ini dan mampu menampung umat sebanyak 500- 600 jemaat.

25 Tahun Gereja Santo Ignatius Cimahi

Peringatan seperempat abad gereja St. Ignatius Cimahi ditandai dengan peresmian perluasan bangunan gereja yang sebelumnya sudah diperluas oleh Mgr. J.H.Gouman OSC. Prefek Apostolik Bandung I yang diangkat pada tanggal 27 Mei 1932 dan dilantik oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Antonius van Velsen SJ. pada tanggal 15 Agustus 1932 di gereja St.Petrus Bandung.

Hal itu terjadi karena sejak tanggal 20 April 1932, berdasarkan Brevis Apostolica Paus Pius XI, wilayah Bandung dipisahkan dari Vikaris Batavia menjadi Perfektus Bandung.

Dalam usianya yang sudah 25 tahun, kegiatan pelayanan diberikan kepada umat khususnya berkaitan dengan permandian, komuni pertama, sakramen penguatan dan perkawinan.

Wilayah pelayanan paroki Cimahi saat itu sangat luas meliputi Purwakarta, Cikampek, Karawang, Pamanukan, Subang dan daerah-daerah disekitarnya. Hal inipun tentu membutuhkan jumlah pelayan/pastor yang memadai. Untuk kebutuhan itu, maka didatangkan seorang pastor pembantu yaitu pastor Dirk Koster OSC.

Masa Menjelang dan Paska Kemerdekaan

Periode 25 tahun kedua atau 31 tahun setelah pastor-pastor OSC berkarya di Cimahi, paroki St. Ignatius mencatat berbagai peristiwa penting yang membawa dampak bagi kemajuan dan perkembangan umat katolik maupun peristiwa yang berdampak tidak menguntungkan. Peristiwa-peristiwa tersebut secara kronologis diuraikan di bawah ini.

Kedatangan Suster-Suster OP dan Tentara KNIL di Cimahi
Menindaklanjuti perlunya sarana pendidikan dalam rangka pengembangan kedewasaan pikiran dan sikap mental umat, maka pastor Johanes de Rooij sebagai pastor paroki menulis surat kepada suster-suster Ordo Santo Dominikus atau Ordo Praedicatorum (OP) yang memiliki biara induk di Cilacap, untuk berkarya di Cimahi. Undangan tersebut mendapat sambutan yang positif, maka pada tanggal 2 Juli 1934 beberapa suster Dominikanes tiba di Cimahi. Mereka bermaksud membeli tanah di daerah Hotel Berglust (dikenal sekarang sebagai Berkles di Jln. Sukimun), tetapi batal dan akhirnya membeli tanah didaerah Baros sekarang dari seorang pemilik yang bernama Timmerman. Di atas lahan itulah dibangun rumah biara dan sebuah local Taman Kanak-Kanak (Frobel School) St. Theresia dan Sekolah Dasar (Largere School) St. Maria. Bangunan tersebut masih terbuat dari bilik bambu dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1934, sedangkan kompleks bangunan yang permanent baru dibangun pada tanggal 23 Mei 1935 di mana Uskup Bandung, Mgr.J.H.Goumans OSC meletakkan batu pertama pada pembangunan Sekolah Katolik dan Kapel Suster Dominikanes tersebut. Setelah pembangunan selesai, kompleks sekolah dan kapel baru tersebut diberkati pada tanggal 12 Agustus 1935 oleh Mgr. J.H. Goumans OSC.

Pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh para suster Dominikanes, semakin hari semakin berkembang. Oleh karena itu untuk melayani pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar, perlu ada ruangan kelas yang baru. Menyadari akan adanya kebutuhan tersebut, maka pada tanggal 1Agustus 1938 dibangun Sekolah Dasar yang lokasinya di lapangan biara susteran.

Kemajuan paroki sangat ditunjang oleh umat yang berpendidikan dan terampil dalam mengolah setiap persoalan hidup menggereja ditengah-tengah masyarakat. Untuk hal itu, maka generasi muda gereja harus dibekali dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Supaya generasi muda gereja memiliki keterampilan praktis dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi, paling tidak untuk kepentingannya, maka pada tanggal 15 Agustus 1940 didirikan dan diresmikan sebuah sekolah kejuruan.

Selain kedatangan suster-suster OP, pada tahun yang sama datang pula tentara KNIL dari Menado, Flores dan Jawa beserta keluarganya yang ditugaskan di Cimahi. Kedatangan mereka mengakibatkan jumlah umat katolik di paroki semakin bertambah karena banyak diantara mereka yang beragama katolik. Tugas pembinaan rohani anggota KNIL dilakukan oleh pastor Leenders OSC. sebagai pastor tentara yang datang ke Cimahi pada tahun 1937 menggantikan pastor Antonius Kooyman OSC.

Pendudukan Balatentara Jepang

Invasi balatentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, mengakibatkan wilayah Indonesia dikuasai oleh pemerintah Jepang. Pada bulan Maret 1942 tentara Jepang masuk dan menguasai kota Bandung dan juga kota Cimahi. Pendudukan Jepang mendatangkan kesulitan bagi gereja karena para pastor dan suster banyak yang ditawan dan dipenjarakan, gereja dijadikan sebagai gudang logistik, kegiatan peribadatan umat dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena dilarang, termasuk membunyikan lonceng “Angelus”di gereja setiap pukul 12.00. Larangan itu terjadi karena gereja tetap membunyikan lonceng Angelus setiap pukul 13.30, padahal sejak tanggal 23 Maret 1942, Waktu Jawa dihapus dan diganti oleh Waktu Nippon yang selisihnya maju 1,5 jam, maka pihak Jepang menyadari bahwa gereja masih tetap menggunakan waktu Jawa.

Gedung gereja dan pastoran dijadikan markas dan gudang logistik bagi tentara Jepang. Pastor Bart Leenders dan Pastor Scheerder ditawan dan dipenjarakan. Setelah beberapa kali pindah kamp tawanan, akhirnya mereka ditawan di Kamp IV (sekarang Pusdikhub, sebelah utara Kantor Pos Cimahi). Dengan ditawannya para pastor, maka pelayanan umat diseluruh Vikariat Bandung dilakukan oleh pastor H. Reichert, satu-satunya pastor asing yang tidak ditawan dan dipenjarakan. Ini adalah suatu tugas dan tanggung jawab yang hampir berada di luar bataskemampuan manusia untuk mempertahankan Gereja Katolik. Pada tanggal 5 April 1943, salah seorang pastor yang ditawan di Cimahi yaitu pastor A. van Dijk meninggal dunia.

Pada masa sulit tersebut, seorang katekis awam yang bernama Pedro Mawi Amang yang berasal dari Flores, sempat mengurusi dan memberikan pelayanan rohani pada umat, sampai akhirnya ketika sedang memimpin perayaan ibadat, tentara Jepang menangkapnya dan kemudian membunuhnya. Ia menjadi semacam martir bagi umat paroki Cimahi. Beberapa suster pribumi yang tidak ditawan yaitu Sr. Clara dan Pst. Padmawidjaja MSC. dari Vikariat Purwokerto sempat memberikan pelayanan pada umat, bahkan mempermandikan beberapa umat di Cimahi.

Penataan Paroki Setelah Kemerdekaan

Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, para pastor dan suster yang ditawan dan dipenjarakan oleh Jepang, dibebaskan. Pastor Bart Leender, setelah dibebaskan kembali ke Cimahi, ia dihadapkan pada kondisi gedung gereja dan pastoran yang porak poranda serta umat yang tercerai berai. Ia berusaha membenahi dan memperbaiki kerusakan, tetapi karena situasi kota Cimahi yang tidak aman, maka ia memutuskan kembali ke kamp tawanan untuk mengamankan diri dan menunggu sampai situasi aman.

Sekitar bulan Juli 1946, keadaan kota Cimahi mulai aman, maka pastor Bart Leender dengan bantuan militer Belanda, memperbaiki gereja dan pastoran tetapi sekolah belum dapat dibuka kembali, karena Suster-suster Dominikanes belum kembali ke Cimahi. Baru pada tanggal 1 September 1947 suster-suster Dominikanes mulai membuka Sekolah Dasar St. Yusuf (satu kompleks bangunan dengan SD Santa Maria) dan pada tanggal 1 November 1947 sekolah kejuruan mulai dibuka kembali.

Pada tahun 1947 pastor Jan Dohne OSC (umat asli Cimahi yang menjadi pastor pertama) menggantikan pastor Anton Kooyman OSC dan pastor Reiner Kloeg OSC yang adalah pastor tentara. Kesulitan yang dialami para pastor baru ini adalah penggunaan bahasa Indonesia/Melayu saat memberi homili. Penggunaan tata bahasa yang tidak teratur, pemakaian kata yang tidak tepat, sering mengakibatkan timbulnya salah pengertian dalam berkomunikasi. Tetapi meskipun demikian, umat dapat menerima kekurangan tersebut.

Upaya penataan kembali kehidupan menggereja di paroki Cimahi berlangsung sampai dengan tahun 1950-an. Walaupun upaya ini dirasa berjalan lambat, tetapi sedikit demi sedikit berbagai persoalan yang dihadapi seperti tersebut di atas, dapat diselesaikan berkat bantuan dari semua pihak yang sangat peduli terhadap perkembangan kehidupan menggereja di kota Cimahi yang lebih baik.

Pemulangan Tentara Belanda (KL) Ke Negeri Belanda
Sebagai kota militer, Cimahi menjadi sangat peka terhadap perubahan situasi politik yang terjadi baik di pusat maupun di daerah. Hal itu dapat dilihat selama kurun waktu 1950-1960 yang ditandai dengan terjadinya berbagai peristiwa seperti pemberontakan DI/TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo, perkembangan partai komunis yang semakin kuat dan konflik Irian Barat antar pemerintah Indonesia dan Belanda. Peristiwa-peristiwa tersebut membawa dampak terhadap kehidupan menggereja di paroki Cimahi.
Terjadinya konflik antara pemerintah Indonesia dan Belanda karena Belanda belum mau mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang sudah merdeka, mengakibatkan terjadinya pemulangan Tentara Belanda sehingga jumlah umat paroki Cimahi menjadi berkurang Pada tahun 1950an, umat paroki berkurang sangat mencolok dari jumlah 2400 umat berkurang menjadi tinggal 600 orang.

Namun sebaliknya, kedatangan TNI dan keluarganya ke Cimahi kemudian, membawa pengaruh yang cukup besar pada perkembangan umat di paroki Cimahi, karena diantara keluarga tersebut ada yang beragama katolik dan mereka mulai aktif terlibat dalam kehidupan menggereja.

Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh suster-suster Dominikanes sebagai salah satu bentuk pelayanan di bidang pendidikan terhadap umat di paroki Cimahi, terlebih setelah dibukanya SMP St. Mikael pada tanggal 1 Agustus 1950, membawa implikasi bagi terbentuknya Persatuan Guru Katolik di Cimahi.

Demikianlah sekilas perjalanan sejarah Gereja Katolik Santo Ignasius meretas masa-masa awal yang penuh gejolak yang tidak sedikit menuntut dan menyita pengorbanan yang luar biasa dari para pelakunya. Namun hal ini menjadi batu karang yang kokoh bagi landasan bangunan hidup menggereja umat dan para gembalanya.

Tidak sepesat perubahan bangunan dan prasarananya, perkembangan kehidupan menggereja umat lebih mewarnai perkembangan Gereja Katolik utama dan pertama di Kota Cimahi yang pemerintahannya tahun ini genap berusia 6 tahun. Berbagai organisasi, baik yang menjadi bagian internal gereja, maupun organisasi atau kelompok yang berafiliasi dengan gereja, semakin hari semakin mewujud dan senantiasa bergerak menjalankan misinya masing-masing yang pada akhirnya bermuara pada pelayanan sesama untuk semakin memuliakan Allah. Saat ini umat katolik Cimahi berjumlah lebih dari 2750 keluarga dengan jumlah umat sekitar 8000 jiwa.

Adapun daerah cakupan pelayanan Paroki Santo Ignasius Cimahi adalah:

* Sebelah Utara: berbatasan dengan Lembang Bandung (Kel. Cisarua)
* Sebelah Timur: berbatasan dengan Paroki Waringin dan Paroki Pandu (Ciwaruga)
* Sebelah Selatan: Sungai Citarum (Nanjung)
* Sebelah Barat: berbatasan dengan Paroki Cianjur (Rajamandala) dan Paroki Purwakarta (Plered)

Dalam cakupan wilayah yang luas tersebut, keragaman etnis memperkaya kehidupan hidup menggereja di Paroki Cimahi ini. Dari jumlah 2750 keluarga, di antaranya berasal dari berbagai etnis, seperti Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Manado, Ambon, Flores, Timor, Papua dan Tionghoa.

Seluruh umat dalam paroki ini dilayani oleh empat orang pastor. Sebagai Pastor Kepala adalah Pastor Aloysius Supandoyo OSC., yang dibantu oleh Pastor Ignasius Putranto OSC.

http://ignatiuscimahi.blogspot.com/

Jadual Misa:
Misa Sabtu: 17.00 (Di Aula Agustinus), Misa Minggu: 05:30, 07:30, 09:30, 17:00

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon buku hingga 2 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula Benda Devisu berkualitas dalam pameran ini usai misa minggu ini.
Tuhan memberkati

Sunday October 24, 2010
End: 20:00
Start: 10/23/2010 - 17:00
End: 10/24/2010 - 20:00

Sekilas Sejarah Gereja Santo Ignatius Cimahi

Tahun 1908 merupakan tonggak utama sejarah pelayanan gereja katolik Cimahi di mana pada tahun tersebut bangunan gereja yang didirikan oleh para imam dari ordo Serikat Jesus (SJ) secara resmi menggunakan nama pendiri ordo tersebut, Santo Ignasius Loyola (1491~1556) sebagai nama pelindung gereja yang terletak di Jalan Baros No. 8. Cimahi.

Namun demikian agama katolik atau umat yang beragama katolik di Cimahi, sudah ada jauh sebelum tahun 1908. Mereka bukan penduduk asli tetapi mereka mula-mula adalah para pendatang yang berasal dari negeri Belanda maupun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka ditugaskan di Cimahi sebagai tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun sebagai Tentara Pemerintahan Hindia Belanda (KNIL). Jadi pengambilan tahun 1908 sebagai tonggak bukanlah tahun dimana untuk pertama kali ada umat katolik di Cimahi tetapi tahun dimana untuk pertama kalinya digunakan nama St. Ignatius Loyola untuk gedung gereja yang dibangun di Cimahi yang pada tahun 2008 berusia 100 tahun.

Bahwa umat katolik Cimahi sudah ada sebelum tahun 1908 dapat dibuktikan dengan adanya berbagai pelayanan yang diberikan kepada umat, dan pembangunan gedung gereja yang dilakukan oleh pastor-pastor SJ. Kedatangan pastor-pastor SJ ke Cimahi bersamaan dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer Hindia Belanda sebagai bagian dari wilayah pertahanan militer kolonial Belanda di tanah Priangan.

Cimahi Kota Militer
Sejak masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), Cimahi direncanakan untuk dijadikan sebagai daerah pangkalan militer Pemerintah Hindia Belanda guna membantu pertahanan militer di pulau Jawa. Dipilihnya Cimahi sebagai daerah pangkalan militer dengan pertimbangan; letak geografisnya yang strategis, berada di daerah pedalaman yang dilalui jalur rel kereta api maupun jalan raya Bogor – Bandung dan Cikampek serta jalur kereta api Batavia – Bandung. Pada perkembangannya kemudian Cimahi juga merupakan benteng pertahanan untuk menjaga dan melindungi Pangkalan Udara Militer di Andir Bandung.

Untuk mewujudkan Cimahi menjadi kota militer, berbagai sarana penunjang seperti Kompleks Perumahan Perwira (di Jalan Gedung Empat sekarang), Markas Militer (sekarang Markas Kodim), Rumah Sakit Garnisun (sekarang RS Dustira), barak / tangsi (tersebar, saat ini menjadi berbagai pusat pendidikan TNI AD) Sositeit Perwira dan Penjara Militer (sekarang Rumah Tahanan Militer Poncol) dibangun antara tahun 1886 – 1887.

Cimahi juga merupakan kota markas besar garnisun militer Belanda yang mengawal pertahanan kota Bandung, didukung oleh tiga batalyon yaitu: Infanteri, Genie (Zeni) dan Artileri yang diresmikan pada bulan September 1896 dengan komandan pertamanya Majoor Infanteri C.A. Loenen dan ajudannya Luitenat J. A. Kohler.

Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka terjadilah penempatan tentara dalam jumlah relatif besar, baik Tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun Tentara Hindia Belanda (KNIL) yang kebanyakan berasal dari Flores, Timor, Ambon, Menado dan Jawa. Tidak sedikit di antara keluarga tentara tersebut terdapat keluarga yang beragama katolik.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani umat akan kegiatan beribadah, maka umat katolik yang berasal dari kalangan tentara dilayani oleh pastor tentara (aalmoezenir) sedangkan umat katolik yang bukan tentara dilayani oleh pastor yang berasal dari Cirebon karena sejak tahun 1878 Cirebon menjadi salah satu stasi dari Vikaris (wilayah pelayanan gereja katolik) Batavia yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus Philippus Caspar Van Moorsel SJ. untuk melayani daerah Priangan dan Tegal. Dua tahun kemudian, pada tahun 1880 stasi Cirebon ditingkatkan statusnya menjadi Gereja Cirebon yang diresmikan oleh Uskup Mgr.A.Claessens dan diberi nama pelindung Santo Yosep.

Pada tahun 1895, Mgr. Walterus Staal SJ, Vikaris Apostolik Batavia meresmikan dan memberkati gedung gereja katolik pertama di Bandung yang diberi nama pelindung Santo Fransiskus Regis di sudut Jalan Scoolweg (Sekarang Gedung Bank Indonesia di Jl. Merdeka) dan Jalan Kerkweg (kini Jl. Wastukencana). Gereja tersebut kemudian dijadikan sebagai gedung pertemuan Katoliek Sociale Bond (KSB) setelah gereja Katedral St. Petrus yang terletak diseberangnya (sudut Jalan Jawa dengan Jalan Merdeka) dibangun dan diresmikan pada tanggal tahun 1922 oleh Mgr. E.Luypen.

Pendirian gereja tersebut dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya umat katolik di kota Bandung yang berasal dari kalangan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang beragama katolik. Perkembangan itu terjadi karena sejak tahun 1884 hubungan kereta api antara Bandung dan Batavia semakin intensif sehingga Bandung berkembang menjadi kota besar.

Dengan berdirinya Gereja St. Fransiskus Regis, maka sejak tahun 1907 Bandung menjadi stasi baru dengan pastornya J. Timmers SJ. dan dibantu oleh pastor Fv. Santen SJ, maka umat katolik yang berada di Cimahi dilayani secara lebih intensif oleh kedua pastor tersebut secara bergantian sebulan sekali. Hal ini terjadi karena Cimahi termasuk wilayah stasi Bandung yang semula merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Cirebon. Pada tanggal 13 Februari 1907 Cimahi terpisah dari Cirebon dan berdiri sendiri sebagai stasi. Mengenai perkembangan umat, ada sebuah catatan di buku permandian Paroki St. Yosep Cirebon yang menunjukkan bahwa pada tahun 1903 di Cimahi sudah ada umat yang dipermandikan.

Pembangunan Gedung Gereja

Sebulan sekali perayaan misa ekaristi dipersembahkan di sebuah ruang kelas di Ambonsche School di Tagog (SMP Negeri I Cimahi sekarang). Hal itu dinilai kurang memadai karena kehidupan beragama yang lebih semarak dan bersemangat dinilai sulit dikembangkan dengan sarana yang terbatas tersebut. Melihat kenyataan itu, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus S. Luypens SJ. (1898-1923) menganjurkan agar di daerah-daerah yang ada umat katoliknya, dibangun gedung gereja sebagai identitas diri umat katolik.

Maka pada tahun 1906 dimulai usaha pembangunan gedung gereja di Cimahi di atas sebidang tanah bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda yang lokasinya di pertigaan Baros Weg (Jalan Baros) dan Prins Hendrik Laan (sekarang Jalan Jend. Sudirman).

Dana yang dipakai untuk pembangunan gedung gereja diperoleh dari Dep. Onderwys en Eridienst (Dep. Pendidikan dan Agama) atas prakarsa seorang awam bernama Riviera de Verninas, serta bantuan dari para opsir-opsir bagian Genie/Zeni dan sumbangan dari negeri Belanda.

Pembangunan gedung gereja awal yang luasnya 8 x 16 meter ini, berbentuk lurus dengan fascade (tampak muka) bergaya neo romantic dengan langit-langit dan jendela berbentu melengkung. Altar menyatu dengan tabernakel terbuat dari kayu jati berukir bergaya gothic dengan salib dari baja bertengger di bumbungan gereja. Pada waktu perluasan gereja, salib itu dipindahkan di atas atap pintu utama sebelah selatan sampai sekarang. Pembangunan periode tersebut dilakukan dibawah pengawasan Pastor Martinus Timmers SJ dan Pastor Jacobus van Santen SJ (1907), diteruskan oleh Pastor Joanes Kremer SJ (1908). Pembangunan yang tidak disertai gedung pastoran itu, memakan waktu lebih kurang 2 tahun, selesai pada tanggal 20 Desember 1908 dan mampu menampung umat sebanyak 100 – 150 orang.

Pemberkatan dan Pemberian Nama

Pemberkatan gedung gereja yang dibangun tanpa kupel (menara) itu dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908 oleh Pastor Joanes Kremer SJ dan diberi nama pelindung Santo Ignatius Loyola. Ignasius adalah seorang Santo (orang suci dalam iman katolik) mantan perwira Kerajaan Spanyol yang menjadi imam dan pendiri Ordo Serikat Yesus. Pemberian nama tersebut sangat mungkin berkaitan erat dengan keberadaan kota Cimahi sebagai kota garnisun, gedung gereja yang ada di tengah-tengah perumahan militer dan umat perdananya adalah kalangan militer.

Meskipun pemberkatan dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908, tetapi hari jadi Gereja Santo Ignatius Cimahi diperingati setiap tanggal 31 Juli, sesuai dengan peringatan pesta nama St. Ignatius Loyola.

Pembangunan Perluasan Bangunan Gereja

Seiring dengan berjalannya waktu, maka perkembangan jumlah umat semakin hari semakin bertambah sehingga dirasa perlu untuk memperluas gedung gereja. Pada tanggal 30 April 1925, gedung gereja diperpanjang sehingga ukurannya menjadi 8 x 24 meter.

Sedangkan bentuk gedung gereja seperti salib dengan menara seperti yang ada sekarang, adalah hasil pelebaran yang dilakukan pada tanggal 31 Juli 1930 oleh pastor J. de Rooij OSC. Selain pelebaran gedung gereja, dibangun pula pastoran (rumah tinggal pastor) dan gedung pertemuan yaitu gedung Sugiyapranoto sekarang. Peresmiannya dilakukan oleh Mgr. J. H. Goummans OSC pada tanggal 2 April 1933 bertepatan dengan 25 tahun berdirinya gereja di Cimahi.

Selain berkarya dan memberikan pelayanan di bidang rohani, gereja saat itu telah memberikan pelayanan dibidang sosial, pendidikan dan kesehatan, meskipun masih sangat terbatas.

Berdirinya Paroki St. Ignatius Cimahi

Sebelum serah terima dilakukan, gereja St. Ignatius Cimahi berubah statusnya dari Stasi menjadi Paroki pada tanggal 7 Juni 1928. Meskipun demikian, Paroki baru ini belum memiliki pastoran sehingga belum ada pastor yang tinggal menetap.

Pelayanan terhadap umat masih dilakukan oleh pastor-pastor yang berasal dari Bandung. Pada saat itu jumlah umat tercatat sebanyak lebih kurang 135 orang yang terdiri dari 115Orang Eropa dan 20 orang non Eropa.

Tahun 1928 sekumpulan opsir yang beragama katolik membeli sebuah rumah di daerah Tagog untuk tempat rekreasi dan pertemuan. Rumah tersebut diberi nama Militer te Huis dan kemudian pada tahun 1960 an namanya diganti menjadi Panti Cengkrama. Rumah tersebut akhirnya dihibahkan kepada gereja dan oleh gereja dibangun menjadi gedung serba guna dan Gereja St. Agustinus sampai sekarang.

Pada tahun 1930 Pastor Johanes de Rooij OSC. tinggal dan menetap di Cimahi, mula-mula di daerah Tagog (sekitar daerah apotik Omega sekarang) kemudian pindah ke rumah sewaan di Prins Hendrik Laan (sekarang letaknya di Ubug pas di tusuk sate ujung jalan Oerip Soemoharjo). Ia adalah pastor pertama yang menetap di Cimahi. Setelah kurang lebih 3 tahun bekerja sendiri, kemudian datang pastor Dirk Koster OSC. sebagai pastor pembantu pada tahun 1933, karena semakin luasnya wilayah pelayanan dan umat yang harus dilayani.

Disaat itulah mulai dipikirkan untuk membangun gedung pastoran, gedung pertemuan dan gedung sekolah. Rencana pembangunan gedung sekolah dibatalkan karena lahan yang tersedia kurang luas.

Pembangunan Gedung Pastoran, Gedung Peremuan dan Perluasan Gereja

Pada tanggal 31 Juli 1930 dimulailah upaya pembangunan gedung pastoran dan gedung pertemuan sekaligus perluasan gedung gereja oleh Pastor J. de Rooij, sebagai pastor paroki. Gedung gereja yang semula berukuran 8m x 16m diperluas, ukurannya menjadi 8m x 24m, bentuknya lurus, posisi mengarah ke Timur – Barat dengan pintu utama di sebelah Timur. Gedung pastoran dibangun di sebelah Utara gereja agak ke arah Timur Laut dan digunakan sampai awal tahun 2004. Pastor J. de Rooij adalah pastor paroki pertama yang untuk pertama kalinya menempati pastoran baru tersebut. Sedangkan gedung pertemuan yaitu Gedung A. Sugiyapranoto yang digunakan sampai sekarang dibangun di samping sebelah Timur gereja.

Pada tanggal 20 September 1933 dilakukan peletakan batu pertama pada acara perluasan gedung gereja dilakukan oleh pastor Antonius van Asseldonk. Bangunan gereja yang diperluas berbentuk salib dilengkapi dengan sebuah menara lonceng dan sebuah lonceng besar yang diberi nama Angelus (para malaikat) digantungkan disitu sejak 9 Juni 1935. Pembangunan dilakukan oleh pemborong yang bernama Lim A Goh dari Bandung dibawah pengawasan de Leeuw sebagai toezicht. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan tersebut sekitar 9.000 gulden.

Pada tanggal 2 April 1934, bertepatan dengan Hari Raya Paskah dan 25 tahun gereja St. Ignatius Cimahi, Mgr. Jacobus Hubertus Gouman OSC meresmikan bangunan gereja yang sudah selesai diperluas. Perluasan gedung gereja dilakukan kembali karena umat paroki Cimahi semakin bertambah dan wilayah pelayanan pastoralnya semakin luas.
Gedung gereja yang sudah diperluas bentuknya seperti gedung gereja sekarang ini dan mampu menampung umat sebanyak 500- 600 jemaat.

25 Tahun Gereja Santo Ignatius Cimahi

Peringatan seperempat abad gereja St. Ignatius Cimahi ditandai dengan peresmian perluasan bangunan gereja yang sebelumnya sudah diperluas oleh Mgr. J.H.Gouman OSC. Prefek Apostolik Bandung I yang diangkat pada tanggal 27 Mei 1932 dan dilantik oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Antonius van Velsen SJ. pada tanggal 15 Agustus 1932 di gereja St.Petrus Bandung.

Hal itu terjadi karena sejak tanggal 20 April 1932, berdasarkan Brevis Apostolica Paus Pius XI, wilayah Bandung dipisahkan dari Vikaris Batavia menjadi Perfektus Bandung.

Dalam usianya yang sudah 25 tahun, kegiatan pelayanan diberikan kepada umat khususnya berkaitan dengan permandian, komuni pertama, sakramen penguatan dan perkawinan.

Wilayah pelayanan paroki Cimahi saat itu sangat luas meliputi Purwakarta, Cikampek, Karawang, Pamanukan, Subang dan daerah-daerah disekitarnya. Hal inipun tentu membutuhkan jumlah pelayan/pastor yang memadai. Untuk kebutuhan itu, maka didatangkan seorang pastor pembantu yaitu pastor Dirk Koster OSC.

Masa Menjelang dan Paska Kemerdekaan

Periode 25 tahun kedua atau 31 tahun setelah pastor-pastor OSC berkarya di Cimahi, paroki St. Ignatius mencatat berbagai peristiwa penting yang membawa dampak bagi kemajuan dan perkembangan umat katolik maupun peristiwa yang berdampak tidak menguntungkan. Peristiwa-peristiwa tersebut secara kronologis diuraikan di bawah ini.

Kedatangan Suster-Suster OP dan Tentara KNIL di Cimahi
Menindaklanjuti perlunya sarana pendidikan dalam rangka pengembangan kedewasaan pikiran dan sikap mental umat, maka pastor Johanes de Rooij sebagai pastor paroki menulis surat kepada suster-suster Ordo Santo Dominikus atau Ordo Praedicatorum (OP) yang memiliki biara induk di Cilacap, untuk berkarya di Cimahi. Undangan tersebut mendapat sambutan yang positif, maka pada tanggal 2 Juli 1934 beberapa suster Dominikanes tiba di Cimahi. Mereka bermaksud membeli tanah di daerah Hotel Berglust (dikenal sekarang sebagai Berkles di Jln. Sukimun), tetapi batal dan akhirnya membeli tanah didaerah Baros sekarang dari seorang pemilik yang bernama Timmerman. Di atas lahan itulah dibangun rumah biara dan sebuah local Taman Kanak-Kanak (Frobel School) St. Theresia dan Sekolah Dasar (Largere School) St. Maria. Bangunan tersebut masih terbuat dari bilik bambu dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1934, sedangkan kompleks bangunan yang permanent baru dibangun pada tanggal 23 Mei 1935 di mana Uskup Bandung, Mgr.J.H.Goumans OSC meletakkan batu pertama pada pembangunan Sekolah Katolik dan Kapel Suster Dominikanes tersebut. Setelah pembangunan selesai, kompleks sekolah dan kapel baru tersebut diberkati pada tanggal 12 Agustus 1935 oleh Mgr. J.H. Goumans OSC.

Pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh para suster Dominikanes, semakin hari semakin berkembang. Oleh karena itu untuk melayani pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar, perlu ada ruangan kelas yang baru. Menyadari akan adanya kebutuhan tersebut, maka pada tanggal 1Agustus 1938 dibangun Sekolah Dasar yang lokasinya di lapangan biara susteran.

Kemajuan paroki sangat ditunjang oleh umat yang berpendidikan dan terampil dalam mengolah setiap persoalan hidup menggereja ditengah-tengah masyarakat. Untuk hal itu, maka generasi muda gereja harus dibekali dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Supaya generasi muda gereja memiliki keterampilan praktis dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi, paling tidak untuk kepentingannya, maka pada tanggal 15 Agustus 1940 didirikan dan diresmikan sebuah sekolah kejuruan.

Selain kedatangan suster-suster OP, pada tahun yang sama datang pula tentara KNIL dari Menado, Flores dan Jawa beserta keluarganya yang ditugaskan di Cimahi. Kedatangan mereka mengakibatkan jumlah umat katolik di paroki semakin bertambah karena banyak diantara mereka yang beragama katolik. Tugas pembinaan rohani anggota KNIL dilakukan oleh pastor Leenders OSC. sebagai pastor tentara yang datang ke Cimahi pada tahun 1937 menggantikan pastor Antonius Kooyman OSC.

Pendudukan Balatentara Jepang

Invasi balatentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, mengakibatkan wilayah Indonesia dikuasai oleh pemerintah Jepang. Pada bulan Maret 1942 tentara Jepang masuk dan menguasai kota Bandung dan juga kota Cimahi. Pendudukan Jepang mendatangkan kesulitan bagi gereja karena para pastor dan suster banyak yang ditawan dan dipenjarakan, gereja dijadikan sebagai gudang logistik, kegiatan peribadatan umat dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena dilarang, termasuk membunyikan lonceng “Angelus”di gereja setiap pukul 12.00. Larangan itu terjadi karena gereja tetap membunyikan lonceng Angelus setiap pukul 13.30, padahal sejak tanggal 23 Maret 1942, Waktu Jawa dihapus dan diganti oleh Waktu Nippon yang selisihnya maju 1,5 jam, maka pihak Jepang menyadari bahwa gereja masih tetap menggunakan waktu Jawa.

Gedung gereja dan pastoran dijadikan markas dan gudang logistik bagi tentara Jepang. Pastor Bart Leenders dan Pastor Scheerder ditawan dan dipenjarakan. Setelah beberapa kali pindah kamp tawanan, akhirnya mereka ditawan di Kamp IV (sekarang Pusdikhub, sebelah utara Kantor Pos Cimahi). Dengan ditawannya para pastor, maka pelayanan umat diseluruh Vikariat Bandung dilakukan oleh pastor H. Reichert, satu-satunya pastor asing yang tidak ditawan dan dipenjarakan. Ini adalah suatu tugas dan tanggung jawab yang hampir berada di luar bataskemampuan manusia untuk mempertahankan Gereja Katolik. Pada tanggal 5 April 1943, salah seorang pastor yang ditawan di Cimahi yaitu pastor A. van Dijk meninggal dunia.

Pada masa sulit tersebut, seorang katekis awam yang bernama Pedro Mawi Amang yang berasal dari Flores, sempat mengurusi dan memberikan pelayanan rohani pada umat, sampai akhirnya ketika sedang memimpin perayaan ibadat, tentara Jepang menangkapnya dan kemudian membunuhnya. Ia menjadi semacam martir bagi umat paroki Cimahi. Beberapa suster pribumi yang tidak ditawan yaitu Sr. Clara dan Pst. Padmawidjaja MSC. dari Vikariat Purwokerto sempat memberikan pelayanan pada umat, bahkan mempermandikan beberapa umat di Cimahi.

Penataan Paroki Setelah Kemerdekaan

Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, para pastor dan suster yang ditawan dan dipenjarakan oleh Jepang, dibebaskan. Pastor Bart Leender, setelah dibebaskan kembali ke Cimahi, ia dihadapkan pada kondisi gedung gereja dan pastoran yang porak poranda serta umat yang tercerai berai. Ia berusaha membenahi dan memperbaiki kerusakan, tetapi karena situasi kota Cimahi yang tidak aman, maka ia memutuskan kembali ke kamp tawanan untuk mengamankan diri dan menunggu sampai situasi aman.

Sekitar bulan Juli 1946, keadaan kota Cimahi mulai aman, maka pastor Bart Leender dengan bantuan militer Belanda, memperbaiki gereja dan pastoran tetapi sekolah belum dapat dibuka kembali, karena Suster-suster Dominikanes belum kembali ke Cimahi. Baru pada tanggal 1 September 1947 suster-suster Dominikanes mulai membuka Sekolah Dasar St. Yusuf (satu kompleks bangunan dengan SD Santa Maria) dan pada tanggal 1 November 1947 sekolah kejuruan mulai dibuka kembali.

Pada tahun 1947 pastor Jan Dohne OSC (umat asli Cimahi yang menjadi pastor pertama) menggantikan pastor Anton Kooyman OSC dan pastor Reiner Kloeg OSC yang adalah pastor tentara. Kesulitan yang dialami para pastor baru ini adalah penggunaan bahasa Indonesia/Melayu saat memberi homili. Penggunaan tata bahasa yang tidak teratur, pemakaian kata yang tidak tepat, sering mengakibatkan timbulnya salah pengertian dalam berkomunikasi. Tetapi meskipun demikian, umat dapat menerima kekurangan tersebut.

Upaya penataan kembali kehidupan menggereja di paroki Cimahi berlangsung sampai dengan tahun 1950-an. Walaupun upaya ini dirasa berjalan lambat, tetapi sedikit demi sedikit berbagai persoalan yang dihadapi seperti tersebut di atas, dapat diselesaikan berkat bantuan dari semua pihak yang sangat peduli terhadap perkembangan kehidupan menggereja di kota Cimahi yang lebih baik.

Pemulangan Tentara Belanda (KL) Ke Negeri Belanda
Sebagai kota militer, Cimahi menjadi sangat peka terhadap perubahan situasi politik yang terjadi baik di pusat maupun di daerah. Hal itu dapat dilihat selama kurun waktu 1950-1960 yang ditandai dengan terjadinya berbagai peristiwa seperti pemberontakan DI/TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo, perkembangan partai komunis yang semakin kuat dan konflik Irian Barat antar pemerintah Indonesia dan Belanda. Peristiwa-peristiwa tersebut membawa dampak terhadap kehidupan menggereja di paroki Cimahi.
Terjadinya konflik antara pemerintah Indonesia dan Belanda karena Belanda belum mau mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang sudah merdeka, mengakibatkan terjadinya pemulangan Tentara Belanda sehingga jumlah umat paroki Cimahi menjadi berkurang Pada tahun 1950an, umat paroki berkurang sangat mencolok dari jumlah 2400 umat berkurang menjadi tinggal 600 orang.

Namun sebaliknya, kedatangan TNI dan keluarganya ke Cimahi kemudian, membawa pengaruh yang cukup besar pada perkembangan umat di paroki Cimahi, karena diantara keluarga tersebut ada yang beragama katolik dan mereka mulai aktif terlibat dalam kehidupan menggereja.

Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh suster-suster Dominikanes sebagai salah satu bentuk pelayanan di bidang pendidikan terhadap umat di paroki Cimahi, terlebih setelah dibukanya SMP St. Mikael pada tanggal 1 Agustus 1950, membawa implikasi bagi terbentuknya Persatuan Guru Katolik di Cimahi.

Demikianlah sekilas perjalanan sejarah Gereja Katolik Santo Ignasius meretas masa-masa awal yang penuh gejolak yang tidak sedikit menuntut dan menyita pengorbanan yang luar biasa dari para pelakunya. Namun hal ini menjadi batu karang yang kokoh bagi landasan bangunan hidup menggereja umat dan para gembalanya.

Tidak sepesat perubahan bangunan dan prasarananya, perkembangan kehidupan menggereja umat lebih mewarnai perkembangan Gereja Katolik utama dan pertama di Kota Cimahi yang pemerintahannya tahun ini genap berusia 6 tahun. Berbagai organisasi, baik yang menjadi bagian internal gereja, maupun organisasi atau kelompok yang berafiliasi dengan gereja, semakin hari semakin mewujud dan senantiasa bergerak menjalankan misinya masing-masing yang pada akhirnya bermuara pada pelayanan sesama untuk semakin memuliakan Allah. Saat ini umat katolik Cimahi berjumlah lebih dari 2750 keluarga dengan jumlah umat sekitar 8000 jiwa.

Adapun daerah cakupan pelayanan Paroki Santo Ignasius Cimahi adalah:

* Sebelah Utara: berbatasan dengan Lembang Bandung (Kel. Cisarua)
* Sebelah Timur: berbatasan dengan Paroki Waringin dan Paroki Pandu (Ciwaruga)
* Sebelah Selatan: Sungai Citarum (Nanjung)
* Sebelah Barat: berbatasan dengan Paroki Cianjur (Rajamandala) dan Paroki Purwakarta (Plered)

Dalam cakupan wilayah yang luas tersebut, keragaman etnis memperkaya kehidupan hidup menggereja di Paroki Cimahi ini. Dari jumlah 2750 keluarga, di antaranya berasal dari berbagai etnis, seperti Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Manado, Ambon, Flores, Timor, Papua dan Tionghoa.

Seluruh umat dalam paroki ini dilayani oleh empat orang pastor. Sebagai Pastor Kepala adalah Pastor Aloysius Supandoyo OSC., yang dibantu oleh Pastor Ignasius Putranto OSC.

http://ignatiuscimahi.blogspot.com/

Jadual Misa:
Misa Sabtu: 17.00 (Di Aula Agustinus), Misa Minggu: 05:30, 07:30, 09:30, 17:00

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon buku hingga 2 % untuk buku-buku OBOR.
Dapatkan pula Benda Devisu berkualitas dalam pameran ini usai misa minggu ini.
Tuhan memberkati

Saturday October 30, 2010
Start: 17:00
Start: 10/30/2010 - 17:00
End: 10/31/2010 - 20:00

Paroki St. Mikael (Kranji)

Buku baptis dimulai waktu stasi dipisahkan dari Paroki Arnoldus, Bekasi, 1991.

Karena gereja belum ada, maka digunakan gedung serbaguna Strada (1991). Setelah 13 tahun lewat, baru IMB untuk gereja dan poliklinik diperoleh (2004).

Pastor perintis ialah Jan Lali, SVD, dan pastor pertama H. Mulan Tukan, SVD. Sejak awal umat ini digembalakan oleh imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Stasi St. Albertus di Harapan Indah sejak 1997 menyewa sport centre untuk Misa bagi sekitar 5.200 orang beriman, karena ruko yang pernah mereka gunakan dibakar orang.

Alamat Paroki:
Jl. Strada, Kranji
Bekasi
Tel. 884-6838

Biara St. Paulus milik Susteran Pengikut Kristus (CIJ)
Jl. Lapangan RT 001/08
Kranji

Komunitas Rosalia milik Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM)
Jl. Flamboyan Indah Raya
Harapan Indah

Jadwal Misa Kudus di Paroki Kranji:
Sabtu: 17.30 WIB
Minggu: 06.00; 08.00; 17.30 WIB

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon buku hinggu 25 % untuk buku0buku Penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda Devosi berkualitas dalam pameran ini
Tuhan memberkati

Sunday October 31, 2010
End: 20:00
Start: 10/30/2010 - 17:00
End: 10/31/2010 - 20:00

Paroki St. Mikael (Kranji)

Buku baptis dimulai waktu stasi dipisahkan dari Paroki Arnoldus, Bekasi, 1991.

Karena gereja belum ada, maka digunakan gedung serbaguna Strada (1991). Setelah 13 tahun lewat, baru IMB untuk gereja dan poliklinik diperoleh (2004).

Pastor perintis ialah Jan Lali, SVD, dan pastor pertama H. Mulan Tukan, SVD. Sejak awal umat ini digembalakan oleh imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Stasi St. Albertus di Harapan Indah sejak 1997 menyewa sport centre untuk Misa bagi sekitar 5.200 orang beriman, karena ruko yang pernah mereka gunakan dibakar orang.

Alamat Paroki:
Jl. Strada, Kranji
Bekasi
Tel. 884-6838

Biara St. Paulus milik Susteran Pengikut Kristus (CIJ)
Jl. Lapangan RT 001/08
Kranji

Komunitas Rosalia milik Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM)
Jl. Flamboyan Indah Raya
Harapan Indah

Jadwal Misa Kudus di Paroki Kranji:
Sabtu: 17.30 WIB
Minggu: 06.00; 08.00; 17.30 WIB

INFO PAMERAN:
Dapatkan Diskon buku hinggu 25 % untuk buku0buku Penerbit OBOR.
Dapatkan pula Benda Devosi berkualitas dalam pameran ini
Tuhan memberkati

Syndicate content